Sabtu, 27 Desember 2014

Kepada Orang yang Baru Punya Pacar

Standard
Seringkali kita ngeluh ke teman kita yang baru punya pacar. Kira-kira keluhannya seperti ini: “Giliran sendiri aja nyusahin, giliran punya pacar ngelupain.”, “Lagi berantem aja baru ke sini”, “Nggak nyangka ya umurnya secepat ini” (ini buat yang temennya baru jadian langsung dimutilasi)



Sebagai teman, orang yang baru punya pacar hendaklah kita ingatkan, bukan diam-diam kita perbincangkan. Kami, sebagai temanmu di sini, ingin mengingatkan kepada kamu yang baru punya pacar.

Kepada kamu yang baru punya pacar, seringkali kamu menghabiskan detik demi detik waktumu hanya untuk sang kekasih, tanpa celah. Mungkin menurutmu, terlalu berharga waktumu kalau harus dihabiskan untuk kami, temanmu. Bahkan pekerjaanmu.

Kepada kamu yang baru punya pacar, kamu memang setia, mungkin di atas level setia. Kami tau, kesetiaanmu pada kekasih sampai-sampai bisa melupakan idolamu, orang ganteng/cantik yang ada di sekelilingmu, lalu menganggap kekasihmu ialah satu-satunya makhluk yang pantas kamu puja.

Kepada kamu yang baru punya pacar, kamu memiliki penglihatan masa depan yang baik. Kamu bisa melihat di masa depan nanti kamu akan bahagia dengan kekasihmu. Tak khayal sering kami dengar ataupun lihat, kamu kerap mengucap kata-kata manis ataupun janji, terhadap pasanganmu.

Kepada kamu yang baru punya pacar, kami tau, apapun pasti akan kamu lakukan, demi kekasihmu, tanpa malu dan ragu.

Kepada kamu yang baru punya pacar, kami tau, pacarmu adalah sesuatu yang teramat berharga menurutmu. Kamu kerap menunjukkan kepada dunia ‘luar’ kalau pacarmu adalah yang terbaik dari yang terbaik. Semua orang berhak tau kalau pacarmu sangat istimewa. Kamu memang pasangan paling bahagia, yang kami lihat dari media sosialmu.

Kepada kamu yang baru punya pacar, kami, temanmu, hanya ingin mengingatkan. Yang kamu lakukan semuanya adalah proses ‘pencarian sesuatu' terhadap kekasihmu. Ketika kamu menganggap orang yang baru mengisi hidupmu adalah jodohmu, belahan jiwamu, atau seseorang yang pantas jadi ibu atau ayah dari anak-anakmu, itu karena kamu sedang penasaran. Sekali lagi, penasaran.

Entah beberapa bulan setelahnya, setelah tak ada lagi yang kamu ‘cari’ pada kekasihmu, kami, temanmu, ingin bertanya, apakah kamu masih bisa melakukan semua ini?

Jangan terlalu cepat untuk menyimpulkan, kawan.

Perasaan ada, karena penasaran.

Sabtu, 13 Desember 2014

Ngomongin Film: Stand By Me Doraemon

Standard
Pertama kali diumumkan film Doraemon (yang katanya serial terakhir), diberikan kesan kalau film-nya bakalan sedih. Ditambah lagi dengan tagline-nya "Sedia tisu yang banyak". Dalam pikiran gue pas ngeliat itu semua: Gila! Ini bakalan ada adegan yang mengharukan banget nih! Siapa nih yang berani-beraninya ngehamilin Doraemon?



Respon dari masyarakat begitu film-nya release pun gila-gilaan. Gue liat di Twitter, katanya, di mana-mana bioskop penuh. Antrean tiketnya mengular. Nassar ingin bercerai. Gue jadi penasaran sama film-nya. Kira-kira kayak gimana sih film-nya?

Gue dari dulu emang suka banget sama film Doraemon. Jadi begitu pengin nonton film-nya, ada ekspektasi yang tinggi dengan film ini. Orang katanya film terakhir gitu lho. Masa nggak seru. 

Dari awal film-nya mulai, gue menikmati jalan ceritanya. Suatu ketika gue ngeliat jam, "Waduh, udah jam lima lewat lima belas nih (gue nonton jam setengah lima), mana konfliknya???". Struktur pembuatan film (menurut gue yang sotoy ini) biasanya terdiri dari: awal (biasanya di bagian ini perkenalan tokoh-tokoh, dan apa yang diinginkan tokoh utama dalam film ini) ---> masuk ke konflik (dia pengin ngelakuin apa yang dia inginkan, tapi terbentur masalah) ---> ending. Gue nggak melihat sama sekali ada konflik yang kuat di dalam film ini. Premis yang gue dapatkan dari film ini adalah seorang remaja culun yang ingin mengubah masa depannya. Tapi konfliknya nggak kuat. Kenapa gue bilang nggak kuat? Di sini Nobita pengin mengubah masa depannya. Yang pertama masa depan nasibnya (harta dan keluarganya), yang kedua istrinya. Yang menjadi poin penting adalah:

PERTAMA. Di awal, nasib Nobita di masa depan diperlihatkan seperti ini (gue nggak mau spoiler), tapi di akhir? Nggak diliatin.

KEDUA. Di awal, Nobita nikah sama si ini, tapi di akhir? Ya sesuai dengan keinginannya, TAPI, untuk mendapatkannya, bagi gue sangatlah mudah. Semua berjalan mulus. Inilah letak kelemahan konfliknya.

Misal, bayangin Nobita pengin beli kue rangi dari Bogor ke Tambun. Di film ini, yang gue tangkap si Nobita ke sana naik bis, dan di jalan, bisnya kena tilang gara-gara spionnya berbentuk limas, lalu sehabis damai sama polantas, jalan lagi, trus sampe deh. Simpel. 

Coba bayangin kalau si Nobita pas naik bis menuju Tambun, di jalan dia nyasar, yang tadinya pengin ke Tambun, malah ke Honduras. Ternyata dia naik bis yang go internasional. Kalau gini, bakalan lebih menarik kan ceritanya? Penonton pasti akan bertanya-tanya: "Wah, gimana ya dia bisa balik lagi ke Tambun? Berapa kali nanya penjaga warung, ya?" yap, ini yang gue kecewa dan kecewe sama film-nya. Kenapa konfliknya nggak menonjol.

Kalau gue tangkep, si pembuat film hanya ingin menonjolkan sisi sedihnya aja dengan si Nobita yang kehilangan Doraemon. Tapi menurut gue, sedihnya malah nggak dapet. Di awal emang sih, karakter Doraemon ini diperlihatkan sebagai robot yang benar-benar berguna untuk Nobita, tapi di akhir-akhir, jalan ceritanya kurang menunjukkan kalau Nobita itu nggak pantas kehilangan Doraemon. Penonton kurang dibuat sampai ngomong "Ya ampuuun, Doraemon jangan ninggalin Nobita dong. Kalian tuh cocok, masa pisah, sih" atau sejenisnya yang mengungkapkan kesedihan penonton sekaligus penyesalan kenapa Doraemon harus ninggalin Nobita.

Tapi dari sisi komedi, lumayan lucu. Muka Nobita-nya ngeselin. Tapi itu tadi, gara-gara opininya digiring ke film yang sedih-sedihan, jadi pas dimasukin unsur komedi, malah nggak pas. (ini menurut gue sih. Hueuheuehuhe) Terutama di bagian yang sebenarnya sukses membawa penonton ke suasana sedih, tapi sayangnya malah diselipin komedi. Ibaratnya barusan mau netesin air mata, eh, malah dibikin ketawa.

Dan yang paling gue bingung............. KENAPA DI PATH PADA UPDATE KALAU FILM-NYA SEDIH BANGET YA???! Apa selera sedih gue yang cemen? 

Beklah, sekian~ semoga bermanfaat~ semoga tulisan gue nggak termasuk spoiler ya~ tapi emang nggak sih~








Senin, 17 November 2014

Ngomongin Film: Hantu Juga Selfie

Standard
Sekian lama nggak ngikutin perfilman Indonesia, kali ini gue kembali dibikin shock. Kemarin, pas gue mau nonton, dari kejauhan terlihat poster cukup besar yang dipajang di depan mbak-mbak penjual tiket. Berambut panjang, berbaju putih, serta lumuran darah yang ada di sekitarnya bikin gue penasaran buat ngedeketin posternya. Gue pengin nonton. Udah lama nggak nonton film horror. Tapi, begitu udah dekat, GLEG.

