Kamis, 22 Oktober 2015

"Cinta Butuh Chemistry"

Standard
First impression gue waktu ngeliat buku Between Us: “wah, ada novel yang isinya tentang Kimia-Kimiaan nih, kayaknya keren.”. Waktu masih SMA, gue paling nggak bisa pelajaran Kimia. Entah kenapa pelajaran Kimia yang gue dapet dari sekolah bikin gue jadi males belajar Kimia. Gue dicekokin dengan segala macam rumus kimia, di situ gue mikir, ini pelajaran buat apaan sih? Daripada belajar kimia, mending gue main basket.

Gue masih ingat waktu dulu gue pernah belajar Kimia tentang inti atom. Begitu dijelasin, hari pertama gue ngerti, keesokan harinya, gue lupa apa itu inti atom. Begitupun temen gue. Gue yakin penyebab anak sekolah cepat lupa sama pelajaran IPA itu karena pelajarannya nggak bisa diterapkan ke kehidupan sehari-hari. Coba gue tanya, apa itu inti atom? Yak betul! Inti atom itu bukan yang ini:
Metode guru ngajar biasanya cuma ngasih tau definisinya apa, lalu ngasih unjuk gambarnya seperti apa. Ini kan nggak bikin siswa paham. Siswa bakalan paham, kalau dijelaskan dengan hal-hal yang bisa diterapkan sehari-hari, misalnya ngejelasin dengan trik ngegombalin cewek.

A: Sayang, cintaku ke kamu itu kayak inti atom tau.
B: Ah, kenapa gitu, Bang?
A: Kecil sih, tapi nggak bisa dibagi lagi.

DEMN. Pasti tuh siswa-siswa bakalan pada nyatet apa itu inti atom.

Hal yang serupa gue temui di buku Between Us. Buku yang menceritakan tentang Fahrul, seorang chemist (anak Kimia) yang sedang mencari chemistry ke orang-orang di sekitarnya; ke bawahannya, ke bosnya, ke ibunya, juga ke gebetannya, sangat menarik karena dikemas dengan istilah-istilah kimia. Gue baru sadar ternyata dalam jatuh cinta, terdapat proses kimia yang jarang diketahui oleh orang-orang. Yang selama ini gue cuma tahu ikatan terkuat adalah ikatan silaturahmi, ternyata masih ada ikatan lain yang juga sama kuatnya; yaitu ikatan kovalen.


Cinta memang nggak memandang seseorang berdasarkan latar belakangnya, tapi  seseorang, bisa memandang cinta berdasarkan latar belakangnya. Fahrul sebagai anak kimia memandang cinta sebagai proses senyawa kimia yang bereaksi ketika hati menemukan chemistry. Yap, cinta itu butuh chemistry. Dan gue sebagai anak basket, memandang cinta adalah kemenangan. Meraih kemenangan itu nggak mudah, kita butuh latihan rutin –karena cinta tidak datang dengan tiba-tiba-, kita butuh kekompakan –karena cinta itu saling, bukan paling-, dan kita butuh tujuan yang kuat –karena cinta tanpa tujuan, sama dengan buang-buang waktu-. Dari semua elemen itu, tentu nggak mudah untuk menyatukannya. Selalu ada halangan entah itu datangnya dari diri sendiri, ataupun dari rekan kita yang hanya bisa diatasi dengan suatu formula; yaitu saling mengerti. Saling mengerti adalah hal yang paling sulit dilakukan dalam sebuah hubungan. Karena "saling" adalah berdua, butuh 'kekompakan'. It isn't about you or me. It's all about; BETWEEN US.



EH! Maap-maap salah cover. HEHE. 



Rabu, 09 September 2015

Kata-Kata yang Agak Geli Kalau Dipakai Chat Sesama Cowok

Standard
Entah ini cuma gue doang atau emang udah dari sananya, gue kalau baca chat dari orang pasti langsung kebayang ekspresi dia ngomong kayak gimana. Misalnya kalau bokap gue chat nyuruh pulang, "Satria, pulang." gue ngebayangin kalau dia nyuruh pulang dengan muka datar, mata yang sesekali ngeliat ke arah jam tangan, dan mulut cemberut. Beda dengan kalau gue baca chat dari kakak gue yang nyuruh pulang, "Lo dimana? Pulang!" itu yang kebayang dia ngetiknya dengan jidat yang mengerut, dengusan nafas yang menggebu-gebu, dan sambil megang pisau dapur kalau emang ternyata dia kekunci dari luar dan kunci rumahnya kebawa sama gue.

Gue makin ngerasa kalau yang ngebayangin-ekspresi-pengirim-pas-baca-chat ini cuma golongan anak muda doang. Tiap gue baca chat bokap-nyokap atau bapak-bapak dan ibu-ibu umumnya, mereka balas chat-nya sadis. Misalnya nih bokap gue kalau nerima chat dari rekan kerjanya, rekan kerjanya udah ngetik panjang-panjang, dia cuma balas singkat kayak "Ya." atau panjangan dikit "Ya, terima kasih." doang. Gile, innocence banget. Dan kerennya, mereka nggak ada yang bete-betean. Beda kalau chat-an sama pacar.

Hampir semua pacar orang kalau dia udah nge-chat panjang-panjang, seandainya kita balasnya dikit pasti dia langsung ngomel, "Kamu kok jutek banget sih?", "Kamu marah ya sama aku?", "KAMU LAGI SELINGKUH YA?!". Soalnya mereka langsung ngebayangin ekspresi kita kayak gimana. Makanya, kita dituntut harus balas yang panjang juga, meskipun intinya cuma seiprit, misal:

Pacar: Eh eh eh tau nggaaaaak, tadi aku seharian study tour enak deh, aku ke dufan, trus aku di sana ke rumah miring, main wahana-wahana yang serem itu tuh, yang kamu nggak berani, aku naiknya ampe dua kali lho! Trus aku juga ke istana boneka, dan tau nggak sayang aku ngapain di sana? Aku berenang! Iya, yang lain naik perahu aku berenang gaya punggung! keren kaaan?

Kita: Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah, kamuuuuuuuuuuuuuuu kereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen bangeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeet.................................

Kurang lebih begitu lah.


Karena tiap baca chat rata-rata orang selalu ngebayangin ekspresinya, gue mikir kayaknya penggalan-penggalan kata ini bakalan aneh deh kalau dikirimnya ke sesama cowok. Karena cowok, identik dengan ketegasan. Asli deh, gue pernah dapet chat yang salah satu penggalan katanya ada di bawah ini. Pas baca, waduuuy, shock ngebayanginnya.

"Nyebelin"
Kebayang nggak sih lu, kalau temen lu atau lu ngeliat temen-temen cowok lu nge-chat ada kata nyebelinnya? Misal:

A: Hahaha gue ngibul bego, gue ada di rumah.
B: Ah! Nyebelin!

Ya Tuhaaaan...

"Iiiiih"
Gue kalau dapet yang kayak gini dari cewek gue, jujur, gue malah gemes sama dia. Bawaannya pengin nyubit. Coba bayangin deh, imut banget kan cewek kalau lagi ngomong "iiih"? Biasanya ekspresinya itu bibirnya manyun, nada suaranya manja, idungnya kembang kempis. Gila, gemesin banget.

Coba kalau cowok yang ngechat gitu, misal:
A: Eh, gue pulang duluan ya, mau nganter nyokap.
B: Iiiiiiih, dia mah.

Ya Tuhaaaaan...

