Selasa, 21 Juli 2015

CerSing Tour Buku dan Skripsi

Standard
HUARGH! APA KABAR SEMUANYAAAAAH?! *nunjuk-nunjuk yang di ujung biar kayak konser*

Gila! Udah dua bulan lebih gue nggak nulis yang aneh-aneh di sini. Gue merasa dosa. Punya blog dianggurin. Nggak bener nih. Kalau begini terus, gimana menjaga persatuan dan kesatuan antar umat beragama.

Gue mau cerita semuanya ah.

Beberapa bulan belakangan gue emang lagi sibuk banget. Mulai dari bulan April. Di bulan April, gue sibuk ngelarin buku perdana, Love Rebound, pala panas revisi naskah mulu. Gue nggak mau para pembaca kecewa sama hasil akhirnya. Beberapa kali gue re-write. Kalau ada bagian yang janggal, gue ganti, biar bacanya enak. Kesan pertama itu penting. Gue takut pembaca kecewa. Ya walaupun pada akhirnya, masih banyak yang typo ternyata. Maaf ya, nanti dibenerin deh kalau cetak ulang. Ayok makanya beli jangan minjem, dikit lagi cetak ulang nih! #promodikit

Lanjut ke bulan Mei. Pas di bulan Mei, gue sibuk tour ke delapan kota buat promo buku Love Rebound. Gilaaaa, pas ngetik "tour ke delapan kota" gue merasa keren gini. Biasa study tour, sekarang tour promo karya sendiri. Waktu itu, gue tour ke Jogja, Solo, Semarang, Bandung, Kalibata, Tangerang, Depok, dan Bekasi. Promonya nggak sekaligus, tapi perminggu. Minggu pertama ke kota ini, lalu disusul ke minggu-minggu selanjutnya.

Waktu tour buku, fokus gue benar-benar ke sana. Terutama waktu ke Jogja, Solo, dan Semarang. Maklum, tour kota perdana. Gue harus nyiapin materi buat apa yang mau gue omongin nanti di depan khalayak ramai. Gila nggak tuh. Biasa ngomong di depan temen/dosen, sekarang ngomong di depan dedek-dedek gemes. Gue serasa kayak orang yang dituakan di kampung yang kalau ada warga ngomongin gue, temennya bakalan nyeletuk, "Heh! Jangan ngomongin dia! Pamali!". Gileee, pamali. Iya, mereka duduk di depan gue buat ngedengerin gue ngoceh-ngoceh. Gue kayak sesepuh banget.

Kira-kira kayak gini suasananya:

Ini waktu di Semarang (tour kota ketiga). Pic by @celotehyori.
Awalnya, sempet deg-degan juga. Apalagi waktu di Jogja (kota perdana tour). Tapi bahagianya, materi gue tersampaikan dengan baik. Nggak ada yang terlupakan. Kecuali, di Solo. Sempet lupa sedikit, tapi alhamdulillah-nya bisa back to the line lagi setelah improv. -_- Dan sekarang, karena udah terbiasa, tiap talkshow gue nggak pernah nyiapin materi lagi. Full improv! Haha! Gue jadi ketagihan talkshow!

Lanjut ke bulan berikutnya.

Bulan berikutnya gue dihadapi dengan skripsi. Sebenarnya nggak dari bulan itu aja, gue skripsi dari bulan Februari. Jadi pas lagi nulis (entah itu nulis buat buku atau artikel nyunyu) dan tour, gue juga kepikiran skripsi. Deadline-nya minggu ketiga bulan Juni, cuy harus kelar! Dan masalahnya, sampai minggu kedua, skripsi gue belum kelar! Baru sampai bab 3 (dari bab 5 buat yang nggak tau)! Kenapa gue lelet ngerjainnya? Yes, karena skripsi gue, bikin inih:


Bikin robot. -___-
Dan sampai H-seminggu sidang robot,.... ROBOTNYA NGGAK BISA JALAN! BAJINGAN KAMU ROBOT SIMALAKAMA! *Jangan tanya kenapa gue nulis simalakama, entah kenapa gue ngerasa kata simalakama cocok buat marah-marah padahal gue nggak tau itu apa*

Fyi, itu robot laba-laba pemantau atau robot pemantau berkaki enam.