Gue mundur perlahan. Moonwalk sampe ke parkiran.

Kacau, ternyata judulnya Hantu Juga Selfie dengan gambar hantu yang lagi nyengir sambil megang hape.

Yang ada di bayangan gue pas ngeliat posternya dari dekat, gila, ini hantu modern banget. Udah mati aja masih sempet-sempetnya mikirin duniawi. Entah gimana jalan ceritanya. Tapi pas gue liat trailer-nya, hantunya selalu muncul kalau ada orang yang lagi selfie. Kacaaaau. Entah apalagi cerita yang ada di dalamnya, yang jelas, kalau pak ustad mau nangkep ini setan, keliatannya nggak keren banget. Masa yang biasanya kalau nangkep kayak orang lagi berantem sambil komat-kamit, jadi ngeluarin hape, trus selfie.

"Pak ustad, setannya mana nih?"
"Bentar, saya selfie dulu,"

Entah apa penyebab matinya ini setan. Yang jelas, gue nggak ada penasaran-penasarannya sama sekali. Semoga, ke depannya nggak ada film horror yang trendy lagi. Misal, Hantu Kepencet Favorite, hantu yang lagi stalking, taunya kepencet favorite, lalu tewas gara-gara panik. Atau juga, Hantu Juga Pengin Di-ask. Hantu yang meninggal, gara-gara shock Ask.Fm-nya nggak ada yang nge-ask.

Kadang gue mikir, apa ya perasaannya setan di neraka sana, ketika mereka tau nama baiknya tercoreng oleh manusia. Dari yang kesannya serem (kayak film-film zamannya Suzanna), sampai ke sekarang, yang kesannya nggak ada serem-seremnya sama sekali.

Entahlah, segitu dulu. Semoga gue nggak diomelin yang bikin film. Entar kalau ada film yang aneh lagi, tenang aja, pasti gue omongin. 


See you again..

Rabu, 12 November 2014

#AsalUsulAsal "Baper"

Standard
Alkisah hiduplah seorang wanita muda di negeri antah-berantah. Dia dikenal sebagai kembang kerajaan di sana. Dengan sepatu kacanya, dia menapakki sepetak demi sepetak pemukiman warga. Tak heran, semua lelaki melongok-kagum memerhatikan paras wajahnya. Beliau kerap disapa Princess. Princess Komariah.

Princess Komariah ialah sesosok putri raja yang amat cantik, juga amat sederhana. Meskipun dia putri raja, tak ada sedikit pun pengawal kerajaan yang mendampinginya. Wanita yang memiliki hobi blusukan ini, kerap disapa penduduknya, apabila dia sedang berjalan-jalan di pemukiman rakyatnya.

“Mbak Perincess Komariaaah, aku mau selpi dong sama mbake,” sapa gadis desa berkemben yang bertuliskan "Punk Not Dead", seraya mengambil kaca di dalam baskomnya. Dia meminta selfie. Pada zaman ini, selfie merupakan kegiatan mengaca bersama.

“Boleeeeh,” balasnya dengan senyum tipis, sambil merapihkan rambutnya untuk berkaca bersama.

Seperti pada umumnya, si gadis desa pun memulai selfie-nya dengan memberikan aba-aba. “Sijiiiii… loroooo… teeeee….” mereka berpose. “Aaaaaaak! Kok aku masih kalah canti’ sih sama mbak perinces Komariaaah?!” ucapnya dengan logat jawa kental. Si gadis desa kecewa berat, dia memasang muka penuh dengki.

“Ah, cantikan kamu kokkkk,” Princess Komariah tersenyum, sambil mengelus pipi kanan si gadis desa.

“Ah! Mbak Perincess bohong! Mbak bilang gitu biar aku seneng aja, kan?!” gadis desa itu menghempaskan tangan Princess Komariah. “Enggak, sayang. Bener kok. Kamu cantik. Hehe” Princess Komariah tetap membalasnya dengan senyuman.

“Halah bohong! Ngaku aja!” si gadis desa tetap ngotot. Princess Komariah pun mulai geram dengan tingkah si gadis desa. “Beneraaan, sayaang, kamu cantik kok,” ujar Princess Komariah, kali ini dengan senyum terpaksa.

Si gadis desa tetap keras kepala. Dia berpikiran kalau Princess Komariah berkata demikian hanya untuk menyenangkan hatinya. Padahal, iya. “Halah! Aku tau kok! Jujur aja kali! Aku gak papa kok! Dalam hati mbak perinces, aku jelek, iya kan??!!! Dasar pembual!!!!”

Mendengar ucapan si gadis desa, princess Komariah makin geram, dia mendekatkan wajahnya ke wajah si gadis desa, lalu menarik kerah kebayanya. Anggap saja kebaya punya kerah. “AIHSIANYIIIING! DASAR BATU! WANIAN SIA KU AING?!!!” wajah princess Komariah memerah darah, matanya tajam sambil memancarkan sinar laser. Belakangan diketahui, ternyata princess Komariah titisan temannya Wolverine, Cyclops.

Melihat kemarahan Princess Komariah, si gadis desa pun terkejut. Maag-nya kambuh. Lalu dia pingsan, di pelukan Princess Komariah.

Warga yang menyaksikan dari kejauhan pun langsung bergerumul, lalu bertanya-tanya. “MBAAK PERINCES NGAPAIN DIAAAA??????????!?!” Princess Komariah kebingungan. Dia mencoba menjelaskan, tapi warga enggan percaya. “Ya ampun! Ternyata Mbak Perinces orangnya jahat ya! Dimintain selfie aja marah-marah! Diambil hati banget!  Kami kecewa!” ucap salah satu warga dari kerumunan. “Tuh, Nak! Kamu udah gede jangan kayak si mbak perinces ya! Dikit-dikit diambil hati!” ucap warga yang lainnya, kepada anaknya.

“Iya, jangan kayak si mbak perincess!” warga lain mulai ikut nyeletuk.
“Iya! Jangan kayak si mbak Per!”
“Iya! Dasar mbak Per busuk! Gitu doang diambil hati!” saut warga yang lainnya.

Sejak saat itu, sosok Princess Komariah yang kerap dikenal sebagai sosok sederhana dan rendah hati, dikenal menjadi sosok yang dikit-dikit diambil hati. 

Berhari-hari warga mengucilkan Princess Komariah, sampai-sampai semenjak kejadian itu, warga desa pun membuat kurikulum baru yang berisi tentang pengajaran agar anak-cucunya tidak menjadi manusia yang dikit-dikit diambil hati. Sikap warga pun nggak sampai di situ aja, demi melahirkan generasi yang diharapkan, semua bayi yang baru lahir, dibisiki, “Kamu kalau udah gede, jangan kayak mbakper ya, Nak!”

Mbak Per, Mbak Per, dan Mbak Per. Itulah kata yang selalu diingat oleh warga desa pada abad itu. Hingga kini, istilah itu masih dikenang. Akan tetapi, seiring berkembangnya zaman, pengucapan mbakper terasa sulit, yang kemudian diubah menjadi: “Baper”.

-TAMAT-


Senin, 03 November 2014

Oh, Begini Rasanya Jadi Mahasiswa Tingkat Akhir

Standard
"Aku mau nikah aja!" ucap Euis seraya mengalungkan cerurit ke leher orangtuanya. Perasaan Euis sama kayak kebanyakan cewek di luar sana. Awal masuk kuliah, mukanya keliatan bahagia. Nggak ketinggalan mereka update di semua media sosial, yang menunjukkan dia senang dengan statusnya sebagai mahasiswa. Tapi pas semester 5, dengan entengnya mereka bilang kepengin nikah. Emangnya nikah cuma modal salaman sama penghulu aja.



Belakangan ini gue ngerasain gimana rasanya jadi cewek. Kalau cewek udah ngeluh mau nikah pas di Semester 5, kalau gue sekarang, pas semester 7. Di sinilah letak perbedaannya. Kalau cewek ngomong "Aku mau nikah aja!", dia bisa bahagia dengan ucapannya, asalkan dia nikah dengan pria-kaya-penyakitan atau dengan pengusaha tua yang sebentar lagi akan tutup usia. Tapi kalau gue yang bilang "Aku mau nikah aja!", nanti anak-istri gue mau dikasih makan apa. Nggak mungkin kan tiap hari gue kasih serpihan besi-besi tua.