"Hihihi"
Ini adalah ekspresi nyengir-nyengir-gemes-genit gimana gitu. Gimana ya ngegambarinnya. Geli gak sih lu kalau ada dua insan pria yang chat-nya kayak gini:

A: Eh uang patungan sapi kurban dikumpulin di elo ya?
B: Hihihi iya hihi

Ya Tuhaaaan...

Segalanya yang Huruf Belakangnya Dipanjangin
Misalnya nih, "Nantiiiiiiiiii" atau "Iyaaaaaaaa". Kebayang gak sih lu ekspresinya gimana? Gemes-gemes-ucul gitu kan. Kalau sama pacar, sangat wajar. Coba bayangin lagi dua cucu Adam ngechat-nya gini;

A: Eh, bayar utang pulsa lo
B: Iyaa, nantiiii

Ya Tuhaaaan...

Emote Melet ':p'
Gue ngebayangin ada cowok yang ngomong langsung, trus main julur-juluran lidah. 

A: Anjing lo!
B: hehehe :p

*ternyata anjing beneran lagi melet*

"Yah" "Iyah"
Gue semangat dengerin kata ini, kalau yang ngomong Nikita Mirzani. Beuh, jadi aus nggak sih lu kalau misalnya Nikita Mirzani yang ngomong di depan lu sambil ngedesah-desah? Beda kalau sama cowok.

A: Nanti jangan lupa yah
B: Iyah
A: Bagi minumnyah
B: Bentar yah

*ternyata lagi kepedesan*

"Wooo" atau "Wuuu'
Gerakan memanyunkan bibir dengan nada yang panjang. 

A: Yah, gue lupa bawa casan!
B: Ye dasar wuuuuuuu

Tuhaaaan, tarik mereka Tuhaaan...

"Wleee"
A: lo bolos sekolah ye?
B: Nggak sih, orang gue sakit wleeee

Sedih bacanya.

Yak! Itu kata yang menurut gue bikin geli kalau dipakai chat sesama cowok. Ngebayanginnya itu lho, bikin istighfar. Tapi sekali lagi, ini cuma menurut gue, kalau ada yang nggak setuju, yaudah. Namanya juga menurut gue. Hehehe. No offense pokoknya.

Menurut lo gimana? Atau ada lagi?

Minggu, 02 Agustus 2015

Di Balik "re-gram" Dagelan

Standard
Beberapa hari ini kasus pengcopasan Dagelan lagi rame di Twitter. Semua semenjak @ernestprakasa ngomel di Twitter gara-gara ada bit dari comic yang di-copast, dijadiin meme, dan di-post di ig-nya Dagelan tanpa nyantumin sumber. Sebenernya kasus pengcopasan ini udah lama, nggak cuma Koh ernest aja yang ngomel. Banyak anak Twitter (yang kontennya keren dan berfollowers banyak) sebelumnya juga udah ngomel, tapi nggak seheboh kemarin. Ampe masuk portal berita.

Gue dari dulu sebenernya banyak banget kegelisahan tentang Dagelan. Sekarang gini, mungkin lo udah tau, Dagelan itu adminnya banyak. Kalau diliat sekilas, mungkin lebih dari 10. Yang jadi pertanyaan adalah: kenapa hampir semua konten di Instagramnya harus regram sih? Coba pikirin deh, mereka itu anak muda, masa bikin konten sederhana tentang kegelisahan anak muda zaman sekarang aja nggak bisa? Kayak salah satu tweetnya @arhamrsalan yang dicopast: "Lelaki sejati itu takut sama 3 hal: 1. Tuhan 2. Orangtua 3. Kecoa Terbang". DEG. Ngerasa aneh nggak? Apa mereka nggak ada satupun yang kepikiran kayak gitu? Mereka anak muda lho isinya, bukan veteran-perang-yang-lagi-nyari-uang-tapi-udah-pensiun-makanya-gak-bisa-kerja-lagi-dan-akhirnya-copast-buat-dapetin-uang. Masa sesederhana itu aja nggak bisa. Kecoa terbang kan kegelisahan anak jaman sekarang banget.

Sekarang gini, coba pikirin deh, follower mereka itu jutaan, mau bikin meme lawakan sesederhana "Jangan Makan, Kalau Lagi Haus" aja menurut gue yang ngelikes udah ribuan orang. Lah, gue aja followers cuma tiga ribu tapi posting foto muka-Pevita-Pearce-yang-lagi-foto-sama-Keenan-Pearce-trus-muka-Keenan-nya-gue-ganti-pake-muka-gue aja yang nge-like ratusan. Apalagi Dagelan? Btw kalau mau liat ig gue juga bisa liat di @satriaoo. *sekalian promosi*


Di sisi lain, gue menganalisis ada beberapa kemungkinan kenapa mereka hampir semua kontennya bilang "regram". Semoga suudzon di blog nggak termasuk dosa kecil sama malaikat.

Pertama, mereka nggak punya kegelisahan alias mereka hidupnya jauh dari pergaulan masa kini. Jadi, mereka pribadi nggak suka atau nggak pernah main atau nggak pernah buka sosmed. Karena nggak pernah, mereka jadi nggak tau selera humor anak kekinian. Atau mungkin emang nggak punya selera humor ya? Hehehe. Makanya tinggal copas aja biar cepet. Tapi menurut gue kemungkinan pertama ini nggak bener, sih. Masa anak media nggak suka buka social media. 

Kedua, mereka punya trik yang gue namain trik kambing-hitam-tif. Sungguh nama yang nggak ada kerennya sama sekali sebenernya. Jadi, mungkin aja tujuan regram ini buat mengkambing-hitamkan persoalan yang mereka lagi alami sekarang. Coba lo perhatiin deh, hampir tiap kontennya sekali lagi gue tekanin, ada tulisan "regram by" akun parodi bla-bla-bla lah, atau apalah kek. Kalau nggak percaya, buka aja. Nah, di sini janggalnya. Rata-rata dari mereka si akun yang di-regram by-in sama Dagelan ini, akunnya itu-itu doang. Kalau nggak percaya lagi, cek aja. Dari sini gue mikir, mungkin gak sih ini trik buat kambing hitam? Iya, jadi ketika suatu saat ada yang komplen tweetnya dicopas (kayak kasus kemarin-kemarin ini), mereka bisa beralibi yang intinya, "Ini saya dapetin dari akun ini, salahin dia aja." gitu. Dan gue berpikir, bisa aja akun-akun yang gue maksud adalah akun 'bawahan' mereka.*

Ya lo pikir aje, akun instagram yang dia regram-in, anonim juga. Ngelaporin si akun anonim ke polisi dengan UU ITE juga diketawain sama polisinya. (Dan gue yakin sekarang mereka mau nulis "regram" juga gara-gara orang udah pada tau siapa aja di balik Dagelan. Bisa dilaporin. Kalau enggak juga pasti mereka cuek)

Entah nantinya dengan apa Dagelan bisa sadar hingga akhirnya semua kontennya bikin sendiri. Janggalnya, katanya perusahaan, kok nggak punya konten? Harusnya perusahaan kan punya 'sistem' sendiri. Apa jangan-jangan copast secara ilegal dan copast secara legal (dengan nulis regram) ini adalah sistem yang udah dirancang perusahaannya? Hehe. 

Semoga Dagelan cepat sadar. Dan sadarnya bukan gara-gara azab Tuhan yang sampe difilmin sama tim Pintu Hidayah dengan judul "Copas konten orang, jenazah dikuburkan oleh akun bot"

Hehehe.

Baiklah, sekian. Tetap semangat dan jangan lupa beli Love Rebound.

Yang punya analisis lain tentang Dagelan, monggo kita berdiskusi di kolom komen.