Gue stress nggak karuan. Gue jadi sensi. Bawaannya mau merengut mulu. Mau senyum aja rasanya males. Gue juga jadi jarang tidur, kepikiran. Tiap hari kerjaan gue dari pagi sampe malem nongkrong di kampus buat ngotak-ngatik si robot ini. Tapi hasilnya, nihil, dia nggak bisa jalan dengan sempurna. Tiap dia jalan, kaki-kakinya konslet gara-gara kabel bajingan simalakama. (Fyi, konsletnya itu kayak kejang-kejang, kakinya geter-geter). Gue udah mau nyewa psikiater aja. Gue pasrah. Kalau robot nggak jalan, artinya, gue nggak lulus. Kudu kuliah lagi. Kudu bayar lagi. Kudu ngedatengin wisuda temen lagi (bukan ikutan wisuda).

Singkatnya, pada tanggal 20an Juni, anggap saja 23 Juni karena gue lupa (hari sidang robot), gue harus bisa jalanin robot, kalau enggak, gue nggak lulus! Gue ngulang! Gue bisa-bisa kalau ketemu bokap dipanggil bro, bukan Nak lagi gara-gara udah nggak dianggep anak! Dan i'm so lucky,... HAMIN SEPULUH JAM SEBELUM SIDANG ROBOTNYA BISA JALAN TANPA KONSLET!!! Yes, nggak tidur beberapa harinya gue akhirnya membuahkan hasil.

Gue gercep pergi ke kampus. Gue girang. Gue senang bukan main. Tiap ketemu orang bawaannya mau senyum sama ngasih beasiswa ke luar negeri. Gila, hari ini hari gue banget! Sampai akhirnya, gue duduk di sebuah ruangan untuk menanti dosen-wanita-tua-ngeselin buat nguji robot gue. Dan pas dia datang, duduk di sebelah gue,... ROBOT BAJINGAN SIMALAKAMA NGGAK BISA JALAN LAGI!!! KAKINYA KONSLET! KAMERANYA NGGAK BISA NGOTRET! DIA JUGA NGGAK BISA DIKENDALIKAN DARI JARAK JAUH!!!!

Gue dimarahin. Diancam nggak lulus. Gue melas. Dan gue ditunggu tiga hari berikutnya buat nguji ulang. Kesempatan terakhir. 

Singkatnya lagi, hari itu pun tiba. Alhamdulillah, robot gue bisa berjalan dengan baik, dia tidak bajingan. Dia robot yang mengerti majikannya. Semua modul, berfungsi. Dia bisa berjalan, bisa ngotret, dan bisa dikendalikan dari jarak jauh. Gue duduk santai nunggu dosen di ruangan. Semua mahasiswa udah diuji, cuma gue doang satu-satunya mahasiswa yang belum sidang program. Sebelum mulai diuji, robot-nya gue test dulu. Lancar!

Hingga saatnya dosen itu masuk ke ruangan. Gue dengan mantap menyalakan laptop dan bersiap mengendalikan robot. Begitu gue mau masuk ke sistem si robot lewat jaringan wifi kampus,... MENDADAK JARINGANNYA MATI! MATIIII! SUNGGUH WIFI BAJINGAN SIMALAKAMAAA!

Pada dasarnya, kuncinya adalah jaringan. Kalau nggak ada jaringan, robot nggak akan bisa dikendalikan. Kalau robot nggak bisa dikendalikan, artinya gue nggak akan lulus. Dalam teori silogisme pernyataan gue memiliki arti,... KALAU NGGAK ADA JARINGAN YA GUE NGGAK AKAN LULUS! 

Gue panik. Langsung izin keluar ruangan buat nyari dosen pembimbing dan nanya ruangan mana yang jaringannya bagus. Beliau menunjuk salah satu ruangan. Gue pun menjelaskan ke dosen penguji buat pindah ruangan karena jaringannya buruk. 

Setelah 20 menit men-setting robot (karena kabelnya banyak), robot pun siap, jaringan pun bisa digunakan. Dosen penguji kembali masuk ke ruangan. Dan begitu mau dikendalikan, memasukkan perintah,... ROBOT SIALAN ITU KONSLET!!! KAKINYA KEJANG-KEJANG!!!!