"Nak, tebak mamah hari ini masak apaaaa? Yak! Pager baladoooooooooo"

Gue juga pengen, ketika udah nggak kuat sama kuliah, tiba-tiba bertemu dengan janda-tua-kaya kalah taruhan, yang bersedia menikahi mahasiswa paruh-baya tampan adanya (((tampan adanya))). Lalu ketika malam pertama, gue penggal kepalanya.

Horeee, gue kaya raya...

Semester 7 benar-benar mengetes kejiwaan kita. Nggak, nggak kita, mungkin gue doang. Kalau semester-semester sebelumnya bisa leha-leha (eh apa cuma gue doang yang leha-leha?!), sekarang udah enggak. Urusannya udah banyak. Mulai dari tugas bikin laporan yang kayak skripsi, presentasi, kerja praktek, kerja beneran, dan seabreg kerjaan yang lainnya. Belum lagi ngeliat temen yang udah pada ngambil skripsi, rasa-rasanya kayak cuma kita yang ganteng, yang lainnya jelek. Nggak nyambung emang, bodo.


Karena jadwal emang lagi hectic banget, makanya banyak kerjaan sampingan gue jadi terlantar. Kayak buku, nge-blog, bahkan ngetwit (ini juga termasuk kerjaan). Buku yang dijadwalin September terbit aja, sampai sekarang belum terbit, dan masih berbentuk draft 1. Yang artinya, perlu berkali-kali revisi lagi untuk bisa terbit. Pffftttt... semoga gue sanggup ngelarin dan bukunya jadi terbit deh. 

Aminin dong aminin..

Jumat, 03 Oktober 2014

Misteri Model Bungkus Rokok

Standard
Menjadi orang terkenal keliatannya menyenangkan. Setiap ke suatu tempat, setiap bertemu dengan seseorang, sudah bukan hal aneh lagi orang tersebut mendapatkan senyuman, sapaan, bahkan permintaan untuk foto bersama. Gue sering ngebayangin gimana kehidupan sehari-harinya penyanyi cantik idaman semua pria, Raisa. Tiap selesai makan di warung, mungkin dia nggak perlu buka dompet. Tapi cukup mengibaskan rambut dengan tatapan sayu, jilat-jilat-gigit bibir bagian bawah, lalu bilang gini ke abang-abangnya, “Semuanyah berapah, mas?”

Kemudian gratis.

Hampir semua laki-laki menjadikan Raisa sebagai pacar imajiner. Hampir tiap minggu gue selalu menemukan foto Raisa di Path, yang dijadiin meme sama orang-orang. Nggak kebayang kalau dia pergi ke suatu tempat. Berapa orang yang minta foto bareng sama dia. Mungkin setiap merem, pas melek lagi udah ada orang lagi yang muncul sambil nenteng-nenteng kamera.

Untung waktu jadian, gue sempet foto bareng.

Romantis...

Kenangan terindah...

Mungkin semua orang sepaham kalau tiap artis, penyanyi, ataupun model, kalau ke mana-mana selalu dipandang ‘wah’ sama orang-orang. Tapi setelah gue pahami, apa orang yang jadi model di bungkus ini juga diperlakukan sama dengan yang lain?


Di mana-mana setiap gue pergi, gue selalu nemuin foto orang ini di bungkus-bungkus rokok ternama. Mungkin hal ini merupakan hal yang baru di kancah industri kreatif. Di saat Raisa mengawali karirnya dari panggung ke panggung, Raditya Dika mengawali karirnya dari tulisan ke tulisan, dan orang ini, mengawali karirnya dari bungkus ke bungkus. Yang parahnya lagi, dia tampil dengan image sebagai penghilang nafsu ngerokok. Bayangin, penghilang nafsu ngerokok. Musuhnya para perokok.

Lantas muncul pertanyaan dalam diri gue: siapakah orang di model ini? Siapakah orang yang tega ngebohongin dia sampai mau ada di bungkus rokok seperti ini?

Kalau dibayangin, mungkin sebelum dijadiin model bungkus rokok, terjadi percakapan seperti ini antara dia dengan agensi iklan rokok.

“Mas, mau jadi model saya, nggak?”

“WAH! Mau mas! MAU! Tapi model buat apa ya?”

“Buat nakutin orang,”

Jadi model bungkus rokok emang nggak ada yang salah, tapi kalau tujuannya buat nakut-nakutin orang, kebayang nggak sih kehidupan sehari-harinya gimana. Kita tau sendiri perokok di Indonesia banyaknya minta ampun. Semua kalangan rata-rata ngerokok. Mulai dari pelajar, sampai preman. Dan dia, muncul sebagai penghalang buat ngerokok. Kan kalau dibayangin kasian. Di saat model-model lain kalau jalan dimintain foto, "KAKKK! Kakak yang di iklan ini kan, ya?! Aaaaak! Foto bareng dooong!" kalau dia malah diteriakin, "OH! JADI ELO PENGHILANG NAFSU NGEROKOK GUE?!", atau, "DASAR BAJINGAN!!!", atau mungkin yang lebih parahnya lagi, setiap dia lewat perkampungan, dianya digebukin preman gara-gara emosinya nggak bisa ditahan lagi.

Setelah gue cari info tentang siapa dia, asalnya dari mana, nggak ketemu. Mungkin dia diisolasi pabrik rokok, biar nggak dimutilasi masyarakat.

Tapi pas tadi gue iseng-iseng searching di internet, gue baru tau kalau dia ini model iklan Djarum 76 yang terbaru.

Nih videonya:



Entah di iklan ini beneran dia atau bukan, yang jelas, gue yakin hidupnya nggak tenang kalau lewat pemukiman warga dan warung-warung tongkrongan anak STM.

Ada yang tau dia siapa, nggak? Gue penasaran...

Jumat, 12 September 2014

Tiwi, Jangan Bete!

Standard


Social media adalah salah satu wadah untuk memperbanyak teman. Mau kita kenal atau enggak, yang penting add dulu, siapa tau aja nantinya bisa lebih dari teman. Pertama kali gue berkecimpung di dunia socmed, socmed yang gue mainin adalah Friendster. Dulu zamannya Friendster, orang-orang masih terjerat dengan rezim alaynisme. Gue inget banget, pas zamannya Friendster, alay-alay saling menunjukkan bakat kealayan mereka masing-masing. Dikasih nama bagus-bagus orangtua "Wahyu Kartadi", malah masang nama "Mbonz". Hahahaha alay! Termasuk gue.

Makin ke sini muncul lagi socmed baru, namanya Facebook. Di Facebook, alay-alay perlahan memudar. Yang tadinya di Friendster pake nama samaran, di Facebook jadi pake nama asli, dan lengkap.

Pas ada Facebook, gue jadi rajin online. Temen SMA gue suka pamer kalau temen di Facebook-nya berjumlah ribuan. Dan saat itu, gue cuma empat puluh lima. Empat puluh temen sekelas, limanya lagi keluarga gue. Itu juga akun nyokap, gue yang megang.

Gue jadi terpacu buat banyakin temen di Facebook. Setiap ketemu temen, pertama kali yang gue tanyain Facebook. Setiap ketemu kenalan baru, yang gue tanyain Facebook. Bahkan, pas gue ngeliat tulisan nama orang di tembok kamar mandi sekolah aja, temboknya langsung gue coret, "Nama lo nggak penting! Facebook! Facebook lo apa?!".

Singkatnya, Friends gue mencapai ribuan. Baik yang dikenal, ataupun enggak.

Tadi pagi sehabis kuliah, gue iseng ke perpustakaan buat internetan. Buka Facebook. Di sana internetnya kenceng banget. Lagipula, udah lama juga gue nggak pernah buka Facebook.

Gue scroll newsfeed sampai bawah. Terus nge-scroll. Dan teruuuss sekiranya telunjuk gue udah muter 7 kali. Suatu ketika, gue ngeliat orang ini di Facebook.


Jeng jeng jeng!

Astaghfirullah! Tiwi?! Kamu kenapa?!