Selasa, 21 Juli 2015

CerSing Tour Buku dan Skripsi

Standard
HUARGH! APA KABAR SEMUANYAAAAAH?! *nunjuk-nunjuk yang di ujung biar kayak konser*

Gila! Udah dua bulan lebih gue nggak nulis yang aneh-aneh di sini. Gue merasa dosa. Punya blog dianggurin. Nggak bener nih. Kalau begini terus, gimana menjaga persatuan dan kesatuan antar umat beragama.

Gue mau cerita semuanya ah.

Beberapa bulan belakangan gue emang lagi sibuk banget. Mulai dari bulan April. Di bulan April, gue sibuk ngelarin buku perdana, Love Rebound, pala panas revisi naskah mulu. Gue nggak mau para pembaca kecewa sama hasil akhirnya. Beberapa kali gue re-write. Kalau ada bagian yang janggal, gue ganti, biar bacanya enak. Kesan pertama itu penting. Gue takut pembaca kecewa. Ya walaupun pada akhirnya, masih banyak yang typo ternyata. Maaf ya, nanti dibenerin deh kalau cetak ulang. Ayok makanya beli jangan minjem, dikit lagi cetak ulang nih! #promodikit

Lanjut ke bulan Mei. Pas di bulan Mei, gue sibuk tour ke delapan kota buat promo buku Love Rebound. Gilaaaa, pas ngetik "tour ke delapan kota" gue merasa keren gini. Biasa study tour, sekarang tour promo karya sendiri. Waktu itu, gue tour ke Jogja, Solo, Semarang, Bandung, Kalibata, Tangerang, Depok, dan Bekasi. Promonya nggak sekaligus, tapi perminggu. Minggu pertama ke kota ini, lalu disusul ke minggu-minggu selanjutnya.

Waktu tour buku, fokus gue benar-benar ke sana. Terutama waktu ke Jogja, Solo, dan Semarang. Maklum, tour kota perdana. Gue harus nyiapin materi buat apa yang mau gue omongin nanti di depan khalayak ramai. Gila nggak tuh. Biasa ngomong di depan temen/dosen, sekarang ngomong di depan dedek-dedek gemes. Gue serasa kayak orang yang dituakan di kampung yang kalau ada warga ngomongin gue, temennya bakalan nyeletuk, "Heh! Jangan ngomongin dia! Pamali!". Gileee, pamali. Iya, mereka duduk di depan gue buat ngedengerin gue ngoceh-ngoceh. Gue kayak sesepuh banget.

Kira-kira kayak gini suasananya:

Ini waktu di Semarang (tour kota ketiga). Pic by @celotehyori.
Awalnya, sempet deg-degan juga. Apalagi waktu di Jogja (kota perdana tour). Tapi bahagianya, materi gue tersampaikan dengan baik. Nggak ada yang terlupakan. Kecuali, di Solo. Sempet lupa sedikit, tapi alhamdulillah-nya bisa back to the line lagi setelah improv. -_- Dan sekarang, karena udah terbiasa, tiap talkshow gue nggak pernah nyiapin materi lagi. Full improv! Haha! Gue jadi ketagihan talkshow!

Lanjut ke bulan berikutnya.

Bulan berikutnya gue dihadapi dengan skripsi. Sebenarnya nggak dari bulan itu aja, gue skripsi dari bulan Februari. Jadi pas lagi nulis (entah itu nulis buat buku atau artikel nyunyu) dan tour, gue juga kepikiran skripsi. Deadline-nya minggu ketiga bulan Juni, cuy harus kelar! Dan masalahnya, sampai minggu kedua, skripsi gue belum kelar! Baru sampai bab 3 (dari bab 5 buat yang nggak tau)! Kenapa gue lelet ngerjainnya? Yes, karena skripsi gue, bikin inih:


Bikin robot. -___-
Dan sampai H-seminggu sidang robot,.... ROBOTNYA NGGAK BISA JALAN! BAJINGAN KAMU ROBOT SIMALAKAMA! *Jangan tanya kenapa gue nulis simalakama, entah kenapa gue ngerasa kata simalakama cocok buat marah-marah padahal gue nggak tau itu apa*

Fyi, itu robot laba-laba pemantau atau robot pemantau berkaki enam.

Gue stress nggak karuan. Gue jadi sensi. Bawaannya mau merengut mulu. Mau senyum aja rasanya males. Gue juga jadi jarang tidur, kepikiran. Tiap hari kerjaan gue dari pagi sampe malem nongkrong di kampus buat ngotak-ngatik si robot ini. Tapi hasilnya, nihil, dia nggak bisa jalan dengan sempurna. Tiap dia jalan, kaki-kakinya konslet gara-gara kabel bajingan simalakama. (Fyi, konsletnya itu kayak kejang-kejang, kakinya geter-geter). Gue udah mau nyewa psikiater aja. Gue pasrah. Kalau robot nggak jalan, artinya, gue nggak lulus. Kudu kuliah lagi. Kudu bayar lagi. Kudu ngedatengin wisuda temen lagi (bukan ikutan wisuda).

Singkatnya, pada tanggal 20an Juni, anggap saja 23 Juni karena gue lupa (hari sidang robot), gue harus bisa jalanin robot, kalau enggak, gue nggak lulus! Gue ngulang! Gue bisa-bisa kalau ketemu bokap dipanggil bro, bukan Nak lagi gara-gara udah nggak dianggep anak! Dan i'm so lucky,... HAMIN SEPULUH JAM SEBELUM SIDANG ROBOTNYA BISA JALAN TANPA KONSLET!!! Yes, nggak tidur beberapa harinya gue akhirnya membuahkan hasil.

Gue gercep pergi ke kampus. Gue girang. Gue senang bukan main. Tiap ketemu orang bawaannya mau senyum sama ngasih beasiswa ke luar negeri. Gila, hari ini hari gue banget! Sampai akhirnya, gue duduk di sebuah ruangan untuk menanti dosen-wanita-tua-ngeselin buat nguji robot gue. Dan pas dia datang, duduk di sebelah gue,... ROBOT BAJINGAN SIMALAKAMA NGGAK BISA JALAN LAGI!!! KAKINYA KONSLET! KAMERANYA NGGAK BISA NGOTRET! DIA JUGA NGGAK BISA DIKENDALIKAN DARI JARAK JAUH!!!!

Gue dimarahin. Diancam nggak lulus. Gue melas. Dan gue ditunggu tiga hari berikutnya buat nguji ulang. Kesempatan terakhir. 

Singkatnya lagi, hari itu pun tiba. Alhamdulillah, robot gue bisa berjalan dengan baik, dia tidak bajingan. Dia robot yang mengerti majikannya. Semua modul, berfungsi. Dia bisa berjalan, bisa ngotret, dan bisa dikendalikan dari jarak jauh. Gue duduk santai nunggu dosen di ruangan. Semua mahasiswa udah diuji, cuma gue doang satu-satunya mahasiswa yang belum sidang program. Sebelum mulai diuji, robot-nya gue test dulu. Lancar!

Hingga saatnya dosen itu masuk ke ruangan. Gue dengan mantap menyalakan laptop dan bersiap mengendalikan robot. Begitu gue mau masuk ke sistem si robot lewat jaringan wifi kampus,... MENDADAK JARINGANNYA MATI! MATIIII! SUNGGUH WIFI BAJINGAN SIMALAKAMAAA!

Pada dasarnya, kuncinya adalah jaringan. Kalau nggak ada jaringan, robot nggak akan bisa dikendalikan. Kalau robot nggak bisa dikendalikan, artinya gue nggak akan lulus. Dalam teori silogisme pernyataan gue memiliki arti,... KALAU NGGAK ADA JARINGAN YA GUE NGGAK AKAN LULUS! 