Gue stress. Panik nggak keruan. Si dosen ngeliatin gue dengan tatapan lapar penuh amarah. Gue terus ngecek problema si robot, dan ternyata, daya listrik ruangan emang bermasalah, makanya dia konslet. Gue pun kembali mencoba menjelaskan ke dosen apa problemnya. Lalu terjadilah percakapan seperti ini:

Gue: Bu, bu, bu, ini konslet bu, tadi bisa kok bu di sana. Beneran. Serius. Saya nggak bohong. 
Dosen: Maksudnya?
Gue: Iya, jadi, tadi kan kalau di sana problemnya jaringan, nah, di sini, daya listrik, bu. 
Dosen: Jadi, nggak bisa gerak robotnya?
Gue: I-iya, tapi tadi bisa kok bu! Seriusan! Saya punya rekamannya kok!
Dosen: JANGAN BAHAS YANG TADI-TADI! SAYA PERLU BUKTINYA SEKARANG!
Gue: Yah, Bu, tapi, ini gara-gara...
Dosen: Satria, kamu mau mempermainkan, saya?

Sampai di sini, gue reflek pengin nutup mulut si ibu dosen dengan telunjuk sambil berkata, "Sayang, plis dengerin aku. Semuanya bisa aku jelasin...". Dia tetap nggak mau dengar penjelasan gue. Akhirnya, dia pun meninggalkan gue lalu berkata, "Sudah, saya tunggu kamu sampai jam tiga (artinya setengah jam lagi), kalau masih nggak bisa, saya nggak menjamin kamu lulus!"

DEG. 

Tuhaaan tarik akuu...

Jantung makin jedag-jedug. Keringat gue keluar dari mana-mana, dari kepala, jidat, leher, tangan, tembok, plafon. Dan ketika gue panik, temen seperjuangan pun datang. Lalu terjadilah percakapan seperti ini:

Temen: Sat, kenapa lo?
Gue: Robot gue error! Padahal tadi bisa di sana, pas di sini nggak bisa. Ada-ada aja nih. Di sana, jaringan wifinya mati, di sini, jaringannya ada, tapi kakinya konslet. Kayaknya gue nggak lulus.

Mendengar hal itu, dia langsung bergegas ngeluarin sesuatu dari ranselnya, lalu ngasih ke gue dengan gaya tangan kanan lurus ke depan sambil memegang sebuah benda layaknya iklan-iklan obat di TV-TV.

"Pakai ini!"

Katanya, sambil ngeluarin Bolt.

Gara-gara itu, gue langsung mencium hawa kemenangan. Gue balik lagi ke ruangan sebelumnya. Lari-larian buat mensetting robot. Gue melirik jam. Sisa 15 menit lagi! Setelah selesai, gue pun manggil dosen itu ke ruangannya, and theeeen.... yes! Lancar semuanya!

Perjuangan terberat gue kerasa sampai di sidang program. Buat di sidang akhir (sidang buku), semuanya lancar, tanpa ada halangan. Dan hasil dari semua itu......


Yuhuuuu, Satria Ramadhan S. Kom.

Btw, ini penampakan temen seperjuangan gue. Namanya Nickerson. Iye, emang datar gitu ekspresinya:


Dan ini cerita singkat tentang kita berdua:


Meski kedengarannya rumit, susah, ribet, dan penuh lika-liku buat ngelarin skripsi. Percayalah, ketika lo ngerjain skripsi atau ngerjain apapun yang menurut lo berat, inget ini: Nggak ada usaha yang sia-sia. Yang ada, kita selalu ngerasa usaha kita sia-sia. Jadi kalau lo udah bilang, "Yah, usaha gue sia-sia nih." Sebenarnya usaha lo masih belum maksimal, dan masih bisa dimaksimalin.

Kalaupun kemarin gue -meski udah doa dan usaha mati-matian ngerjain- tetap gagal, gue percaya, Tuhan udah nyiapin jalan yang lebih baik. Apapun hasilnya, kalau dilakuinnya dengan maksimal, selalu timbul kepuasan.

Sampai belum dinyatakan gagal, lo masih bisa (mungkin terus harus) usaha. Do the best will get the best. 

Siapapun anda dan di mana pun anda berada, tetap semangat dalam berjuang! 

... Dan jangan lupa beli Love Rebound. Cheers!