Dada gue langsung berdegup dengan kencang. Lidah membeku. Keringat dahi mengucur deras. Gue sontak memikirkan keadaan Tiwi. "TIWI! KAMU KENAPA?! BETE?! BETE KENAPA?!" 

Gue mondar-mandir nggak karuan. Gue mencoba menghubungi nomor darurat 911. Belakangan baru sadar, handphone gue ketinggalan di kelas. Gue bergegas berlari menuju kelas yang berada di lantai 7. Sialnya, lift kampus sedang dalam perbaikan. Mau nggak mau, gue harus menaikki anak tangga. Ya, semuanya demi Tiwi. Gue nggak mau Tiwi kenapa-napa. Gue nggak mau Tiwi bete tanpa alasan yang jelas. Gue nggak mau Tiwi menyendiri di sudut ruangan, sambil membuat lingkaran besar-lingkaran kecil di lantai dapur rumah tetangganya.

"Halo, Mas. Apa benar ini nomor darurat?!" tanya gue dengan nada suara yang tak beraturan.
"Ya, betul. Ada yang bisa saya bantu, Mas?" jawab seseorang dengan nada suara kebapakkan.
"TIWI DI MANA?! TIWI KENAPA?! APA YANG SEBENARNYA TERJADI DENGAN TIWI?! TIWI MANA MAS?! TIWI MANA?????!"
*tut tut tut* 

Koneksi telepon mendadak terputus. Gue makin panik. Jangan-jangan Tiwi tau apa yang gue perbuat, lalu nyamperin mas-mas darurat-nya, memotong kabel teleponnya, kemudian melilitkan potongan kabel tersebut hingga akhirnya si mas-mas darurat tewas seketika.

Gue bergegas kembali membuka profile Tiwi. Hanya ini yang bisa gue lakukan. Ya, menginvestigasi sendirian. 

Dan sesaat kemudian, gue menemukan statusnya.


Apah?! Berantem?! OH! Jadi Tiwi bete karena berantem?! Siapa yang berantem, Tiw?! SIAPA??!

Gue makin penasaran dan melanjutkan investigasi. Meskipun nggak kenal, gue nggak mau Tiwi kenapa-napa. Ingat, satu teman Facebook sangat berharga buat gue. Sungguh. Gue nggak mau kehilangan Tiwi.

Sesaat kemudian, gue menemukan bukti yang terbaru seputar misteri betenya Tiwi...


ASTAGA! Maaf?! Kamu salah apa, Tiw?! Kamu nggak salah! Aku yang salah! Lantas, Andre itu siapa?! Dia yang bikin kamu bete??! IYA???!

Darah gue perlahan mulai naik. Gue nggak terima Tiwi diperlakukan sampai bete. Gue nggak tega ngeliat cewek dikecewakan oleh laki-laki. Kalau sampai Andre pelakunya, gue bersumpah di atas nasi uduk yang telah ditaburi bawang goreng, gue akan mencari orang yang bernama Andre!

Misteri betenya Tiwi bagaikan teka-teki yang harus gue pecahkan. Kalau sampai enggak, orang yang pertama kali menyesal adalah gue. Gue nggak mau besok-besok Tiwi sampai ganti nama menjadi: Tiwi Bete Mau Mati Aja atau Tiwi Lelah Dengan Kehidupan Ini Mati Aaah.

Gue tetap meneruskan investigasi. Hingga akhirnya, menemukan ini...



DUAR!

Ternyata Tiwi sedang dilanda kegalauan yang maksimal. Dia didekati oleh banyak pria. Dimas Ekonomi, Dimas Hukum, Anggara, beserta 7 pria lain yang tidak disebuti namanya. Menurut hemat saya, semua pria ini mendadak mengatakan cinta kepada Tiwi. Karena bingung, Tiwi pun bete.

Gue mencoba care sama Tiwi dengan menanyakan ada apa dengan dirinya. Tapi apa daya, comment gue nggak berbalas. Gue mulai pasrah. Mau ngehubungin mas-mas darurat, tapi dia udah tewas. Gue jadi sadar kalau hidup memang keras. Hari ini benar-benar hari terpahit sepanjang perjalanan hidup gue.

Tapi gue nggak boleh nyerah. Nyerah tanda kalah. Kalah tanda tak menang. Tak menang tanda kalah. Gue harus meneruskan investigasi ini sampai titik darah penghabisan.

Dan akhirnya, setelah menghabiskan berliter-liter keringat bercampur airmata, gue menemukan jawabannya.


Ternyata, penyebab betenya Tiwi adalah Dimas dan Andre. Kini, Tiwi memilih untuk sendiri daripada harus memilih di antara keduanya. Mungkin dia berpikiran kalau lebih baik nggak dengan siapa-siapa tapi tenang, daripada dengan salah satunya, tapi ujung-ujungnya nggak tenang gara-gara diganggu oleh pihak yang lain.

Ummm... Tiwi, aku terharu. Kamu keren. Aku juga.

Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari kisah mengharukan Tiwi. Ya gue pribadi semoga aja, Tiwi lekas menemukan belahan jiwa yang terbarunya, lalu mengganti namanya menjadi Tiwi Bahagia.

Tiwi, kamu pasti bisa. Cheers.

Senin, 26 Mei 2014

Apa Itu Tongsis?

Standard
Apa itu tongsis? Sesuatu yang keluar dari sela-sela mulut? Jelas bukan, itu tonggos. Hari ini gue bingung mendeskripsikan benda ini ketika ditanya sama kenalan baru gue di Malaysia. Awal kejadiannya, gue baru nyampe di Malaysia tadi siang pukul 13.00 (di Malaysia pukul 14.00). Karena bokap sibuk kuliah, gue memutuskan buat jalan-jalan sendirian, SENDIRIAN, ke Menara Kembar. Ya, namanya Menara Kembar, menara yang hingga kini gue belum tau pasti yang lahir duluan itu bangunan kanan, apa bangunan kiri. Apa jangan-jangan mereka bukan kembar? Apa jangan-jangan mereka sengaja ditukar? Entahlah. Hanya Nikita Willy yang tau.

Menara aja gandengan ya..

Dari awal nyampe Menara Kembar, gue udah nenteng-nenteng tongsis dari seberang jalan. Dari kejauhan, gue ngeliat tiga cewek. Mereka lagi asik foto-foto. Karena ada yang mukanya lucu -dan mumpung gue belum ada yang punya-, gue pergi ke dekat mereka dengan niat foto-foto di depan Menara Kembar, pake tongsis. Gue pun foto. Dan ternyata mereka ngeliatin. Ngeliatinnya sambil malu-malu. Dan sesekali mereka juga kepergok motoin gue diem-diem. Mereka pengin nyamperin gue, tapi kayaknya nggak ada yang berani. Akhirnya gue samperin.

"Hello, you guys are cute. Where do u come from?" tanya gue senyum, dengan tingkat ke-cool-an maksimal. 
"Haiiiiii," mereka nyengir kesenengan gegara gue samperin, "We came from China. Hik. Hik. Hik." yang baju belang langsung ngedeket. Gue makin kegeeran. Gue makin merasa cool. 
"Ow, China," kata gue. 
"Umm, btw, i looked you use that thing, and it's so unique. What is it? hihihik. hihihik" cewek yang paling unyu, baju belang, nanya sambil nyengir-nyengir. Gaya ngomongnya ngegemesin.
"Ha? Umm, gimana ngejelasinnya ya, umm, in Indonesia, it called 'Tongsis'" gue nyoba jelasin.
"Thong-shis? What is that?" cewek berambut pendek tiba-tiba nyaut. Padahal awalnya dia salting. 
"Haduuuuuuuh, apa ya," gue mulai bingung. "Something like... like.. i can't describe in english, but, Indonesian people called it tongsis. Hehek."
"Ow, hahaha. This is my first time to see it. And it's really unique. Hahaha." si rambut pendek tertawa kecil, matanya segaris. "Yea, when we saw you brought it, we immediately liked. In my country, there is nothing. Hahaha" sambung si baju belang.

Sial, ternyata mereka dari awal bukan ngeliatin gue. Ngeliatin tongsis.

"Hahahaha kampret..." kata gue. Untung mereka nggak ngerti. "Eiya, what is ur name?"
"Umm, my name is pwen xajskxsjxbasxs" kata baju belang. "My name is xwen asndkasnbcjas" kata rambut pendek. "My name is hbckdscds cbhjcdshj" kata yang satunya lagi.

