Senin, 09 Februari 2015

#AsalUsulAsal Pensil Alis

Standard
Alkisah, pada abad ke-16 hiduplah salah seorang perempuan kaya, bernama Alice, yang tinggal di salah satu desa di benua eropa sana.

Sekilas, Alice terlihat seperti anak rajin. Dia memakai kacamata, juga selalu memakai tas ke mana-mana. Namun siapa sangka, ternyata dia anak yang pelupa. Semua berawal di suatu hari, saat Alice sibuk meneriaki mamahnya yang lagi masak di dapur.

“KACAMATAKU HILANG!” kata Alice.
“Di kepalaaaa…”
“Oh iyaaaaaah!” “TAS AKU?”
“Di punggung…”
“Ups…” “UANGKU?!”
“Di tuyuuuul…”


“Hah Tuyul?! Tuyul itu siapa??!” saut Alice, kesal.
“Tuyul itu… rahasia.”

Sejak saat itu, Alice membenci ibunya. Ibunya enggan mengasih tau siapa tuyul dan di mana keberadaannya. Belakangan diketahui, ibunya berbuat seperti itu, agar Alice menjadi pribadi yang mandiri. Yang nggak sedikit-sedikit nanya ke ibunya.

Alice pun memutuskan untuk mencari tahu sendiri siapa itu tuyul.

Pertama-tama, Alice menanyakan siapa Tuyul kepada Wikipedia. Tapi, pada zaman itu belum ada Wikipedia, makanya nggak jadi nanya. Kedua, Alice menanyakan tentang Tuyul kepada abang-abang penjaga warung.

“Bang, tolong bantu saya. Tuyul itu siapa?!”
“Oh, itu, anak muda,” kata si abang-abang, “Kepercayaan terhadap sesuatu yang dianggap ada, padahal sebenarnya nggak ada.”
“Itu takhayul, bang,”

Ternyata penjaganya tuli.

Alice frustasi. Berhari-hari dia mencari tahu tentang Tuyul yang mengambil uangnya, tapi nggak ketemu-ketemu. Pada suatu malam, ada kakek-kakek tua berbaju hitam menghampiri Alice yang tengah tertidur di sebuah gubuk sawah yang tak terurus. Alice bertekad nggak akan pulang ke rumah, sebelum dia tau siapa itu Tuyul.

“Anak muda,” kata si kakek.
Alice pun terbangun dari tidur pulasnya. “Ya, ada apa, Kek?”
“Kamu ingin tahu siapa itu Tuyul?”
“Betul, Kek! Kakek tau?! Gimana caranya?!”
”Caranya? Ketik Reg…”
“KEK!”
“... Kakek cuma bercanda.” “Caranya, kamu cukup pulang ke rumah, lalu cukurlah alismu. Niscaya, kamu akan melihat Tuyul...”
“Serius, Kek?!”
“NOAH!”
“KEK!”
“... Kakek cuma bercanda.”
Alice pun bergegas berlari ke rumahnya, ke kamar, lalu mencari sebilah pisau untuk mencukur kedua alisnya. Tanpa ada rasa ragu, dia mencukur dengan penuh semangat. Pertama-tama, dia cukur alis kanannya. Kemudian, alis kirinya.

Sesaat kemudian, setelah kedua alisnya tak ada lagi, dia melihat anak kecil botak bercelana dalam putih masuk ke kamarnya. Anak kecil itu membongkar laci meja rias Alice, tempat Alice menyimpan uang.

“HEH KAMU! KAMU PASTI TUYUL KAN?! KAMU YANG NGAMBIL DUIT SAYA WAKTU ITU?!” bentak Alice.
“I-iya… T-tapi…”
“TAPI APA?!”
“Itu disuruh mamah..”
“Mamah?”

Ternyata itu adiknya Alice. Dia bernama Tuyul. Alice lupa kalau dia punya adik.

Lewat dari hari itu, Alice sungguh menyesal telah mengikuti perintah si kakek-kakek. Dia sering melamun di depan cermin, memerhatikan mukanya yang jadi aneh semenjak nggak ada alis.