Gue panik. Langsung izin keluar ruangan buat nyari dosen pembimbing dan nanya ruangan mana yang jaringannya bagus. Beliau menunjuk salah satu ruangan. Gue pun menjelaskan ke dosen penguji buat pindah ruangan karena jaringannya buruk. 

Setelah 20 menit men-setting robot (karena kabelnya banyak), robot pun siap, jaringan pun bisa digunakan. Dosen penguji kembali masuk ke ruangan. Dan begitu mau dikendalikan, memasukkan perintah,... ROBOT SIALAN ITU KONSLET!!! KAKINYA KEJANG-KEJANG!!!!

Gue stress. Panik nggak keruan. Si dosen ngeliatin gue dengan tatapan lapar penuh amarah. Gue terus ngecek problema si robot, dan ternyata, daya listrik ruangan emang bermasalah, makanya dia konslet. Gue pun kembali mencoba menjelaskan ke dosen apa problemnya. Lalu terjadilah percakapan seperti ini:

Gue: Bu, bu, bu, ini konslet bu, tadi bisa kok bu di sana. Beneran. Serius. Saya nggak bohong. 
Dosen: Maksudnya?
Gue: Iya, jadi, tadi kan kalau di sana problemnya jaringan, nah, di sini, daya listrik, bu. 
Dosen: Jadi, nggak bisa gerak robotnya?
Gue: I-iya, tapi tadi bisa kok bu! Seriusan! Saya punya rekamannya kok!
Dosen: JANGAN BAHAS YANG TADI-TADI! SAYA PERLU BUKTINYA SEKARANG!
Gue: Yah, Bu, tapi, ini gara-gara...
Dosen: Satria, kamu mau mempermainkan, saya?

Sampai di sini, gue reflek pengin nutup mulut si ibu dosen dengan telunjuk sambil berkata, "Sayang, plis dengerin aku. Semuanya bisa aku jelasin...". Dia tetap nggak mau dengar penjelasan gue. Akhirnya, dia pun meninggalkan gue lalu berkata, "Sudah, saya tunggu kamu sampai jam tiga (artinya setengah jam lagi), kalau masih nggak bisa, saya nggak menjamin kamu lulus!"

DEG. 

Tuhaaan tarik akuu...

Jantung makin jedag-jedug. Keringat gue keluar dari mana-mana, dari kepala, jidat, leher, tangan, tembok, plafon. Dan ketika gue panik, temen seperjuangan pun datang. Lalu terjadilah percakapan seperti ini:

Temen: Sat, kenapa lo?
Gue: Robot gue error! Padahal tadi bisa di sana, pas di sini nggak bisa. Ada-ada aja nih. Di sana, jaringan wifinya mati, di sini, jaringannya ada, tapi kakinya konslet. Kayaknya gue nggak lulus.

Mendengar hal itu, dia langsung bergegas ngeluarin sesuatu dari ranselnya, lalu ngasih ke gue dengan gaya tangan kanan lurus ke depan sambil memegang sebuah benda layaknya iklan-iklan obat di TV-TV.

"Pakai ini!"

Katanya, sambil ngeluarin Bolt.

Gara-gara itu, gue langsung mencium hawa kemenangan. Gue balik lagi ke ruangan sebelumnya. Lari-larian buat mensetting robot. Gue melirik jam. Sisa 15 menit lagi! Setelah selesai, gue pun manggil dosen itu ke ruangannya, and theeeen.... yes! Lancar semuanya!

Perjuangan terberat gue kerasa sampai di sidang program. Buat di sidang akhir (sidang buku), semuanya lancar, tanpa ada halangan. Dan hasil dari semua itu......


Yuhuuuu, Satria Ramadhan S. Kom.

Btw, ini penampakan temen seperjuangan gue. Namanya Nickerson. Iye, emang datar gitu ekspresinya:


Dan ini cerita singkat tentang kita berdua:


Meski kedengarannya rumit, susah, ribet, dan penuh lika-liku buat ngelarin skripsi. Percayalah, ketika lo ngerjain skripsi atau ngerjain apapun yang menurut lo berat, inget ini: Nggak ada usaha yang sia-sia. Yang ada, kita selalu ngerasa usaha kita sia-sia. Jadi kalau lo udah bilang, "Yah, usaha gue sia-sia nih." Sebenarnya usaha lo masih belum maksimal, dan masih bisa dimaksimalin.

Kalaupun kemarin gue -meski udah doa dan usaha mati-matian ngerjain- tetap gagal, gue percaya, Tuhan udah nyiapin jalan yang lebih baik. Apapun hasilnya, kalau dilakuinnya dengan maksimal, selalu timbul kepuasan.

Sampai belum dinyatakan gagal, lo masih bisa (mungkin terus harus) usaha. Do the best will get the best. 

Siapapun anda dan di mana pun anda berada, tetap semangat dalam berjuang! 

... Dan jangan lupa beli Love Rebound. Cheers!

Senin, 27 April 2015

Karya Perdana [Part 3]

Standard
Ok, guys! Setelah bagian satu dan dua, kali ini gue mau ngepost tulisan Karya Perdana bagian terakhir! Yep, tulisan penutup tentang karya gue ini. Lumayan komplit kan, dari sebelum proses penerbitan (Part 1), saat proses penerbitan (part 2), dan sekarang, setelah proses penerbitan! 

Mungkin dari tanggal 23 kemarin ada yang berubah dari timeline gue. Iya, gue jadi lebih sering promosi buat pre-order Love Rebound daripada ngetwit nggak jelas biasanya. Ehe. Maapin. 

Jadi, #LoveRebound udah buka PO dari tanggal 23 April kemarin sampai tanggal 30 April mendatang. Ada yang belum tau kalau ada PO? Atau ada yang udah ikut PO? Ngacung sini!


Buat kamu yang pengin ikutan PO, bisa tuh ikut PO di toko buku online yang ada di bagian bawah banner, atau kalau nggak keliatan, cek di favorite Twitter gue aja ya. Ehe.

Dan buat kamu yang udah ikutan PO, fyi, semua toko buku online yang ada di bawah banner, baru dapat buku-buku gue dari penerbit tanggal 24 kemarin. Dan hari ini, tanggal 27, semua buku bakalan dikirim ke rumah kamu! Ihiw!


Naaaah, buat yang pengin beli buku gue di toko buku, kemungkinan bukunya bakal dijual akhir dari minggu pertama di bulan Mei (sekitar tanggal 7, dan ini pun cuma tebakan gue). So, bersabar yah!

Tapi khusus toko buku yang akan gue kunjungi buat roadshow nanti (Jogja, Solo, Semarang), begitu gue di sana, bukunya udah dijual kok! Jadi, jangan khawatir yah! Soalnya dari kemarin banyak yang mention intinya gini: "Yah, bukunya dijual di toko buku masih lama? Nanti pas lo talkshow gue nggak ada buku lo dong?!". Gitu. 

Btw, siapa nih yang dateng pas roadshow nanti? Absen dong! 


Untuk sementara, kota-kota di atas ini aja yang gue dan Oka kunjungi. Mau kota atau sekolah kamu dikunjungi Bukune? Coba mention @bukune sebanyak-banyaknya yah! Hehe. :D

And then,... ehm. Apalagi yes. Ehm. Nah! Kalau kamu udah nerima bukunya, setelah baca, tolong kasih kritik dan sarannya ya. Bisa lewat Twitter, Line, atau kalau ada yang mau review di blog juga lebih bagus. Saran dan kritikmu itu gue butuhkan banget buat karya-karya gue selanjutnya. Tenang, yang kritikannya jelek nggak bakalan gue block atau gue santet sampe perutnya bisa ngeluarin kandang hamster. Semua kritikanmu, bakalan gue terima.

