Senin, 21 November 2016

Gagal, Gagal, dan Gagal

Standard

"Bangzaaaat, ngapain lo semua di sini?! Pulang wooooy, ini hanya duniawi.." begitulah kira-kira kata yg muncul di pikiran gue sewaktu pertama kali ikutan tes kerja. Sekeliling gue penuh dengan orang-orang berkemeja putih, sambil megang tumpukan file, dan muka planga-plongo. 

Btw yang terakhir itu gue.

Gue udah sering denger dari orang ataupun artikel kalau jaman sekarang nyari kerjaan itu susah. Awalnya sempat nggak percaya, tapi begitu ke tempat seleksi,... gue.jadi.sangat.percaya.

Pertama kali ikutan seleksi, waktu itu tepat sehari setelah yudisium di kampus. Di kampus gue, tiap ada yudisium, pasti ada beberapa perusahaan yang buka booth buat nawarin pekerjaan. Saat itu, mungkin ada sekitar 16 perusahaan. Dan saat itu juga, gue hanya tertuju sama satu perusahaan. Yaitu. Perusahaan BUMN. Bank BNI. Iya, cuma BNI doang akhirnya yang gue apply. 

Belagu banget emang.

Waktu pertama kali narok berkas, entah kenapa gue malah deg-degan. Rasanya kayak lagi ngechat gebetan baru yang mantannya kaya kaya gitu. Langsung kepikiran, "Berkas gue dibaca nggak ya?", "Dibales nggak ya?", "Dipanggil tes nggak ya?". Kepikirannya bukan main. Mengingat, gue orangnya suka ceroboh. Gue takut malah salah kirim. Bukannya ke bank BNI, malah ke bank darah.

PMI kali bang ah bank darah.




Untungnya nggak sampai seminggu nunggu, gue dapat panggilan buat tes. Senangnya bukan main. Rasanya kayak gebetan baru kita yang mantannya kaya kaya itu, ternyata orangnya apa adanya. Dan belakangan gue baru tahu, semua perusahaan yang ada di booth kampus, itu semacam golden tiket buat para freshgraduate. Mereka pasti manggil mahasiswanya buat tes, tanpa harus seleksi administrasi. 

Jadi buat kalian yang di kampusnya banyak perusahaan bagus, jangan disia-siakan!

via GIPHY

Pagi-pagi buta pun gue datang ke tempat tes dengan mantap.

Mengantre buat 'daftar ulang' dengan tatapan penuh percaya diri, sambil melihat sekeliling dan sesekali berkata, "Lu musuh gue lu semua. Musuh gue. Musuh gueeee" mengingat waktu ngeliat daftar peserta tes, jumlahnya mencapai 650 orang. Dan sebelumnya gue baca-baca dari Kaskus, ODP cuma nerima sekitar 20 orang. Itu berarti 1 banding 32 orang. Dengan kata lain, untuk satu tempat ODP, gue harus ngalahin 32 orang.

Mari kita kesampingkan konsep kebhinekaan... *bunyi genderang perang*

Singkat kata, ternyata siang itu pengumumannya langsung diumumkan. Dan sorenya tes lagi, lolos lagi. Kemudian besoknya lagi. Baru setelah itu gue harus menunggu waktu cukup lama buat lanjut ke tahap seleksi berikutnya.

Min, banyak ya emang tahap seleksinya?

Banyak! Untuk ODP (semua perusahaan BUMN sebenarnya), minimal, 7 tahap. Proses seleksinya pun paling cepat tiga bulan.

Dan endingnya, setelah bertahap-tahap dan menghabiskan waktu berbulan-bulan, gue gugur di tahap ke-enam. Apa itu tahap ke-enam? Next post akan gue bahas.

via GIPHY

Itulah kegagalan pertama gue waktu tes kerja. Rasanya kayak patah hati. Seolah pengin neriakin, "HEYYYY! BERANI-BERANINYA NOLAK HEYYYYYY".

Tapi tenang, cerita ini nggak akan berakhir di sini aja. Ini cuma pengantar, sekadar intermezzo. Kalau diceritain satu persatu, bisa-bisa bakalan jadi ensiklopedia. Ensiklopedia yang nggak guna gitu. Dan selanjutnya, gue bakalan cerita di tahap mana aja gue gagal, kenapa gue gagal, dan apa yang harus dilakuin biar (semoga) nggak gagal. Semoga ada gunanya.

Dan kalau ditotal hingga saat ini gue kerja, udah cukup banyak gue mengalami kegagalan.

Kayak misalnya waktu ikutan ODP BNI. Gue butuh 3 kali ikutan tes, hingga akhirnya bisa lolos masuk sana. Masih ingat betul, BNI part pertama pesertanya 650, yang kedua 450, dan yang ketiga, 1200. Semuanya diambil di bawah 25 orang. Mantap soul. Mantap jiwa.