Berhari-hari dia merenung dan menunggu, lalu bertanya-tanya, kenapa alisnya nggak numbuh-numbuh. Berbagai cara dia lakukan agar alisnya numbuh. Mulai dari cangkok alis, sampai mengadakan gerakan menanam satu hari satu alis. Tapi, hasilnya nihil.

Sampai suatu ketika, dia melihat adiknya, Tuyul, sedang mengerjakan tugas menggambar dari sekolahnya. Saat itu, Tuyul menggambar gunung lengkap dengan matahari di tengah-tengah, sawah, juga burung.

“Yul, itu apa namanya?” kata Alice, memerhatikan benda yang dipegang Tuyul.
“Pensil, Kak.”           
“Kok pake pensil?”
“Biar ngapusnya gampang, Kak,”
Alice manggut-manggut, sambil memerhatikan gambarnya Tuyul.
“Yul, ini gambar apa?”
“Burung, Kak,”
“Kok kayak kakak kenal ya gambarnya?”
“Itu kayak alis kakak, Kak!”

Alice terdiam, mengelus-ngelus dagu, dengan gerak terburu-buru, dia meminjam pensil adiknya saat itu juga untuk bereksperimen. Berjam-jam dia habiskan di depan cermin, hanya untuk mengembalikan alisnya yang telah lama dia cukur. Awalnya, bentuknya seperti ini...

Terinspiras dari gambar burungnya Tuyul...

Lalu...

Niatnya biar gampang, tapi malah hancur...

Karena usahanya yang keras dan tak kenal putus asa, akhirnya bentuknya pun menjadi....

Khan maeen...

Alice menyadari, ternyata, bikin alis itu susah. Butuh berjam-jam biar bentuknya sesuai dengan keinginan. 

Alisnya pun balik lagi, meski dengan bantuan pensil.
  
Seiring berjalannya waktu, Alice merasa nggak enak kalau harus terus-terusan memakai pensil milik adiknya. Dia mikir, sungguh sangat tidak adil kalau harus membiarkan adiknya menggambar dengan tangan kosong. Emangnya berantem.

Dia pun memutar otak, lalu menciptakan sebuah pensil baru, yang bernama, pensil Alice. Pensil khusus alis.

-TAMAT- 

34 komentar:

  1. Hahahah...sableng banget lo bang. Ini sejarahnya dari mana? Sumbernya dari mana? Hahaha

    BalasHapus
  2. Ada yang kurang, alis sinchan nya mana? haha

    BalasHapus
  3. Wakakak sudah aku duga kamu adiknya alice bang. Terus ini nulis kisah kakak mu khan

    BalasHapus
  4. Woahaha. Bisa-bisa. Mau ketemu sama Alice dong, Sat. KHAN MAEN!

    BalasHapus
  5. Hahaha itu foto alis yang pertama ketje banget

    BalasHapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  8. gilaa.. abangnya yang ngarang pinter banget :D

    BalasHapus
  9. Yaampun, harusnya lu nulis beginian di wikipedia bang. Biar semua orang tau, asal usul pensil alis

    BalasHapus
  10. pensil alice khusus alis :D
    imajinasi lu bang *tepuk tangan*

    BalasHapus
  11. KHAN MAEEEN BANGGG SAAAAATTTT AJARI AKU SUHU

    BalasHapus
  12. Bener bener Khan Maen deh....... transformasi alisnya terlihat begitu epik. Lo gak kepengen nyoba, Sat?
    Ya siapa tau aja alis lo berubah mirip kumisnya pak raden. Agak meliuk-liuk tapi tetep kreatif. Uhuy.

    BalasHapus
  13. Btw, tuyul punya alis nggak bang?

    Kalo punya....

    Khan maeeen!

    BalasHapus
  14. entah kenapa gue mbayangin alis lo dibikin kayak gambar pertama bang hahahaha btw ceritanya kreatif hehe

    BalasHapus

Komenin Ya!