Karena gue percaya, semakin banyak yang ngeritik, ilmu gue bakalan nambah. Hehe.

So, jangan sungkan buat ngeritik! And.... happy reading! Semoga tulisan gue bisa memberikan inspirasi. :-) 

Kamis, 16 April 2015

Lakuin ini Biar Nggak Ketipu Terong-Terongan

Standard
Baru-baru ini gue dapat followers instagram baru, username-nya @giskaanindyaputri. Yang cowok, boleh cek langsung. Bae-bae, jauhin tangan dari sabun. Celana juga iket yang kenceng, pake tambang biar nggak melorot. Jangan sampai anda lemas detik ini juga!

Nih, gue langsung kasih liat fotonya buat yang koneksi hapenya lemot. *wudhu*


Ini masih belum ada apa-apanya, masih banyak foto yang lebih ekstrim.

Awalnya, cewek ini nge-follow instagram gue. Follower-nya 6000 biji, sampai di sini, gue masih santai-santai aja. Mungkin dia temennya temen gue, kebetulan temen gue ini eksis juga di media sosial. Dan dia pun di-followback sama temen gue itu. Akhirnya, gue ikutan followback.

Sesaat setelahnya, tiba-tiba dia nge-add Line, dan nge-chat gue langsung. Sampai di sini, gue udah mulai curiga. Gue tanya temen gue. Dia bilang, akunnya asli (karena temen gue ini juga nge-followback karena temen-temennya pada followback). Tapi gue nggak langsung percaya, gue investigasi segala macem, dan akhirnya... DUAR! Akunnya palsu! Pemilik aslinya orang Filipina!

Anehnya, modus dia ini halus banget. Di Path (menurut temen gue), tiap dia ngepost foto, selalu ada yang komenin dan keliatan 'real' banget. Setelah gue dan temen gue selidiki, ternyata itu semua fake sodara-sodaraaaa. Dia ngontrol semua akun itu.

Gue emang susah ketipu sama modus penipuan dengan tipe seperti ini, soalnya gue udah sering banget ngebongkar akun terong-terongan kayak gini. Tapi kalau orang lain? Orang yang jomblonya udah tahunan? Kemungkinan besar bisa ketipu yang aneh-aneh. Bisa jadi pemerasan segala macem. Orang secantik ini gitu lho yang nge-chat, siapa yang nggak gemeter. Apalagi kalau diliat dari Instagram-nya, meyakinkan banget. Tiap dia ngepost foto yang komen banyak.

Biar kamu nggak ketipu, baik cewek atau cowok, sebelum kamu nyepik atau meladeni sepikannya lebih baik cek n ricek terlebih dahulu. Daripada capek ya kan, nyepik kan juga butuh kalori.

Cara biar tau dia asli atau palsu? Lakuin ini!

Cek Timeline-nya
Coba kamu perhatiin timeline-nya. Ada banyak hal yang bisa dibedain dari cewek-biasa-beneran-cantik dengan cewek imitasi. Di jaman sekarang ini, cewek-biasa-beneran-cantik, jarang ngetwit. Sekalinya ngetwit, mungkin hasil link-an dari Path, Instagram, atau unfollowers. 

Kalau isi timeline-nya ngegalau mulu, sekalinya mention nyepik dan ngegodain orang (biasanya yang followers-nya banyak), itu udah indikasi kalau dia terong-terongan tuh, waspada!

Selain itu juga, coba kamu amati jumlah followers-nya. Yang namanya cewek cantik, followers-nya banyak. Kalau followers-nya dikit, apalagi di jaman sekarang ini di bawah 200, wah, terong-terongan tuh! Trust me! 

Ya meskipun nggak sepenuhnya bisa dibuktiin dari jumlah followers sih. Mungkin ada juga cewek cantik yang followers-nya dikit, di bawah 200. Mungkin.


Cek Mention-nya
Kalau ternyata si cewek cantik itu berfollowers banyak, jangan langsung kesenangan dulu, coba cek mention-nya. Cewek-biasa-beneran-cantik, ehm, mari kita singkat CBBC biar enak, pasti pernah mention-mentionan sama temennya. Kamu search aja akun Twitternya, ada yang mention, nggak? Mention-nya bukan akun bot yang lagi promote akun motivasi, tapi ngobrol. Kalau ada, kamu boleh tenang.

Kalau belum ada, siaga dua!

Cek Feedback Followers-nya
Coba beralih ke Instagram. Cek foto-fotonya. The real CBBC, mau ngepost kuku aja pasti dikomeninnya yang bagus-bagus. "Ih, kukunya cantik deh! Maukk!" padahal bentuknya segitiga.

Kalau foto kuku aja dikomenin, gimana selfie. Yang komen pasti banyak, kayak si @Giskaanindyaputri ini. 

Nah, kalau dia komennya banyak, jangan langsung menyimpulkan kalau dia real. Cek dulu, yang komen siapa. Lelaki haus belaian atau bukan? Yang harus kamu ingat, cewek cantik selalu punya temen-temen yang cantik. Dan temen-temen yang cantik ini, pasti bakalan komen dengan "Ih, cantik banget sih" atau sejenisnya. 

Nggak cuma "Ih, cantik banget sih" aja sih sebenarnya. Bisa juga komen-komen ngeselin kayak, "Cek ig kita sis, ada tank leopard baru lho" semacam gitu lah.

CBBC kenalanmu komennya bersih? Like-nya dikit? Siaga satu!

Cek Tag-an Fotonya
Kalau dulu di Facebook ada Photos of You, di Instagram juga ada. Letaknya di pojok kanan atas buat yang belum tahu.

Nah, kamu klik deh itu. Kalau memang ada tag-an foto dari temannya, berarti dia real!

CBBC kenalanmu nggak ada tag-annya? Waspada!

Resapi Kalimat Ini: "Cewek Cantik Ogah Memulai Duluan"
Yang harus kamu resapi dan tanamkan pada pikiranmu adalah: "Cewek cantik ogah memulai duluan". Lengkapnya, "Cewek cantik ogah memulai duluan apalagi di media sosial". Jangankan cewek cantik, cewek yang biasa aja suka ogah memulai duluan.

Tentu ada pengecualiannya. Cewek cantik mau memulai duluan, asalkan ke orang yang udah dia kenal dan pernah ketemu langsung.

CBBC kenalanmu nge-chat duluan padahal belum kenal dan belum pernah ketemu langsung? Mampuuuuus mampus!

Sadar Diri
Pergilah ke cermin terdekat, lalu tanyakan pada diri sendiri: "Apa mungkin, dengan kondisi wajah seperti ini, cewek cantik mau?".

Kalau kamu sadar wajahmu nggak bagus-bagus amat, dan tiba-tiba ada cewek cantik yang nge-chat, kamu boleh meladeninya, asalkan,... kamu Kiwil. 

Kadar ketampanan seseorang, selalu kalah sama kadar kilogram emas.

Udah banyak banget akun fake yang pernah gue temui. Udah banyak juga yang gue bongkar. Mereka, si CBBC, umumnya agresif. Belum kenal kok udah agresif. Tapi di sisi lain seru banget sih kalau ketemu sama modus-modus kayak gini. Kalau abis ngebongkar, semacam ada kepuasan hati. Jadi serasa kayak detektif.

Buat cewek-cewek yang lagi disepikin cowok ganteng yang belum dikenal juga bisa lho pake cara ini!

Dan buat cowok-cowok yang kenal sama cewek cantik di media sosial, jangan seneng dulu. Jangan sampai kamu ketipu sama terong-terongan yes! Jangan buru-buru nyepik! 