Gue pernah ikutan ODP BTN, waktu itu pesertanya seribuan lebih, dan gue gagal di tahap ketiga.

Pernah ODP BJB, waktu itu pesertanya enam-ribuan lebih, dan gue pun gagal di tahap ketiga.

Pernah juga ODP Mandiri, pesertanya lima-ribuan, dan sekalinya keterima,... gue harus mengundurkan diri. Pengen banting Hulk gak lu rasanya.

Dan yang paling ekstrim, waktu gue ikutan OJK. Jumlah pesertanya seratus-enam-puluh-lima-ribu orang. Iya, 165 ribu. RIBU. Yang kalo mereka demonstrasi, mungkin bisa nurunin dua kepala negara.

Dan yang diterima, cuma 400 orang.

Mantap soul. Mantap jiwa.

Gagal, Gagal, dan Gagal. 

Itu yang gue alamin waktu seleksi tes masuk kerja. Kadang suka mikir, kenapa sih gagal mulu? Bawaannya pengin putus asa. Males ngelamar kerja.

Tapi setiap pengin putus asa, gue selalu ingat sebuah kalimat yang tiba-tiba muncul di pikiran sewaktu dulu gagal juara turnamen di SMA...

"Bayi aja butuh beratus-ratus kali jatuh buat bisa jalan. Dalam hal ini, gue baru berapa kali?"

Nggak kebayang kalo waktu gue bayi udah pasrahan. Sekarang masih belum bisa lari kali ya?

Selasa, 05 April 2016

Satria Si Vlogger Monoton?

Standard
Sejak beberapa bulan yang lalu, rumah gue berlangganan internet. Dulu kalau mau buka Youtube, biasanya videonya gue favorite-in dulu, nanti kalau lagi ke cafe yang internetnya kenceng, videonya baru gue buka. Nah, karena sekarang gue mau ngapain aja di internet enak, nggak pake mikirin kuota, makanya hampir setiap hari gue buka Youtube. Gue jadi lebih aktif di Youtube. Tapi bukan aktif sebagai kreator, hanya sebagai penikmat kontent. Iya, konten para Youtuber. Youtuber dengan semua tipe vlog-annya.

Karena saking seringnya gue mantengin keseharian para Youtuber lewat vlog-nya, dari beberapa bulan yang lalu itu juga lah gue bertanya-tanya seperti ini:

Di zaman yang serba nge-vlog gini, orang-orang masih pada pengen baca blog nggak sih?

Ini salah satu faktor yang sebenarnya bikin gue jarang ngeblog. Kalau dilihat dari euforianya, anak jaman sekarang lebih suka nonton (ngeliat vlog), daripada baca (ngeliat blog). Tiap gue mau cerita kegelisahan gue, kadang suka mampir pikiran, "Njir, orang-orang aja udah pada ngevlog, masa gue masih ngeblog?! Nggak laku lah!"

Dari pikiran ini, gue pun berniat satu hal: belajar ngedit video! Buat ngevlog.

Singkat kata, seminggu gue udah bisa ngedit video. Yaaaa, walaupun nggak jago-jago amat, seenggaknya masih enaklah buat ditonton. Siapa tahu aja kalau skill ngedit video gue diasah terus, ke depannya gue bakalan dilirik sama orang Hollywood, trus gue disuruh ngedit lanjutan film Avenger.


Tapi setelah gue udah bisa ngedit video, timbul satu pertanyaan lagi di pikiran gue: 

Apa penting keseharian gue buat diliput?

Lo perhatiin deh vlog orang, keseharian mereka banyak kegiatannya. Meeting lah, pacaran di mobil lah, buka-bukain-kado-subscribers-terus-dijualin-lah. Sedangkan keseharian gue, gue ngerasa monoton banget: bangun subuh - berangkat kantor - jalan kaki dikit - nyampe kantor - buka komputer - pulang - macet-macetan - ngetwit - tidur. Gitu terus tiap hari. Monoton, dan kurang seru buat diliput. Bisa-bisa gue dijulukin sebagai Satria si Vlogger Monoton. Kecuali keseharian gue seru, misalnya: abis bangun subuh - mandi - memperjuangkan kemerdekaan Palestina. 

Di vlog Pandji Pragiwaksono pun gue sempet nonton yang episode tentang Vlog, di situ ada temennya nyeletuk yang intinya, "Seberapa penting keseharian hidup lo buat diliatin ke orang?"

Bikin galau gak tuh. Dan ada benarnya.

Di sisi lain, gue pengin lebih dekat dengan para pembaca atau followers gue. Biasanya lewat video, engagement-nya lebih kuat. Nah balik lagi gue pengin nanya, enaknya kalau gue bikin vlog, vlog tentang apa ya? Yang intinya, bikin gue sama pembaca jadi lebih dekat (tapi sementara ini, biasanya gue suka bikin video absurd di channelnya Ikramarki sih). Apa lewat Official Line, kah?

