Sabtu, 13 Desember 2014

Ngomongin Film: Stand By Me Doraemon

Standard
Pertama kali diumumkan film Doraemon (yang katanya serial terakhir), diberikan kesan kalau film-nya bakalan sedih. Ditambah lagi dengan tagline-nya "Sedia tisu yang banyak". Dalam pikiran gue pas ngeliat itu semua: Gila! Ini bakalan ada adegan yang mengharukan banget nih! Siapa nih yang berani-beraninya ngehamilin Doraemon?



Respon dari masyarakat begitu film-nya release pun gila-gilaan. Gue liat di Twitter, katanya, di mana-mana bioskop penuh. Antrean tiketnya mengular. Nassar ingin bercerai. Gue jadi penasaran sama film-nya. Kira-kira kayak gimana sih film-nya?

Gue dari dulu emang suka banget sama film Doraemon. Jadi begitu pengin nonton film-nya, ada ekspektasi yang tinggi dengan film ini. Orang katanya film terakhir gitu lho. Masa nggak seru. 

Dari awal film-nya mulai, gue menikmati jalan ceritanya. Suatu ketika gue ngeliat jam, "Waduh, udah jam lima lewat lima belas nih (gue nonton jam setengah lima), mana konfliknya???". Struktur pembuatan film (menurut gue yang sotoy ini) biasanya terdiri dari: awal (biasanya di bagian ini perkenalan tokoh-tokoh, dan apa yang diinginkan tokoh utama dalam film ini) ---> masuk ke konflik (dia pengin ngelakuin apa yang dia inginkan, tapi terbentur masalah) ---> ending. Gue nggak melihat sama sekali ada konflik yang kuat di dalam film ini. Premis yang gue dapatkan dari film ini adalah seorang remaja culun yang ingin mengubah masa depannya. Tapi konfliknya nggak kuat. Kenapa gue bilang nggak kuat? Di sini Nobita pengin mengubah masa depannya. Yang pertama masa depan nasibnya (harta dan keluarganya), yang kedua istrinya. Yang menjadi poin penting adalah:

PERTAMA. Di awal, nasib Nobita di masa depan diperlihatkan seperti ini (gue nggak mau spoiler), tapi di akhir? Nggak diliatin.

KEDUA. Di awal, Nobita nikah sama si ini, tapi di akhir? Ya sesuai dengan keinginannya, TAPI, untuk mendapatkannya, bagi gue sangatlah mudah. Semua berjalan mulus. Inilah letak kelemahan konfliknya.

Misal, bayangin Nobita pengin beli kue rangi dari Bogor ke Tambun. Di film ini, yang gue tangkap si Nobita ke sana naik bis, dan di jalan, bisnya kena tilang gara-gara spionnya berbentuk limas, lalu sehabis damai sama polantas, jalan lagi, trus sampe deh. Simpel. 

Coba bayangin kalau si Nobita pas naik bis menuju Tambun, di jalan dia nyasar, yang tadinya pengin ke Tambun, malah ke Honduras. Ternyata dia naik bis yang go internasional. Kalau gini, bakalan lebih menarik kan ceritanya? Penonton pasti akan bertanya-tanya: "Wah, gimana ya dia bisa balik lagi ke Tambun? Berapa kali nanya penjaga warung, ya?" yap, ini yang gue kecewa dan kecewe sama film-nya. Kenapa konfliknya nggak menonjol.

Kalau gue tangkep, si pembuat film hanya ingin menonjolkan sisi sedihnya aja dengan si Nobita yang kehilangan Doraemon. Tapi menurut gue, sedihnya malah nggak dapet. Di awal emang sih, karakter Doraemon ini diperlihatkan sebagai robot yang benar-benar berguna untuk Nobita, tapi di akhir-akhir, jalan ceritanya kurang menunjukkan kalau Nobita itu nggak pantas kehilangan Doraemon. Penonton kurang dibuat sampai ngomong "Ya ampuuun, Doraemon jangan ninggalin Nobita dong. Kalian tuh cocok, masa pisah, sih" atau sejenisnya yang mengungkapkan kesedihan penonton sekaligus penyesalan kenapa Doraemon harus ninggalin Nobita.

Tapi dari sisi komedi, lumayan lucu. Muka Nobita-nya ngeselin. Tapi itu tadi, gara-gara opininya digiring ke film yang sedih-sedihan, jadi pas dimasukin unsur komedi, malah nggak pas. (ini menurut gue sih. Hueuheuehuhe) Terutama di bagian yang sebenarnya sukses membawa penonton ke suasana sedih, tapi sayangnya malah diselipin komedi. Ibaratnya barusan mau netesin air mata, eh, malah dibikin ketawa.

Dan yang paling gue bingung............. KENAPA DI PATH PADA UPDATE KALAU FILM-NYA SEDIH BANGET YA???! Apa selera sedih gue yang cemen? 

Beklah, sekian~ semoga bermanfaat~ semoga tulisan gue nggak termasuk spoiler ya~ tapi emang nggak sih~








18 komentar:

  1. Pertamax nih haha.
    beneran ya? Aku mau nonton, tapi katanya cuma ada di blitz megaplex ya? Banjarmasin cuma ada XXI, mereka gak beli filmnya :((((

    BalasHapus
  2. Di filmnya gak menampilkan kenapa Nassar mulai bosen sama Musdalifah. Kecewa. Harusnya disitu letak kesedihannya..

    BalasHapus
  3. Gak paham sm postingan lo :/ gue baca cepet. Pgn buru2 ke akhir. Heuheuheue😥😥

    BalasHapus
  4. Trus konflik Nassar Muzdalifah gmna? Kenapa ga pake pintu kemana saja-nya doraemon ajasih biar tau endingnya! Jelasin bang jelasin! :(

    BalasHapus
  5. Padahal trailernya menggoda iman buat bener-bener bawa tisu yang banyak pas nnonton 'tar :/

    BalasHapus
  6. kalo menurut lu bang, rating yang pas dikasih berapa? 1 sampai 10

    BalasHapus
    Balasan
    1. 6.5 kalau buat standar film bioskop. :/:/:/

      Tapi okelah film ini kalau cuma buat sekadar 'bertemu' dengan Doraemon.

      Hapus
  7. Wajar kalo lo gak nangis bang. Lo cowok yang kuat.

    BalasHapus
  8. Sama deh, Sat. Aku nonton juga ngga nangis. Padahal sebelah aku sampe nangis 'misek-misek'. Apa selera sedih aku cemen ya.

    BalasHapus
  9. Bang Satria, aku baru nonton nih. Padahal aku udah tau ceritanya di komik, tapi masa aku nangis nontonnya. Menurutku efek grafik sih, 3D dan alus banget jadinya kesannya nyata gt, soalnya pas baca komiknya aku ga nangis, komuknya nobita babak belurnya kocak sih (?) Kalo yg ini bener2 kasian, huwahahahaa.

    Btw, aku donlot, di Medan ga ada blitz sihT_T <--ini bagian tersedihnya.

    BalasHapus
  10. Nangis dan sedih karena belum nonton tapi gajadi sedih nding wong katanya ga sedih yaudah gajadi sedih

    BalasHapus

Komenin Ya!