Senin, 13 April 2015

Cara Biar Di-Followback

Standard


Gue baru-baru ini mengalami kejadian ngeselin. 

Mau tahu?

Rahasia.

Oke bercanda.

Kemarin-kemarin gue datang ke acara temen di Kemang, nama tempatnya 365. Kebetulan gue sering main di daerah Kemang. Begitu dapat undangan buat datang ke sana, dengan mantap gue ngeiyain, tanpa memastikan rute tempatnya. Gue mikir, gue kan sering lewat tempat itu, ngapain juga ngecek di Waze lagi. Tapi begitu nyampe sana, deg! Gue salah tempat. Gue malah ke 678, bukan ke 365. (Lagian, siapa suruh nama tempatnya sama-sama pake angka. Gue pikir yang gue maksud bener.)

Gue melirik jam, acaranya udah mulai. Niat awalnya gue emang kepengin dateng agak ngaret sedikit, satu jam. Dari rumah gue mau mampir dulu ke suatu tempat, lalu makan. Nyasar nggak termasuk di rencana ngaret ini. Kalau nyasar gue bisa lebih lama. Kan nggak lucu gara-gara nyasar, begitu sampai di sana yang punya acara bilang, "Satria, ke mana aja kamu selama belasan tahun ini?"

Gue dengan panik balas-balasan Line sama temen, nanyain rute tempatnya. Gue cek Waze, nggak ke-detect. Kali ini gue benar-benar tergantung instruksi teman. Tapi begitu lagi asik-asiknya nge-Line, tiba-tiba ada chat masuk.

"Assalamualaikum" 

Gue langsung ingat perkataan guru ngaji gue dulu, salam harus dibalas. Kalau enggak, dosa. Dan gue udah baca kalimat salamnya. Karena nggak mau pahala yang udah tipis ini makin nipis, gue pun membalas.

"Walaikumsalam"

Lega.

Tapi sesaat kemudian, notif Line masuk lagi. Gue yang menanti balasan temen, langsung buka tanpa ngeliat pengirimnya terlebih dahulu. Gue pikir itu temen gue. Tapi begitu gue buka, pesannya:

"Maaf kak ganggu. Followback Twitter, ya. Makasih sebelumnya."

Baju gue langsung robek-robek. Badan gue membesar. Kulit gue langsung berubah jadi warna hijau.

Kesel? Iyabet. Gue lagi buru-buru malah minta followback.

Mungkin kalau orang kayak gini hidup di jaman nabi, begitu nabi bilang, "Wahai pengikutku" dia akan balas dengan lantang, "HEEEH! WAHAI-WAHAI! GANTIAN! FOLLOWBACK!"

Buat kamu yang masih suka minta followback dengan ngemis-ngemis, caramu itu nggak asik lho. Bikin orang jadi mikir "Apa bet nih orang". 

Mau difollowback tanpa harus ngemis-ngemis? Kamu harus gini:


Nyamber 
Misalnya kamu pengin minta followback sama si A. Nah, kalau dia ngetwit, nyamber aja. Misal:

"@A: Film Maria Ozawa yang baru keren banget."

Kamu samber:

"@kamu: @A betul, gue paling suka di adegan waktu dia belajar tajwid."

Jangan kayak gini:

 Apalagi kayak gini:

Kalau udah nyamber masih nggak di-followback, berarti kamu nggak penting buat dia. Gitu lho.

Timeline-mu Menjanjikan
Minta followback itu masuk ke kategori pemaksaan. Apalagi kalau minta followback-nya di Instagram, bayangin aja, kita dipaksa buat ngeliatin foto-foto dia. Mending kalau enak dilihat, kalau di fotonya banyak foto telanjang dada dengan daki pusar di mana-mana, gimana? Mual, pak.

Makanya, sebelum minta followback, kamu harus sadar dulu apa yang menjanjikan dari timeline-mu. Apa yang kamu bisa perlihatkan dan kamu 'jual'. Misalnya, akun @adadiskon, dia difollow karena selalu ngasih info diskonan. Misalnya lagi, akun @satriaoo. Dia difollow karena selalu ngasih tips tentang kiat-kiat menjadi selingkuhan ratu Inggris.

Kalau timelinemu nggak menjanjikan, ya udah, itu penyebabnya kenapa nggak di-follow.

Jadi Teman atau Kerabat Kerjanya
Kalau udah jadi teman atau kerabat kerjanya, tentu konten timeline-mu nggak akan dinilai. Kamu mau nge-post apa aja, nggak masalah. Pasti di-followback.

Tapi kalau kamu udah ngerasa temenan tapi nggak difollback-follback, bisa jadi ada yang salah di timeline-mu. Mungkin nyampah. Atau bisa juga cuma kamu yang nganggep teman, dianya enggak.

Jadi Ganteng/Cantik
Nggak perlu dijelasin lagi lah ya kenapa.

Kalau kamu ngerasa nggak ganteng atau cantik, ayo jangan patah semangat, coba operasi plastik.

... wait! jangan plastik deh, global warming. Pake totebag! 



Sandra Ayahnya
Kamu menyelinap ke rumahnya, lalu culik ayahnya dan bawa ke tempat persembunyian.

Setelah itu, minta tebusan.

"MAU AYAHMU BEBAS?! FOLLOWBACK!!!!"

Itulah sedikit pencerahan buat adik-adik dan kakak-kakak sekalian. Semoga budaya followback-nya menghilang. Jangan sampai ada sinetron baru yang judulnya "Cantik-Cantik Minta Followback".


Assalamualaikum.

Minggu, 12 April 2015

Karya Perdana! [Part 2]

Standard
Beberapa waktu lalu gue posting di blog mengenai pengumuman buku gue yang akan terbit. Nah! Sekarang, gue bakalan ngumumin kelanjutan tentang buku gue ini. 

Ehm, mulai dari mana ya?

Oke, dari cover buku.

Kemarin-kemarin gue sempat post di Twitter buat voting cover mana yang enak buat dijadiin buku gue kelak. Ada tiga cover yang jadi opsinya:


Dari ketiga ini, pemilihan cover masih alot. Mayoritas milih nomor satu dan tiga, akhirnya setelah dihitung (padahal enggak), satu nomor dieliminasi, yang nomor dua. Soalnya sedikit banget yang milih.


Dari post-an itu, gue juga minta saran ke pembaca tentang cover ini enaknya gimana biar bagus. Apa yang harus dikombinasikan. Font judul bukunya kah, font nama penulisnya kah, atau muka penulisnya kah yang diganti. Dan ternyata, banyak yang ngasih saran kalau coba cover nomor tiga, font judul buku dan nama penulisnya diganti kayak cover yang nomor satu. Syukurlah, untung nggak ada yang minta muka penulisnya yang diganti.

Akhirnya setelah diedit-edit oleh desainer cover Bukune @ayuwidjaja, jadinya seperti ini:
Tinggal dua!

Lalu gue voting lagi di Twitter dan IG, dan yak! Yang menang sebelah kanan! 

Fyi: gue satu-satunya lho cover buku dengan foto yang merem-cool-unyu-andrewgarfieldbanget gitu. Anti-mainstream, kan? Makanya, nanti kayaknya bakal ada kontes ngirim foto dengan hestek #MeremKece buat dapetin buku gue. Pasti seru. Ikut ya!

Lanjut ke pengumuman selanjutnya!

Konon katanya, buku gue hari ini udah terbit lho! Tapi, belum tau deh kapan beredar di toko bangunannya. Mungkin dua minggu lagi.

Lanjut lagi!