Jujur, gue nggak tau mereka ngomong apaan. Namanya susah dicerna. Apalagi yang terakhir.

"And you, what is ur name?" kata si baju belang. 
"Me? Satria." jawab gue.
"Hah? Sahriah?" tanya si belang. 
"No... no Sahriah, but Satria." gue nyoba jelasin.
"Syariah?"
"SAT! You can call me 'SAT''. S-A-T!" ucap gue sambil nyari balok kayu.
"Oooh, Sat," akhirnya dia ngerti. "Umm, Sat, may i borrow it to take the photo? Hahaha, i wanna nyobain (gue lupa dia ngomong apa, intinya mau nyobain)" ucap si belang. Ngomongnya salah tingkah.
"Ooh, of course," gue mengiyakan.
Dia pun langsung ngasih kamera-kayak-polaroid-nya ke gue. 
"Put your camera here," kata gue sambil nunjukin letak yang biasanya ditarok hape. Si belang langsung sigap narok kameranya di situ, tapi nggak masuk. Dan gue baru sadar kalau tongsis cuma bisa buat hape.
"Astaga, i'm sorry, i just remembered that tongsis is only can used by iPhone,"
"Hah? Really?" semuanya masang muka kecewa. "Umm, it's okay, but, let me take your photo, and you, you use that thing. Then, i will take the photo. Hihihihi" Dia nyengir. Temennya juga nyengir. Gue serasa lagi dipalak sama encik-encik DVD. "I wanna tell my friends about this. Hihihihi" sambungnya.

Dia bilang mau moto gue, tapi dengan gaya gue yang lagi foto sambil pake tongsis. Buat dipamerin ke temen-temen di negaranya, katanya. Astaga, di China foto gue bakalan disebar. Gue bakalan tenar. Foto gue akan bertebaran di mading-mading sekolahan. 

"Hah? O-oke"

Setelah kemauannya gue turutin, mereka senang.... Gue sedih. Malu. Tapi wajah mereka berseri-seri seolah rakyat dehidrasi yang berkata, "Ya Tuhaaaaaan, terima kasih. Terima kasih telah memberikan sumber mata air ini". Karna udah kelaperan, gue memutuskan buat masuk ke Menara Kembar. Beli makanan. Tapi sebelum masuk, gue mikir kayaknya sayang kalau nggak foto bareng. Setidaknya kan kalau mereka beneran nyebar foto gue, gue juga bisa nyebarin foto mereka di bawah-bawah fly over.

"Umm, before i go, would u guys to take a photo with me?"
"Waaaaah, of course! But, use thong-shis ya," kata mereka sambil nunjuk-nunjuk tongsis. Lagi-lagi yang baju belang yang paling semangat.

"One... Two... THREE!" saut beberapa bule yang lagi ngeliatin kita foto-foto. Mereka keliatannya juga baru pertama kali ngeliat tongsis. Gue dikerubungin. Kayak korban kecelakaan.

Gue pun foto. Dan nggak cuma foto, gue video-in sekalian. Tadinya niatnya diem-diem biar kayak Selfie With Stranger, eeh, malah ketawan.

"Wah, ada tongkat ajaib. Bisa manjang sendiri."
Bonus foto Andrew Garfield. Semoga pada nggak mual.
Dan ini video-nya: klik.

Ternyata bener. Kalau orang udah (keliatan) tertarik sama kita, kalau kita respon balik, pasti ujungnya enak. Coba kalau seandainya gue gengsi. Pasti ujungnya nggak akan gini.

Jumat, 11 April 2014

Tragedi Ujian Nasional

Standard
Sebentar lagi ujian nasional. Kalau mendengar kata ujian nasional, gue jadi bernostalgia ke zaman di mana ketika gue ngalamin hal ini. Mulai dari berangkat pagi-pulang sore buat belajar, sampai rumah belajar lagi sampai tengah malam, kalau mau ke mana-mana selalu megang buku, kalau mau ke luar rumah selalu takut karna udah mau UN. Tapi untungnya, semua hal yang barusan gue sebutin bukan gue yang ngelakuin, tapi temen-temen gue. Gue mana pernah ngelakuin hal kayak gitu. Menurut gue, belajar dengan pola seperti itu nggak baik buat otak manusia, bikin lelah. 

Gue sendiri punya pola belajar yang cukup santai setiap mau ujian. Asumsikan dari 24 jam gue tidur 7 jam, masih sisa 17 jam. Buat mandi, makan, ngusirin semut, totalnya lima jam, masih sisa duabelas jam. Naaah, gue belajar cukup empat jam aja, delapan jamnya lagi main PS. Itu juga dalam empat jam gue belajar, gue suka ketiduran dua jam, ditambah satu jamnya lagi gue suka bantuin nyokap ngangkatin jemuran. Kadang, jemuran tetangga juga suka gue angkat-angkatin. Jadinya, cuma satu jam. Tapi itu cukup kok. Asalkan bener-bener fokus dan masuk ke otak aja.

Tentunya, itu semua hanya gambaran kalau belajar secara over itu nggak baik. Otak manusia kalau terus-terusan dipaksa, otomatis akan jenuh. Dan kalau udah jenuh, apa yang dipelajari nggak akan ada yang masuk. Nge-blank. Maka dari itu, biar nggak jenuh, otak kita butuh yang namanya refreshing. Bentuk refreshing gue sih simple, kalau gak main basket, ya main PS. Bahkan, ngeliat tukang angkot kena tilang aja bagi gue udah refreshing. So, luangkanlah waktu untuk refreshing sesaat. Refreshing bukan berarti harus jalan-jalan, ngabisin duit, bikin kerusuhan, jadi dalang orasi, bukan. Tertawa semenit-duamenit juga salah satu bentuk refreshing kok.


Menjelang UN, biasanya selalu ada fenomena unik yang kerap bermunculan. Mulai dari bio Twitter yang isinya "LULUS UN 2014!", sampai ke status social media yang isinya "Allahuma yassir wala tu'assir". Gue sendiri punya pengalaman yang cukup pahit ketika gue menjalankan ujian nasional. Semua itu bermula ketika gue minta contekan dari sekolah lain. Kampret! Sial banget. Awalnya, gue nggak mau minta jawaban tersebut, tapi, gara-gara temen gue pada bilang, "Mau gak lu, Sat? Lumayan tau, buat nyocokin jawaban," yaudah, gue jadi kepengin juga. Ya kalau dipikir-pikir emang lumayan sih, buat jaga-jaga kalau seandainya nggak bisa. Lagipula, contekannya dari SMA yang terpercaya gitu deh. Makanya gue manggut-manggut aja.

Hari itu, tepatnya hari Selasa, pukul empat pagi, gue udah siap-siap buat berangkat ke sekolah. Tepat pukul lima, tiba-tiba hp gue berdering. Pas diliat, isinya pesan singkat yang isinya jawaban UN dari sekolah yang gue minta tersebut. Setelah mengetahui hal itu, dengan pedenya gue langsung nyalin semua jawaban tersebut, ke kertas kecil. Karena sebelumnya beredar kabar kalau sebelum masuk akan ada pemeriksaan, gue pun berinisiatif masukin kertas yang tadi ke sela-sela ikat pinggang. Kan nggak mungkin dia buka-buka ikat pinggang gue, menang banyak dia. 

Sesampainya di kelas, gue lega. Ternyata nggak ada pemeriksaan. Dan gue inget banget kalau hari itu pelajarannya Biologi. Pelajaran yang paling males buat gue pelajarin. Apalagi bab makhluk hidup yang disuruh ngapalin jenis ordo-nya lah, famili-nya lah, keponakannya lah, tetangganya lah, kalau bab Reproduksi sih nggak masalah. Udah hatam. Lagipula, buat apa coba harus dihapalin, emangnya kalau gue mau beli beras, gue harus bilang, "Beliiiiik.. Ibukkk.. Saya mau beli Oryza Sativa dong! Yang ordo-nya Poales, Famili-nya Poaceae, dan divisi-nya Magnoliophyta ya!" gue jamin kalau gue ngomong kayak gitu, besoknya yang jaga warung bakalan resign dari penjaga warung. Pada nyerah.