Kalau selama ini, biasanya gue mencoba lebih dekat dengan pembaca via Snapchat (id gue: satriaoo), ya walaupun gue nggak sering-sering amat Snapchat-an sih. Tapi biasanya, di manapun gue berada, selalu gue Snapchat-in. Haha!

So guys, wht shud i do? U can touch me at comment, yes.

Oh, Begini Cara Efektif Ngirit Kuota Internet

Standard
HUAAAAAAAH! Apa kabar gaes?!

Gilaaa, udah lama banget gue nggak ngeblog. Dari statistik terakhir, terakhir gue ngeblog itu bulan Oktober 2015. Udah 5 bulan! Astagaaaa, maafkan saya saudara-saudara. Akibat terlalu banyaknya kesibukan, blog gue jadi nggak tersentuh. Pas baru buka aja, blog gue udah debuan, banyak sarang laba-laba, banyak gembel-gembel lagi pada tiduran. Sekali lagi, maafkan saya, kawan. Saya memang pantas diperbudak bangsa Portugis. Padahal ada (lumayan) banyak hal yang pengin gue share di sini, rencananya sih mau share tentang hal yang berbau IPK. Karena gue yakin pembaca gue banyak yang usia masih-belum-lulus-kuliah ke bawah. So, tunggu post-an berikutnya ya?

Iya banget nih.. *numpang lewat*
Kali ini gue mau sedikit sharing aja nih tentang penggunaan kuota. Selama ini lo ngerasa nggak sih, kadang kuota internet kita itu kayak pipis? Keluarnya deres amat. Baru beli kuota 5GB, kurang dari 14 hari abis mulu gara-gara stalking-in Path/Instagram/Snapchat gebetan. Itu buat gebetan yang cuma doyan selfie. Nggak kebayang kalau gebetan doyan bikin video, Youtuber misalnya, bisa tiap hari kita beli kuota kalau dia upload video mulu.

Sebenernya agak 'ngiklan', sih. Tapi karena ini iklan yang ngebantu banget, gue dengan senang hati ngiklaninnya. Semoga para pembaca gue berkenan dan nggak ngerasa kecewa. :)

Ini juga iya banget nih... *numpang lewat lagi*
So, gue baru-baru ini dapet info kalau LOOP (produk Telkomsel) ngeluncurin aplikasi baru yang namanya #LoopKita. Jujur, gue tahun 2014-2015 pernah berpikiran gini waktu ngerasa kenapa kuota internet gue cepet abis, "Ini kenapa nggak ada yang buat aplikasi pengatur kuota sih?" dan benar, beberapa tahun setelahnya, ada yang buat. Sebagai #AnakGames, #AnakChat, dan #AnakUpdate, begitu mendengarnya, gue langsung bahagia. Gue jadi mau meluk Raisa.

Aplikasinya nggak ribet sih, nggak yang makan 'memori' juga (tapi sayangnya baru untuk Android aja). Buat penggunaannya juga simple. Jadi kalian download aplikasinya dulu di Google Play, kalau udah, masuk ke menu "USAGE". Dan biar aplikasinya bisa jalan, di bagian "Data Saving Mode" wajib di-on-in,

trus Continue,

 trus Ok.
Nah, kalau udah di-on-in, kalian bisa langsung monitoring aplikasi mana yang paling boros di bawahnya. Dan gue yakin sih buat anak-anak zaman sekarang, Snapchat dan Path.

Dan setelah tau mana aplikasi yang paling boros makan kuota, kalian bisa ngeblock akses internet si aplikasi tersebut di menu "Control". Jadi begitu buka, kalian nggak bisa internetan. Jadi irit deh.

Setelah semuanya udah di-setting, kalian nggak usah takut buat kehabisan kuota lagi. Karena gue jamin, ini aplikasi efektif banget buat 'ngerem' kuota kita. Gue aja semenjak pake ini jadi irit, nggak pernah Youtube-an pake kuota sendiri lagi. Tiap mau buka Youtube, internetnya pasti nggak nyala. Haha!

Dan enaknya lagi, di aplikasinya kita juga bisa beli kuota dengan harga promo. Murah-murah lagi, gue aja beli yang 30 ribuan udah dapet yang 3Gb! 

Ah, kubahagia. 

Raisa mana Raisa.

Untuk info selengkapnya (buat yang pengin tahu harga kuotanya juga) kalian bisa mampir ke: loop.co.id/loopkita. Okeh?!

Kayaknya segini dulu hal yang bisa gue share. Di postan selanjutnya, gue janji bakal share tentang IPK yang semoga bisa ngasih gambaran ke kalian tentang dunia setelah kuliah. Okey?!

Dan buat yang pengen request gue mau ngebahas apa, kalian bisa kasih saran di kolom comment ya!
Ini gue banget nih. Ngetik tulisan ini aja cuma beberapa menit. #okesip

So, apa cuma gue doang di sini yang dalam sebulan bisa dua kali beli kuota yang 5 GB?