Konon katanya, buku gue harganya 45 ribuan lho! Ada sih yang harganya 20 ribu. Tapi gitu, halamannya ngacak. Abis halaman 1, langsung 30. Dirandom gitu.

Lanjut lagi!

Nah, ini dia nih yang paling akhir. Mau diadain PO nggak ya? Kata pihak penerbitnya, kalau mau adain PO, tanya dulu ada yang mau atau enggak. Kamu mau? Kalau iya, tulis di kolom comment ya. Soalnya bukannya apa, kalau gue dengan pedenya langsung nge-iya-in buat ngadain PO tapi ternyata nggak ada yang beli, kicep juga. Masa semuanya gue yang beli.

Btw, dengan kamu ikutan PO, keuntungannya lumayan: dapet lebih cepat sebelum bukunya beredar di toko ikan hias, dapet tandatangan (hehehehe), dapet diskon!!! DISKOOONN!!... dan PO ini terbatas, gaan!


Kalau mau, tulis di kolom komen ya! Thanks!


-Andrew Garfield-



Sabtu, 04 April 2015

Cinta Monyet!

Standard
"Kecil-kecil kok buta"

Nggak ada yang salah dalam mencintai seseorang. Rasa cinta selalu timbul dengan sendirinya, ada juga yang bilang rasa cinta muncul karena terbiasa.

Gue jadi ingat dulu sewaktu kecil, sewaktu masih SD, gue punya satu wanita yang gue cinta. Yap, mungkin terlalu dini kalau bilang namanya "cinta". Setiap hari gue merasakan hal yang mungkin nggak lazim oleh anak-anak seumuran delapan tahun rasakan; dada berdebar-debar, selalu menanti pagi hari, dan gue benci hari libur. Benci hari libur? Tentu, ini hal yang paling aneh. Anak kecil selalu haus akan bermain, tapi untuk gue saat itu, tidak. Gue rela kalau harus masuk sekolah seminggu full sekalipun. Dan belakangan gue baru sadar; kalau saat itu gue lagi jatuh cinta.

Setiap hari gue memandangi wanita itu, dan berbuat apapun hanya untuk satu tujuan; bisa berinteraksi dengan dia. Gue masih ingat betul ada satu hal kejadian terbodoh yang pernah gue lakukan ke dia. Kami pernah main polisi-polisian bersama. Saat itu, peran gue jadi polisi. Dan dia, jadi maling. Tentu dalam permainan ini banyak teman yang perannya jadi "maling", tapi sedari awal, yang gue kejar adalah dia, wanita itu. Gue mengejarnya tentu tidak seperti polisi biasa, gue menikmati adegan kami kejar-kejaran. Cara berlarinya, kecepatannya, sampai teriakannya pun gue ingat, sampai sekarang. Hingga akhirnya gue mencoba menarik lengannya dari belakang. Mungkin tarikan gue terlalu keras sampai-sampai dia terjatuh, berdarah,... dan benci sama gue.

Semenjak hari itu dia nggak mau ngomong sama gue lagi. Setiap kita bertemu, dia selalu memalingkan muka. Gue ngerasa bersalah. Rasa ingin sekolah setiap hari, berubah menjadi rasa ingin libur setiap hari. 

Saat itu, pada umur delapan tahun, gue mencintai wanita itu tentu tanpa alasan. Dia cantik? Enggak. Dia kaya? Juga enggak. Masih terlalu dini buat gue untuk tahu masalah cantik dan kaya. Yang gue tahu saat itu adalah; gue mau terus bersama dengan dia. Sesederhana itu.

Semakin ke sini, gue semakin dewasa. Gue juga tahu yang mana cantik dan yang mana kaya. Gue juga punya tipe pasangan idaman sendiri, yang akhirnya memperibet, dan bikin gue berpikiran; gue harus balik kayak dulu lagi, yang mencintai seseorang tanpa banyak mikir. Hanya sesederhana: gue mau terus bersama dia.

Raditya Dika pun lewat Cinta Brontosaurus mengatakan: "Ketika kita mencintai seseorang, kita harus kayak anak kecil, apa adanya. Nggak usah banyak mikir alasan. Hanya sesimple: aku sayang dia. Cukup."

Tentu gue setuju, sangat setuju. Sampai akhirnya gue tersadar, pada umur ini, pada detik ini, pada tulisan ini, kalau:

Untuk MENCINTAI seseorang memang harus seperti anak kecil, tapi untuk MENDAPATKAN CINTA seseorang, kita harus tau kita itu siapa.


Have a nice day, everyone.

Kamis, 26 Maret 2015

Karya Perdana! [Part 1]

Standard
HUARGH! AKHIRNYA SELESAI JUGA! *Benerin dasi*

Setelah berabad-abad dalam menyelesaikannya, akhirnya karya perdana gue jadi! yeah! 

Tepuk tangan...

Jujur, gue sendiri aja yang nulis dulu bingung terbitnya kapan, apalagi orang-orang. Udah banyak banget yang nagih karya perdana gue ini. Di mana-mana pada nanyain:

"Bang, bukunya kapan jadi, Bang?"

"Bang, kapan terbit, Bang?"

"Bang, kiri, Bang"

Tapi gue cuma bisa jawab "Nanti ya, dikabarin". Awalnya sempat galau juga, kelarin atau enggak ya? Tapi makin ke sini, gue ngerasa kayak ada hutang buat para pembaca. Dan gue juga emang pengin banget punya karya nyata yang bisa gue kenang di masa tua nanti. Seenggaknya gue bisa pamer ke anak-cucu nanti, "Nih liat, kakek ganteng kan pas muda?" #halah

Atas bantuan editor gue (@edoding) yang udah gigih banget buat nerbitin buku ini, akhirnya buku ini kelar juga. Ya, kalau aja editor gue nggak bawel, mungkin nggak akan selesai-selesai. Terima kasih, Edoding!

Karena mungkin kurang lebih dua minggu lagi naik cetak, gue mau membeberkan tentang apasih yang ada di buku gue ini. Seenggaknya, calon pembaca jadi kebayang isi buku gue seperti apa. Biar nggak ada yang merasa tertipu pas udah beli. Jadi ketika udah gue kasih tau tentang apa aja isi tiap bab, semoga kalian udah bisa menilai layak atau enggaknya buat dibeli ya. Hehe.

Pada dasarnya, buku ini tentang ketakutan gue, tapi gue kerucutkan menjadi ketakutan-ketakutan dalam hal percintaan (tentu dikemas dengan basket). Buat masalah genre, genre-nya... hmm... apa, ya? Komedi? Nggak juga deh kayaknya. Romance? Hmm, ya nggak juga, karena mungkin nggak akan ada banyak quote-quote 'ngena'. 

Kenapa gue nggak berani mengkategorikan buku ini ke arah komedi atau romance? Karena kalau gue bilang komedi, akan terbentuk ekspektasi yang tinggi ke kalian, dan mungkin yang akan jadi pembandingnya adalah buku Raditya Dika. Jelas, gue kalah. Ehe. Da w mah apa atuh.

Romance? enggak juga, karena nggak ada kisah yang menyedihkan atau kisah yang ngena banget kayak novel romance. 

Jadi kalau ditanya buku gue ini genre-nya apa? Mungkin jawabannya Lebih-Berat-Ke-Komedi. Gitu deh pokoknya. 

