Minggu, 02 Agustus 2015

Di Balik "re-gram" Dagelan

Standard
Beberapa hari ini kasus pengcopasan Dagelan lagi rame di Twitter. Semua semenjak @ernestprakasa ngomel di Twitter gara-gara ada bit dari comic yang di-copast, dijadiin meme, dan di-post di ig-nya Dagelan tanpa nyantumin sumber. Sebenernya kasus pengcopasan ini udah lama, nggak cuma Koh ernest aja yang ngomel. Banyak anak Twitter (yang kontennya keren dan berfollowers banyak) sebelumnya juga udah ngomel, tapi nggak seheboh kemarin. Ampe masuk portal berita.

Gue dari dulu sebenernya banyak banget kegelisahan tentang Dagelan. Sekarang gini, mungkin lo udah tau, Dagelan itu adminnya banyak. Kalau diliat sekilas, mungkin lebih dari 10. Yang jadi pertanyaan adalah: kenapa hampir semua konten di Instagramnya harus regram sih? Coba pikirin deh, mereka itu anak muda, masa bikin konten sederhana tentang kegelisahan anak muda zaman sekarang aja nggak bisa? Kayak salah satu tweetnya @arhamrsalan yang dicopast: "Lelaki sejati itu takut sama 3 hal: 1. Tuhan 2. Orangtua 3. Kecoa Terbang". DEG. Ngerasa aneh nggak? Apa mereka nggak ada satupun yang kepikiran kayak gitu? Mereka anak muda lho isinya, bukan veteran-perang-yang-lagi-nyari-uang-tapi-udah-pensiun-makanya-gak-bisa-kerja-lagi-dan-akhirnya-copast-buat-dapetin-uang. Masa sesederhana itu aja nggak bisa. Kecoa terbang kan kegelisahan anak jaman sekarang banget.

Sekarang gini, coba pikirin deh, follower mereka itu jutaan, mau bikin meme lawakan sesederhana "Jangan Makan, Kalau Lagi Haus" aja menurut gue yang ngelikes udah ribuan orang. Lah, gue aja followers cuma tiga ribu tapi posting foto muka-Pevita-Pearce-yang-lagi-foto-sama-Keenan-Pearce-trus-muka-Keenan-nya-gue-ganti-pake-muka-gue aja yang nge-like ratusan. Apalagi Dagelan? Btw kalau mau liat ig gue juga bisa liat di @satriaoo. *sekalian promosi*


Di sisi lain, gue menganalisis ada beberapa kemungkinan kenapa mereka hampir semua kontennya bilang "regram". Semoga suudzon di blog nggak termasuk dosa kecil sama malaikat.

Pertama, mereka nggak punya kegelisahan alias mereka hidupnya jauh dari pergaulan masa kini. Jadi, mereka pribadi nggak suka atau nggak pernah main atau nggak pernah buka sosmed. Karena nggak pernah, mereka jadi nggak tau selera humor anak kekinian. Atau mungkin emang nggak punya selera humor ya? Hehehe. Makanya tinggal copas aja biar cepet. Tapi menurut gue kemungkinan pertama ini nggak bener, sih. Masa anak media nggak suka buka social media. 

Kedua, mereka punya trik yang gue namain trik kambing-hitam-tif. Sungguh nama yang nggak ada kerennya sama sekali sebenernya. Jadi, mungkin aja tujuan regram ini buat mengkambing-hitamkan persoalan yang mereka lagi alami sekarang. Coba lo perhatiin deh, hampir tiap kontennya sekali lagi gue tekanin, ada tulisan "regram by" akun parodi bla-bla-bla lah, atau apalah kek. Kalau nggak percaya, buka aja. Nah, di sini janggalnya. Rata-rata dari mereka si akun yang di-regram by-in sama Dagelan ini, akunnya itu-itu doang. Kalau nggak percaya lagi, cek aja. Dari sini gue mikir, mungkin gak sih ini trik buat kambing hitam? Iya, jadi ketika suatu saat ada yang komplen tweetnya dicopas (kayak kasus kemarin-kemarin ini), mereka bisa beralibi yang intinya, "Ini saya dapetin dari akun ini, salahin dia aja." gitu. Dan gue berpikir, bisa aja akun-akun yang gue maksud adalah akun 'bawahan' mereka.*

Ya lo pikir aje, akun instagram yang dia regram-in, anonim juga. Ngelaporin si akun anonim ke polisi dengan UU ITE juga diketawain sama polisinya. (Dan gue yakin sekarang mereka mau nulis "regram" juga gara-gara orang udah pada tau siapa aja di balik Dagelan. Bisa dilaporin. Kalau enggak juga pasti mereka cuek)

Entah nantinya dengan apa Dagelan bisa sadar hingga akhirnya semua kontennya bikin sendiri. Janggalnya, katanya perusahaan, kok nggak punya konten? Harusnya perusahaan kan punya 'sistem' sendiri. Apa jangan-jangan copast secara ilegal dan copast secara legal (dengan nulis regram) ini adalah sistem yang udah dirancang perusahaannya? Hehe. 

Semoga Dagelan cepat sadar. Dan sadarnya bukan gara-gara azab Tuhan yang sampe difilmin sama tim Pintu Hidayah dengan judul "Copas konten orang, jenazah dikuburkan oleh akun bot"

Hehehe.

Baiklah, sekian. Tetap semangat dan jangan lupa beli Love Rebound.

Yang punya analisis lain tentang Dagelan, monggo kita berdiskusi di kolom komen.

5 komentar:

  1. gue rasa admin dagelan tuh kurang piknik makanya ga pernah dapet inspirasi buat konten dan akhirnya cuma mau nyari gampang doang. hebat!!

    BalasHapus
  2. Gue sih punya feeling Dagelan bakal sukses bikin konten tanpa copas jika salah satu adminnya adalah Satria Ramadhan. Ini sih analisis gue aja.

    Oh iya, Love Rebound-nya keren, bang! Gue pengin nonton film-nya, tapi khusus adegan lu dibegal. (Ini nggak spoiler kan?)

    BalasHapus
  3. Hahaha, setuju bro sama komentar Robby diatas, mending lu yang jadi admin....admin Nyunyu Dagelan. Bikin saingannya dong trus bikin konten sendiri. Xixixi

    BalasHapus
  4. Tapi bang, kalau dilihat-lihat, Dagelan banyak endorsenya dari pada regramnya.

    Terbukti bener dengan kata abang yg tadi. MerekaMereka nggak ada kegelisahan tersendiri. Yg penting ambil profit di sosmed.

    Sip, nice post

    BalasHapus
  5. Kalau bisanya cuma "regram", mending nggak usah bikin sekalian aja.

    BalasHapus

Komenin Ya!