Seperti biasa, awal-awal ngerjain soal emang selalu lancar tanpa halangan, tingkat kesulitannya masih mudah. Akan tetapi, sesampainya nomor pertengahan, 18 ke atas, gue mulai bingung ngerjainnya kayak gimana. Gue nyoba ngeliatin sekeliling gue. Gue berharap ada yang nengok ke arah gue. Tapi ternyata nggak ada satu pun yang nengok. Mungkin mereka mual. Semua keliatan asik menatap soal. Entah asik, atau nggak bisa, gue nggak tau persis. Yang jelas, saat itu gue udah nyerah buat ngerjain soal. Gue udah nggak bisa lagi. Gue cuma bisa ngerjain 16 soal dari 40 soal. Dari situ gue baru inget kalau gue punya jawaban. Ah iya, gue kan ada jawaban! Gue pun buka pelan-pelan ikat pinggang gue. Gue ambil kertasnya, lalu, gue selipin ke sapu tangan gue. Pertama-tama gue cocokin jawaban yang udah gue jawab, ternyata sesuai, gue pun makin pede buat ngejawab nomor-nomor selanjutnya. Satu nomor, dua nomor, hingga lima nomor gue kerjain. "Wah, bisa keluar kelas cepet nih" pikir gue saat itu. Tiba-tiba, nggak ada angin nggak ada ujan, gue bersin, 'HATCHIIIIIIIIM!"

Contekan gue jatoh ke lantai.

Temen gue ngeliat, dia panik, gue lebih panik, semuanya panik. Dengan cepat gue ngambil contekan tadi. Awalnya, gue cukup tenang karna pengawasnya nggak engeh kalau contekan gue jatoh ke lantai. Tapi memang, sehabis bersin, suasana kelas jadi mendadak hening, IYALAH NAMANYA JUGA LAGI UN, eh maksudnya, heningnya beda, pandangan semua orang tertuju ke arah gue. Setelah itu gue langsung pura-pura ngambil penghapus. Belakangan baru sadar kalau gue nggak punya penghapus. Untungnya, pengawasnya nggak ngeliat apa yang gue ambil. Yaudah, abis itu gue masukin lagi kertasnya ke sapu tangan.

Here's the problem started.

Beberapa menit kemudian, tiba-tiba pengawas yang berprawakan tua, berhijab, dan bermuka Brimob jalan ke belakang kelas. Ke belakang barisan gue tepatnya. Berjalan cukup cepat, kedua tangan berpegangan di belakang pinggang, pandangan ke lantai, itu semua dia lakuin sehabis tragedi bersin tersebut. Di situ, gue masih belum curiga sama gerak-geriknya. Gue tetap menatap soal dengan posisi sapu tangan terlipat segiempat di sebelah kanan lembar jawaban gue. Lalu, tiba-tiba......... *drum roll* secara mengagetkan dia mengambil sapu tangan gue! Mengguncangkan sapu tangan gue! Dan menjatuhkan jawaban gue! 

"INI APA?! JAWAB!" bentak dia sambil megang kertas.

Sekelas langsung diem, gue diem, Limbad diem.

"INI APA???!" bentak dia lagi.

Gue cuma bisa diem, keringet dingin... but stil cool.

"SAYA CATAT KAMU!" bentak dia lagi sambil berjalan ke depan kelas.

Setelah dia ngomong gitu, gue makin panik. Dan lagi-lagi gue hanya bisa diam elegant. Untungnya, lembar jawaban gue nggak dirobek atau diapa-apain. Cuma contekannya aja yang diambil, sebagai barang bukti katanya. Ya Tuhaaaan, kunfayakun, apapun yang terjadi, terjadilah. Saya pasrah. Saya pasrah kalau nggak lulus gara-gara si Setan Maghrib ini. Pikir gue setelah kejadian itu.

20 menit kemudian, bel berbunyi. Gue yang hanya mengerjakan 24 nomor (yang pasti benar) hanya bisa pasrah. Sisanya, 16 nomor lagi, gue isi secara asal gara-gara udah nggak fokus lagi.

"Bu, jangan dicatet dong. Ehehe," gue nyamperin si ibu ke depan kelas, nyengir. Nyengir stress tepatnya.

"DAPET DARI MANA KAMU?!" bentak dia lagi. 

Karena sebelum ujian gue sempet ngeliat papan daftar pengawas, alhasil, gue jadi tau si ibu ini asalnya dari mana.

"Dari... dari SMA [SMA asal si ibu], bu. Ehehe,"
Mendengar jawaban gue, dia diem, gue lebih diem, Limbad juga tetep diem. Dia pun diam tanpa kata, lalu meninggalkan kelas. Astagaaa, untung gue tau dia pengawas dari SMA mana! gumam gue setelah dia pergi.

Setelah itu, gue langsung dipanggil sama guru-guru sekolah. Dan yang bikin gue tenang, guru-guru gue langsung ngumpul, lalu bilang, "Udaah, tenang ajaaa, nggak usah dipikirin, nggak akan dilaporin kok,"

Gue lega..

Semenjak kejadian itu gue jadi trauma kalau mau nyontek. Kadang, kalau mau nyontek, gue harus geladiresik dulu dari sehari sebelum ulangannya. Kadang, juga minta izin dulu sama pengawasnya.

Tapi, dari postingan ini gue punya sedikit pesan; setiap ujian jangan dibiasain nyontek. Nilai nggak akan ada artinya kalau kita sendiri nggak ada ilmunya. Dan di masa depan, yang berbicara adalah kemampuan, bukan nilai. Kalau udah dibiasain nyontek, sampai kapanpun kebiasaannya nggak akan hilang. Lagipula pas di alam kubur nanti, pas Malaikat nanya, "Siapa Tuhanmu?! Apa Agamamu?!" nggak akan ada lagi waktu untuk kita buat nanya-nanya ke kuburan sebelah. Apalagi Googling.

Buat yang mau UN, good luck!

Note: Jangan nyontek..... kecuali sama yang pinter. Btw, buat yang belum baca postingan tips ujian ala gue, bisa dibaca di sini. ^^

Rabu, 19 Maret 2014

Tips Ujian

Standard
Denger-denger anak kelas 3 SMA lagi pada ujian sekolah? Trus mau menghadapi ujian nasional juga? Astagaaaa, sebagai senior, gue merasa gagal dalam memahami dan membimbing pemuda-pemudi Indonesia untuk meneruskan cita-cita para proklamator. Untuk itu, gue bakalan ngasih beberapa tips, agar ujian kalian jadi lancar dan terhindar dari marabahaya. Ingat, tips ujian ini bukan hanya untuk kelas 3 aja ya. Semua tingkat juga bisa.

Umm... sebelumnya, saya mohon tips ini dibaca dengan serius. Saya lagi nggak mau bercanda. Trims.

1. Sebelum Ujian
Kalau kata orang, sebelum ujian harus belajar dan berdoa. Menurut saya, statement tersebut sangat keliru pada zaman sekarang. Betul, yang anda harus lakukan sebelum ujian adalah menyingkirkan kursi kosong yang ada di belakang kelas. Tau kenapa? Kalau sampai ada kursi kosong yang ada di belakang kelas, ini bisa jadi pemicu pengawas untuk duduk, dan mengawasi punggung anda dengan tatapan tajam. Kalau seandainya ini semua terjadi, lidah anda pasti akan membeku, kepala pun demikian. Atau boleh saja anda menaruh kursi di belakang kelas, asalkan, kursinya kursi pelontar. Jadi, ketika pengawas duduk, DUARRRR! Dia terbang ke langit.

2. Membaca Doa
Setelah menyingkirkan kursi kosong, tahap selanjutnya yang harus anda lakukan adalah berdoa. Kalau kata pesan orangtua, sebelum memulai sesuatu, hendaknya kita berdoa terlebih dahulu agar diberi kelancaran. Betul, jujur, saya termasuk orang yang kalau mau ngapa-ngapain pasti berdoa dulu. Mau makan, doa. Mau tidur, doa. Bahkan, pas mau nyolokin flashdisk aja saya doa dulu. Biar aman.

Nah, yang perlu saya ingatkan kembali, bacalah doa yang maknanya nyambung, tetapi efisien. Jangan sebelum ujian, malah baca doa makan. Atau karna saking semangatnya mau ujian, bacanya surat Al-Baqoroh, terus udahannya dua hari. 

