Kamis, 22 Oktober 2015

"Cinta Butuh Chemistry"

Standard
First impression gue waktu ngeliat buku Between Us: “wah, ada novel yang isinya tentang Kimia-Kimiaan nih, kayaknya keren.”. Waktu masih SMA, gue paling nggak bisa pelajaran Kimia. Entah kenapa pelajaran Kimia yang gue dapet dari sekolah bikin gue jadi males belajar Kimia. Gue dicekokin dengan segala macam rumus kimia, di situ gue mikir, ini pelajaran buat apaan sih? Daripada belajar kimia, mending gue main basket.

Gue masih ingat waktu dulu gue pernah belajar Kimia tentang inti atom. Begitu dijelasin, hari pertama gue ngerti, keesokan harinya, gue lupa apa itu inti atom. Begitupun temen gue. Gue yakin penyebab anak sekolah cepat lupa sama pelajaran IPA itu karena pelajarannya nggak bisa diterapkan ke kehidupan sehari-hari. Coba gue tanya, apa itu inti atom? Yak betul! Inti atom itu bukan yang ini:
Metode guru ngajar biasanya cuma ngasih tau definisinya apa, lalu ngasih unjuk gambarnya seperti apa. Ini kan nggak bikin siswa paham. Siswa bakalan paham, kalau dijelaskan dengan hal-hal yang bisa diterapkan sehari-hari, misalnya ngejelasin dengan trik ngegombalin cewek.

A: Sayang, cintaku ke kamu itu kayak inti atom tau.
B: Ah, kenapa gitu, Bang?
A: Kecil sih, tapi nggak bisa dibagi lagi.

DEMN. Pasti tuh siswa-siswa bakalan pada nyatet apa itu inti atom.

Hal yang serupa gue temui di buku Between Us. Buku yang menceritakan tentang Fahrul, seorang chemist (anak Kimia) yang sedang mencari chemistry ke orang-orang di sekitarnya; ke bawahannya, ke bosnya, ke ibunya, juga ke gebetannya, sangat menarik karena dikemas dengan istilah-istilah kimia. Gue baru sadar ternyata dalam jatuh cinta, terdapat proses kimia yang jarang diketahui oleh orang-orang. Yang selama ini gue cuma tahu ikatan terkuat adalah ikatan silaturahmi, ternyata masih ada ikatan lain yang juga sama kuatnya; yaitu ikatan kovalen.


Cinta memang nggak memandang seseorang berdasarkan latar belakangnya, tapi  seseorang, bisa memandang cinta berdasarkan latar belakangnya. Fahrul sebagai anak kimia memandang cinta sebagai proses senyawa kimia yang bereaksi ketika hati menemukan chemistry. Yap, cinta itu butuh chemistry. Dan gue sebagai anak basket, memandang cinta adalah kemenangan. Meraih kemenangan itu nggak mudah, kita butuh latihan rutin –karena cinta tidak datang dengan tiba-tiba-, kita butuh kekompakan –karena cinta itu saling, bukan paling-, dan kita butuh tujuan yang kuat –karena cinta tanpa tujuan, sama dengan buang-buang waktu-. Dari semua elemen itu, tentu nggak mudah untuk menyatukannya. Selalu ada halangan entah itu datangnya dari diri sendiri, ataupun dari rekan kita yang hanya bisa diatasi dengan suatu formula; yaitu saling mengerti. Saling mengerti adalah hal yang paling sulit dilakukan dalam sebuah hubungan. Karena "saling" adalah berdua, butuh 'kekompakan'. It isn't about you or me. It's all about; BETWEEN US.



EH! Maap-maap salah cover. HEHE. 



7 komentar:

  1. Wah keren bang bacaannya. Ada juga yang memandang cinta dari sudut pandang Fisika dalam cerita Love Theory. Terus juga ada yang memandang cinta gak beda jauh sama programming dalam cerita My Lovely Geeky Guy, yg bikin inget itu kutipannya: 'no immediate success'. Gue baca itu visual cowoknya yang kebayang malah elo bang. Anak informatika itu bisa jadi programmer juga kan?

    BalasHapus
  2. Beuh.. Demprul luwar biyasak~
    Satria tetep jago nyepik.

    BalasHapus
  3. Anjir pake salah cover. :))
    Wah ini bukunya demprul itu yaaa. Gue dulu inget kimia gara-gara wali kelas gue guru kimiaa. Gue lupa bahas apa tapi guru gue selalu bilang, "Sampai tua nanti, ingatlah... sumur. Sumur. Susu dijemur." Gue lupa bab apaan tapi disuruh nginget bule kalo ke pantai banyak susu dijemur. -___-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya gue pernah juga deh, Di. Hahaha x))

      Hapus
  4. KArena cinta itu saling, bukan paling.
    Akh ngena banget ini mah....

    BalasHapus
  5. Njir pake salag cover segala.. tapi ini memang keren kok. Gue ngerti maksudnya.. maacihh atas postingan yang menarik ini.

    BalasHapus

Komenin Ya!