Biar kebayang, ini dia isi tiap bab yang akan gue ceritakan nanti di buku gue yang judulnya Love Rebound:

BAB 1: gue pernah punya pacar posesif, karena gue orangnya nggak keenakan, di sini, gue akan nyari cara buat mutusin dia biar nggak nyesek-nyesek amat.
BAB 2: menceritakan tentang nyokap gue yang agamis banget. (tentu ceritanya bukan ini aja, nyambung, tapi nggak gue kasih tau tentang apalagi, nanti spoiler. :p)
BAB 3: tentang sohib gue yang LDR-an.
BAB 4: pernah gue ceritain bab ini di blog, iya, yang gue dirampok. Tapi ini full version. 
BAB 5: tentang gue kenalan sama cewek, tapi gagal gara-gara otak gue konslet.
BAB 6: tentang gue kencan sama cewek freak. Ceweknya punya kebiasaan aneh. Serem~
BAB 7: tentang gue difriendzonin alias ditolak sebelum nembak. :')
BAB 8: tentang gue memperjuangkan seseorang. (di blog ini juga ada, tapi di sini full version) :')
BAB 9: ini akhir dari semua cerita.
BAB 10: tentang Love Rebound
BAB extra: tentang masalah-masalah followers yang pernah gue tanya di Twitter dengan hestek #isengnanyaah. Sekitar 15 orang masuk.


Hmm, segitu aja, buat kover mungkin minggu depan. Jadi belum ada yang bisa gue tampilkan bentuk desain bukunya. hehe. Semoga karya gue nggak mengecewakan ya! :))

*UPDATE

ketinggalan, premis bukunya. Premisnya: Gue pengin punya pacar, tapi... gitu deh, semuanya gara-gara ketakutan!

Senin, 09 Februari 2015

#AsalUsulAsal Pensil Alis

Standard
Alkisah, pada abad ke-16 hiduplah salah seorang perempuan kaya, bernama Alice, yang tinggal di salah satu desa di benua eropa sana.

Sekilas, Alice terlihat seperti anak rajin. Dia memakai kacamata, juga selalu memakai tas ke mana-mana. Namun siapa sangka, ternyata dia anak yang pelupa. Semua berawal di suatu hari, saat Alice sibuk meneriaki mamahnya yang lagi masak di dapur.

“KACAMATAKU HILANG!” kata Alice.
“Di kepalaaaa…”
“Oh iyaaaaaah!” “TAS AKU?”
“Di punggung…”
“Ups…” “UANGKU?!”
“Di tuyuuuul…”


“Hah Tuyul?! Tuyul itu siapa??!” saut Alice, kesal.
“Tuyul itu… rahasia.”

Sejak saat itu, Alice membenci ibunya. Ibunya enggan mengasih tau siapa tuyul dan di mana keberadaannya. Belakangan diketahui, ibunya berbuat seperti itu, agar Alice menjadi pribadi yang mandiri. Yang nggak sedikit-sedikit nanya ke ibunya.

Alice pun memutuskan untuk mencari tahu sendiri siapa itu tuyul.

Pertama-tama, Alice menanyakan siapa Tuyul kepada Wikipedia. Tapi, pada zaman itu belum ada Wikipedia, makanya nggak jadi nanya. Kedua, Alice menanyakan tentang Tuyul kepada abang-abang penjaga warung.

“Bang, tolong bantu saya. Tuyul itu siapa?!”
“Oh, itu, anak muda,” kata si abang-abang, “Kepercayaan terhadap sesuatu yang dianggap ada, padahal sebenarnya nggak ada.”
“Itu takhayul, bang,”

Ternyata penjaganya tuli.

Alice frustasi. Berhari-hari dia mencari tahu tentang Tuyul yang mengambil uangnya, tapi nggak ketemu-ketemu. Pada suatu malam, ada kakek-kakek tua berbaju hitam menghampiri Alice yang tengah tertidur di sebuah gubuk sawah yang tak terurus. Alice bertekad nggak akan pulang ke rumah, sebelum dia tau siapa itu Tuyul.

“Anak muda,” kata si kakek.
Alice pun terbangun dari tidur pulasnya. “Ya, ada apa, Kek?”
“Kamu ingin tahu siapa itu Tuyul?”
“Betul, Kek! Kakek tau?! Gimana caranya?!”
”Caranya? Ketik Reg…”
“KEK!”
“... Kakek cuma bercanda.” “Caranya, kamu cukup pulang ke rumah, lalu cukurlah alismu. Niscaya, kamu akan melihat Tuyul...”
“Serius, Kek?!”
“NOAH!”
“KEK!”
“... Kakek cuma bercanda.”
Alice pun bergegas berlari ke rumahnya, ke kamar, lalu mencari sebilah pisau untuk mencukur kedua alisnya. Tanpa ada rasa ragu, dia mencukur dengan penuh semangat. Pertama-tama, dia cukur alis kanannya. Kemudian, alis kirinya.

Sesaat kemudian, setelah kedua alisnya tak ada lagi, dia melihat anak kecil botak bercelana dalam putih masuk ke kamarnya. Anak kecil itu membongkar laci meja rias Alice, tempat Alice menyimpan uang.

“HEH KAMU! KAMU PASTI TUYUL KAN?! KAMU YANG NGAMBIL DUIT SAYA WAKTU ITU?!” bentak Alice.
“I-iya… T-tapi…”
“TAPI APA?!”
“Itu disuruh mamah..”
“Mamah?”

Ternyata itu adiknya Alice. Dia bernama Tuyul. Alice lupa kalau dia punya adik.

Lewat dari hari itu, Alice sungguh menyesal telah mengikuti perintah si kakek-kakek. Dia sering melamun di depan cermin, memerhatikan mukanya yang jadi aneh semenjak nggak ada alis.

Berhari-hari dia merenung dan menunggu, lalu bertanya-tanya, kenapa alisnya nggak numbuh-numbuh. Berbagai cara dia lakukan agar alisnya numbuh. Mulai dari cangkok alis, sampai mengadakan gerakan menanam satu hari satu alis. Tapi, hasilnya nihil.

Sampai suatu ketika, dia melihat adiknya, Tuyul, sedang mengerjakan tugas menggambar dari sekolahnya. Saat itu, Tuyul menggambar gunung lengkap dengan matahari di tengah-tengah, sawah, juga burung.

“Yul, itu apa namanya?” kata Alice, memerhatikan benda yang dipegang Tuyul.
“Pensil, Kak.”           
“Kok pake pensil?”
“Biar ngapusnya gampang, Kak,”
Alice manggut-manggut, sambil memerhatikan gambarnya Tuyul.
“Yul, ini gambar apa?”
“Burung, Kak,”
“Kok kayak kakak kenal ya gambarnya?”
“Itu kayak alis kakak, Kak!”

Alice terdiam, mengelus-ngelus dagu, dengan gerak terburu-buru, dia meminjam pensil adiknya saat itu juga untuk bereksperimen. Berjam-jam dia habiskan di depan cermin, hanya untuk mengembalikan alisnya yang telah lama dia cukur. Awalnya, bentuknya seperti ini...

Terinspiras dari gambar burungnya Tuyul...

Lalu...

Niatnya biar gampang, tapi malah hancur...

Karena usahanya yang keras dan tak kenal putus asa, akhirnya bentuknya pun menjadi....

Khan maeen...

Alice menyadari, ternyata, bikin alis itu susah. Butuh berjam-jam biar bentuknya sesuai dengan keinginan. 

Alisnya pun balik lagi, meski dengan bantuan pensil.
  
Seiring berjalannya waktu, Alice merasa nggak enak kalau harus terus-terusan memakai pensil milik adiknya. Dia mikir, sungguh sangat tidak adil kalau harus membiarkan adiknya menggambar dengan tangan kosong. Emangnya berantem.

Dia pun memutar otak, lalu menciptakan sebuah pensil baru, yang bernama, pensil Alice. Pensil khusus alis.

-TAMAT-