Tenang, doa apapun asalkan niatnya baik, pasti didengar kok oleh Tuhan YME. *kibas jambul*

3. Pengisian Nama
Sebelum fokeus untuk menjawab soal, pastikan dalam pengisian data juga harus lengkap dan benar. Jadi, yang saya harapkan anda mengisi data di kolom nama juga harus benar-benar menggunakan nama lengkap, sesuai dengan nama yang tertera di kartu ujian. Janganlah sekali-kali kalian menggunakan nama samaran, nama panggilan pacar, atau nama kalian yang berlapis nama pacar. Karena ini lembar jawaban, bukan pasir Ancol. Atau buat yang anak alim, janganlah sekali-kali kalian menuliskan nama dengan tulisan "Hamba Allah" atau "No Name", karena ini ujian, gaes, bukan pundi amal.

4. Meminta Jawaban
Tips yang paling penting yang harus anda ketahui setelah memasuki waktu ujian adalah bagaimana caranya meminta jawaban kepada teman secara baik dan benar. Pertama-tama, jangan pernah sesekali anda mencoba untuk meminta izin kepada pengawas, seperti, "Ibu! Bolehkah saya melihat jawaban teman saya?" atau jangan pernah juga sesekali anda bertanya kepada teman anda, tapi menggunakan bahasa daerah masing-masing. Anda menggunakan bahasa Padang, tapi ternyata dia asli Jawa. Tapi cobalah dengan berpura-pura batuk, tapi batuknya sambil nyebutin nama lengkap, seperti, "OHOK-OHOK-SATRIARAMADHAN-OHOKOHOK" atau kalau dia nggak dengar, coba beralih ke teman yang ada di depan anda dengan, "Ssst... ssst.. ssst.." secara halus di telinga kanannya. Kalau sedekat itu dia masih nggak mau nengok, coba dekatkan ke telinga kanannya lagi, lalu bisikan, "Guweh kirah, eloh asik."

5. Memberi Jawaban
Kalau barusan saya memberikan tips tentang bagaimana caranya meminta jawaban, rasa-rasanya kurang pas kalau saya nggak memberikan tips tentang bagaimana caranya memberi jawaban. Yang pertama kali harus anda tanamkan dalam pikiran anda adalah; ikhlas. Kalau anda tidak ikhlas, astagaaaa, jawabannya haram buat yang make. Dosa.

Nah, ketika sudah ikhlas, harap berikan jawaban yang sesuai pada lembar jawaban anda. Jangan ketika teman sedang kesusahan, dan nanya, "Ssst... ssst... ssst.. nomor satu apaaaah?" anda malah menjawab, "Ketuhanan yang maha esaaaah" atau bahkan, "Nomor satuh ituh kamuuuuuuh. <3" 

Dan khusus buat siswa yang berjiwa dagang, jangan pula ketika teman bertanya, "Ssst.. dua?" sambil memberikan isyarat jari, anda malah menjawab, "Dua? Pedes nggak?"

6. Ketika Ditanya Pengawas Kenapa Belum Diisi
Terkadang, ada masanya ketika kita bingung harus mengerjakan apa, dan ketika mencoba bertanya ke teman, tapi si teman malah nggak dengar atau pura-pura nggak dengar. Jadinya? Ya, jawabannya nggak diisi. Mungkin hal ini akan biasa saja ketika pengawas tidak mengawasi lembar jawaban anda. Tapi kalau dia sudah mengawasi, dan bertanya, "Lah? Kok belum diisi? Kamu nggak belajar?!" mungkin ada aura panik yang terpancar dari tubuh kita.

Untuk itu, buat anda yang apabila pada saat ujian mengalami kejadian seperti ini, hendaknya jangan panik. Tapi, anda cukup stay cool dan bilang, "Ibu, untuk masalah jawaban, hanya Tuhan saja yang boleh tau. :)"  #problemsolved

7. Mengumpulkan Lembar Jawaban
Pada dasarnya, pengawas sangat terlihat bahagia ketika anak muridnya nggak bisa menjawab soal, gara-gara soalnya susah. Untuk itu, sesulit apapun soalnya, jangan pernah ketika mengumpulkan jawaban, anda mengucapkan keluhan di depan pengawas seperti, "Aduuuh, ibuuuk! Soalnya kok susah, sih?!" tapi ucapkanlah, "Aduuh, ibuuuk! Saya kira soalnya gampang lho, Bu! Eh, ternyata emang gampang.."

Begitulah sekiranya tips ujian dari saya untuk anda. Semoga, tips yang saya berikan sangat membantu anda dalam mengerjakan soal. Tapi yang perlu saya tekankan, dalam mengerjakan soal hendaknya percaya pada diri sendiri. Jangan terlalu percaya sama teman. Gak baik. Kecuali teman yang pintar.

Anyway, good luck buat kamu-kamu yang lagi ujian sekolah! Semoga sukses!


Minggu, 16 Maret 2014

Hal yang Patut Diperjuangkan

Standard
Di buku Manusia Setengah Salmon karya Raditya Dika, dia mengutarakan dari berbagai kejadian kalau esensi dari kehidupan adalah perpindahan. Apapun itu, mulai dari perpindahan rumah, sampai ke permasalahan paling kompleks di bumi ini, perpindahan hati. Gue sangat setuju sama statement beliau. Ya, esensi dari kehidupan memang perpindahan. Lengkapnya, perpindahan untuk menuju kebahagiaan.

Baru-baru ini gue sempet ngobrol cukup serius sama sahabat gue. Namanya, Rama (nama disamarkan) (suara juga disamarkan), dia sedikit berbagi keluh kesah dengan gue tentang kasus percintaannya dia. Mungkin kalau gue berada di posisi dia, gue juga akan sama persis dengan dia. Sama-sama bingung nanggepinnya gimana. Tapi, hal inilah yang mendasari gue buat bercerita di sini, ya mungkin aja ada yang pernah ngalamin, atau sedang mengalami kasus seperti ini. Jadi, kita bisa saling berbagi argumen.

Bisa dibilang, sahabat gue ini orang yang terlalu selektif dalam memilih pasangan. Beberapa wanita yang dia dekati, selalu mau sama dia. Selalu pengin jadi kekasih dia. Akan tetapi, ketika berada di proses PDKT, dan si gebetannya tersebut sudah mau sama dia, dia sering meninggalkan wanita tersebut dengan alasan, "nggak cocok" sontak gue bingung kenapa nggak cocok, dari dua (kalau dijumlahin, semua gebetannya kira-kira ada 10 lebih) gebetan sebelumnya (yang menurut gue cantik), gue tanya satu-persatu alasan kenapa dia bisa ninggalin wanita tersebut. 

Mulai dari cewek pertama. Cewek pertama, sebut aja namanya A, dia bertemu wanita ini di salah satu ajang turnamen basket di daerah Jakarta. Dia berkenalan, dekat, dan sempat beberapa kali jalan bareng ke sebuah pusat perbelanjaan. Mungkin menurut orang-orang, PDKT adalah hal yang pasti. Hal yang pasti untuk jadian ketika keduanya sudah saling berkomunikasi secara intense dan sudah sering menghabiskan waktu berdua. Tapi untuk dia, hal tersebut bukan berarti sudah diharuskan untuk jadian. Menurutnya, PDKT adalah proses pencocokan yang di mana, ketika sekiranya merasa tidak bagus untuk ke depannya dalam hal proses PDKT, lebih baik berhenti dari sekarang, daripada ketika sudah pacaran, lalu putus di tengah jalan. Dia mencoba untuk mengerti wanita tersebut, sampai akhirnya, dia merasakan kalau wanita tersebut tidak cocok untuk dia. Ya, wanita tersebut memiliki sifat kekanak-kanakan.

Ketika gue tanya, "Kenapa lo nggak mau sama dia? Bukannya cewek emang selalu punya sifat kekanak-kanakan?" Rama menjawab, "Memang, wanita selalu punya sifat kekanak-kanakan. Dan yang lo harus bedain, ada yang kekanak-kanakan dari sananya (memang sifat dasarnya), ada juga yang kekanak-kanakan yang dibuat-buat. Kalau kekanak-kanakan yang dari sananya, gue sangat menerima tipe wanita tersebut. Gue malah suka sama tipe cewek seperti itu, seriously. Tapi dia, kekanak-kanakannya dibuat-buat. Dia pengin keliatan imut di depan gue. Dan gue, nggak suka dengan caranya dia yang dibuat-buat. Gue geli." 

