Sabtu, 04 April 2015

Cinta Monyet!

Standard
"Kecil-kecil kok buta"

Nggak ada yang salah dalam mencintai seseorang. Rasa cinta selalu timbul dengan sendirinya, ada juga yang bilang rasa cinta muncul karena terbiasa.

Gue jadi ingat dulu sewaktu kecil, sewaktu masih SD, gue punya satu wanita yang gue cinta. Yap, mungkin terlalu dini kalau bilang namanya "cinta". Setiap hari gue merasakan hal yang mungkin nggak lazim oleh anak-anak seumuran delapan tahun rasakan; dada berdebar-debar, selalu menanti pagi hari, dan gue benci hari libur. Benci hari libur? Tentu, ini hal yang paling aneh. Anak kecil selalu haus akan bermain, tapi untuk gue saat itu, tidak. Gue rela kalau harus masuk sekolah seminggu full sekalipun. Dan belakangan gue baru sadar; kalau saat itu gue lagi jatuh cinta.

Setiap hari gue memandangi wanita itu, dan berbuat apapun hanya untuk satu tujuan; bisa berinteraksi dengan dia. Gue masih ingat betul ada satu hal kejadian terbodoh yang pernah gue lakukan ke dia. Kami pernah main polisi-polisian bersama. Saat itu, peran gue jadi polisi. Dan dia, jadi maling. Tentu dalam permainan ini banyak teman yang perannya jadi "maling", tapi sedari awal, yang gue kejar adalah dia, wanita itu. Gue mengejarnya tentu tidak seperti polisi biasa, gue menikmati adegan kami kejar-kejaran. Cara berlarinya, kecepatannya, sampai teriakannya pun gue ingat, sampai sekarang. Hingga akhirnya gue mencoba menarik lengannya dari belakang. Mungkin tarikan gue terlalu keras sampai-sampai dia terjatuh, berdarah,... dan benci sama gue.

Semenjak hari itu dia nggak mau ngomong sama gue lagi. Setiap kita bertemu, dia selalu memalingkan muka. Gue ngerasa bersalah. Rasa ingin sekolah setiap hari, berubah menjadi rasa ingin libur setiap hari. 

Saat itu, pada umur delapan tahun, gue mencintai wanita itu tentu tanpa alasan. Dia cantik? Enggak. Dia kaya? Juga enggak. Masih terlalu dini buat gue untuk tahu masalah cantik dan kaya. Yang gue tahu saat itu adalah; gue mau terus bersama dengan dia. Sesederhana itu.

Semakin ke sini, gue semakin dewasa. Gue juga tahu yang mana cantik dan yang mana kaya. Gue juga punya tipe pasangan idaman sendiri, yang akhirnya memperibet, dan bikin gue berpikiran; gue harus balik kayak dulu lagi, yang mencintai seseorang tanpa banyak mikir. Hanya sesederhana: gue mau terus bersama dia.

Raditya Dika pun lewat Cinta Brontosaurus mengatakan: "Ketika kita mencintai seseorang, kita harus kayak anak kecil, apa adanya. Nggak usah banyak mikir alasan. Hanya sesimple: aku sayang dia. Cukup."

Tentu gue setuju, sangat setuju. Sampai akhirnya gue tersadar, pada umur ini, pada detik ini, pada tulisan ini, kalau:

Untuk MENCINTAI seseorang memang harus seperti anak kecil, tapi untuk MENDAPATKAN CINTA seseorang, kita harus tau kita itu siapa.


Have a nice day, everyone.

32 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Hanya sesimpel, sayang dia sudah cukup? Gak butuh balasan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak tau, tanya coba sama Raditya Dika-nya. Gue mah butuh balasan. Hahahaha

      Hapus
  3. Apakah Anda sudah tahu Anda itu siapa? Kalau belum, betapa lancang Anda membuat tulisan seperti ini.

    IQ?

    BalasHapus
  4. Setuju bang.
    Kriteria yang kebanyakan hanya memperibet cinta itu sendiri.

    BalasHapus
  5. Semakin dewasa, semakin banyak alasan untuk mencintai seseorang. Dan semuanya berakhir dengan kesendirian.

    BalasHapus
  6. Kriteria emang ribet. Tapi gabisa memungkiri kan bang, kalo kriteria yang baik mesti di kedepankan? Untuk tujuan masa depan yang baik pula

    BalasHapus
  7. Tulisannya bagus, suaranya juga merdu.

    Aku siih yes,
    Gak tau kalau mas dhani

    BalasHapus
  8. Tapi untuk mempertahankan jangan bertingkah seperti anak kecil, yang ada nanti malah kehilangan siapa yang dicinta.

    BalasHapus
  9. Sat, gue gak tau gue ini siapa. Lo tau gak?

    BalasHapus
  10. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  11. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  12. Bener banget bang. Cintanya anak kecil itu masih bener-bener murni cinta, semurni hatinya.

    BalasHapus
  13. Habis putus langsung bijak, Sat. :p

    Yap. Sesederhana itu. Nggak pake alesan karena dia cantik, lucu, pintar, atau kaya, de el el.

    Dan kalo udah merasa hal kayak gitu lagi. Nggak usah kebanyakan pertimbangan. :)

    BalasHapus
  14. Banyak kriteria emang buat ribet doang. Tapi, itu kata-kata terakhirnya bikin baper.-.

    BalasHapus
  15. Kita harus tau kita siapa. Iya gue tau. Berarti harus berhenti usaha?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya enggak lah, kalau lo udah tau, dan ngerasa pantes, ya terusin.


      Intinya kan "harus tau kita siapa"

      Hapus
  16. Hahaha komenannya Oka.

    Hmm *manggut-manggut sendiri*

    Jadi, kalau misalnya kita udah tahu siapa diri kita sendiri, tapi mereka yang nggak mau tahu, gimana? Tinggalin, apa ngenalin diri, sat?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha kok ngenalin diri? Maksud "Kita harus tau kita siapa" di sini lebih ke kita mikir pantas nggak sih buat dia? Misal, beda agama, tapi saling suka. Balik lagi, kita mikir, kalau diterusin, bakalan timbul masalah nggak sih nantinya? Itu maksudnya harus tau dulu "kita siapa".


      Misalnya lagi nih, contoh paling umum kayak di FTV. Ada OB, suka sama cewek pengusaha. Tentu di FTV bisa kejadian, tapi kalau di dunia nyata nggak mungkin.

      Itulah kenapa kita harus tau kita itu siapa. Jangan sampai cuma dapat "capeknya doang".

      Hapus
  17. ini tulisan lo paling dewasa sat selama gue jadi pembaca blog lo!! *prok..prok..prok..

    BalasHapus
  18. jadi sebenernya arti cinta monyet itu suka sama dia sejak kecil atau suka sama teman kecil (?)

    BalasHapus

Komenin Ya!