Dia pun ninggalin cewek tersebut.

Sekarang cewek yang kedua. Setelah dia menceritakan dengan panjang lebar ke gue, intinya, dia sebenarnya kenal sama wanita ini udah lama. Udah lama banget. Dan gue pernah ditunjukin fotonya sama dia, menurut gue, ceweknya ini cantik. Cantik, putih, behel, ya pokoknya begitulah. Anak Jakarta banget gayanya. Karena gue penasaran, gue tanya lagi, "Kenapa cewek secantik ini lo tinggalin?" dia menjelaskan cukup panjang lebar ke gue. Singkatnya, menurut informasi teman-temannya, wanita ini memang mempunyai perasaan yang sama dengan Rama. Dia sama-sama suka. Tapi sayangnya, Rama ngerasa kalau dia berjuang sendirian untuk mendapatkan hati si wanita tersebut. Sebenarnya, cinta itu simple, kalau kita suka, kejar. Jangan sesekali mengandalkan gengsi buat memiliki hati orang lain yang apalagi memang kalian suka. Meskipun ada ungkapan, "Aku kan ceweeek.." oke, masih bisa diterima. Mungkin salah satu cara selain mengejar adalah; menunjukkan. Dengan hanya menunjukkan, itu saja rasanya sudah cukup membantu kaum pria yang sedang memperjuangkan kalian. Bukan karena mengandalkan gengsi, lantas kalian berpikir, "Gue kan cewek. Kalau lo mau sama gue, ya kejar. Masa bodo. Ikutin cara main gue." no, big no. Tugas wanita memang menunggu pria, dan tugas pria memang mengejar wanita. Sudah ada peran masing-masing. Tapi, jangan pernah melupakan kalau selain menunggu, tugas wanita yang harus dilakukan adalah; menunjukkan.

Akhirnya, dia ninggalin cewek tersebut dengan alasan; "Gue ilfeel"

Hingga akhirnya, dia menemukan sesosok wanita yang selama ini dicari-cari oleh dia. Ya, namanya Mili (nama disamarkan) (suara juga). Sebelum dia bercerita panjang, terlebih dahulu gue dikasih liat fotonya. Dari sepenglihatan gue, Mili memiliki paras yang cantik, putih, manis, lucu, dan menurut gue emang perfect. Mungkin kalau gue kenal Mili, gue juga bakalan naksir berat sama dia. 

Lantas, gue coba tanya lagi, "Trus, kalau Mili? Apalagi masalahnya, Ram?"

Seketika gue speechless mendengar ceritanya. Rama bercerita, mulai awal dia kenal sama Mili, Mili bisa mengubah dia dalam hal segalanya. Mulai dari yang biasanya nggak pernah begadang, mendadak jadi sering begadang hanya untuk menemani Mili mengerjakan tugas. Mulai dari yang tadinya malas untuk bangun pagi, jadi rajin hanya karena nggak mau keduluan mengucapkan, "Selamat Pagiiiii". Sampai ke hal yang konyol seperti sengaja pulang tengah malam, naik motor, hanya untuk mendapatkan ucapan, "Hati-hati ya di jalan. Udah malem. Baca doa ya.." yang nggak pernah dia dapatkan sama sekali dari orang-orang sebelumnya. Ya, terkadang, hanya karena jatuh cinta seseorang bisa cepat berubah dengan drastis. Bisa melakukan hal-hal konyol yang bisa dibilang di luar akal sehat. Dan bisa juga membuat seseorang tersebut melakukan kegiatan yang sebelumnya belum pernah mereka lakukan. Namun, rasa saling suka dan saling perhatian yang dijalankan oleh Rama dan Mili ternyata nggak cukup buat mereka bisa menyatu. Kenyataannya, Mili sudah terlebih dahulu dimiliki sama orang lain.

Sampai tahap ini, gue kaget. Gue bener-bener kaget. Kenapa Rama bisa ngedeketin cewek, dengan kondisi dia punya pacar. Dia pun menjelaskan ke gue cukup panjang tentang Mili. Awalnya, dia memang nggak berminat sama sekali untuk mengganggu hubungan orang. Sampai akhirnya dia tahu kalau Mili setia terhadap orang yang salah. Dia setia dengan seseorang yang jelas-jelas nggak bikin dia bahagia, bahkan tertekan. Tapi salutnya Rama, Mili bisa menutupi segala tekanan tersebut dengan segala sifat keceriaan yang dia miliki. Itu lah yang membangun pikiran Rama untuk meyakinkan Mili kalau dia nggak pantas dengan orang tersebut, dengan menjadikan dirinya sebagai pilihan Mili. Menurut Rama, Mili lebih cocok dibahagiakan daripada dikecewakan. Dan juga menurut Rama, Mili sebenarnya tertekan, namun, karena bingung harus berbuat apa, Mili pun mencoba setia. Tepatnya, kesetiaan yang salah. Walaupun tindakan Rama penuh dengan resiko, tapi yang sering diingat oleh Rama adalah, "Tidak ada kebahagiaan yang datang tanpa resiko" ya, sesimpel itu pikirnya. 

Gue coba liat chat Rama dengan Mili. Sontak gue kaget. Rama berubah dalam hal chat. Yang biasanya kalau chat cuek, berubah jadi perhatian. Super perhatian. Yang tadinya formatnya dewasa, berubah menjadi kekanak-kanakan. Tapi itu semua, Rama lakukan hanya untuk Mili. Ya, hal yang gue bilang bodoh tersebut ternyata Rama lakuin. Mili memang tipe wanita yang paling beda ditemuin Rama. Rama merasa, Mili benar-benar cocok untuk dia. Semua aspek yang selama ini Rama cari, ternyata semuanya melekat pada diri Mili. "Mili itu lucu, dia berhasil membuat gue selalu semangat, membuat gue selalu tertawa, membuat gue jadi mood buat ngapa-ngapain, dan yang paling gue suka dari Mili adalah; dia menunjukkan ketertarikannya sama gue. Dia nggak menuhankan gengsi. Dia apa adanya. Dia orang yang selama ini gue cari. Dia yang bisa mengembalikan rasa percaya diri gue setelah gue kehilangan orang yang gue sayangi sebelumnya. Ya, dia se-perfect itu di mata gue. Gue nggak akan rela melepaskan orang yang jelas-jelas patut diperjuangkan seperti dia (Mili). Orang yang jelas-jelas sangat bisa dan sangat sanggup buat gue bahagiain. Jadi, selama dia nggak bahagia sama pacarnya, gue bakalan tetap memperjuangkan dia. Apapun caranya." jelas Rama ke gue. Setelah mendengar perkataan tersebut, gue nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Gue cuma bisa berharap sahabat gue bisa jadian sama dia. Walaupun, pada akhirnya hanya Tuhan yang menentukan jalannya.

Namun, semua usaha dan niat Rama pupus ketika dia melihat beberapa hal yang membuatnya untuk mundur mengejar Mili. Ya, kemesraan di social media. Setelah melihat itu, Rama berpikir kalau pemikirannya selama ini salah. Mili ternyata (keliatannya) bahagia. Walaupun belum tau pasti hal tersebut kebahagiaan sesungguhnya atau semu, yang jelas, Rama mempunyai prinsip kalau sampai kapanpun nggak akan mau merusak hubungan seseorang yang sudah jelas-jelas kedua pihaknya saling bahagia. Apapun kenyataannya, itu bentuk pilihan dari Mili. Mili memilih untuk tetap sama dia. Dia yang awalnya Rama pikir nggak bisa bikin Mili bahagia. Walaupun kenyataan itu semua menyakitkan bagi Rama, tapi, Rama mencoba menerimanya sebagai konsekuensi dari tindakan yang telah dia lakukan. Ya, patah hati. Rama pun mundur. Sekarang, Rama hanya bisa berharap kalau suatu saat nanti, dia bisa menemukan Mili-Mili yang lain, yang bisa mengembalikan rasa kepercayadiriannya setelah dia kehilangan orang yang dia sayang sebelumnya.

Begitulah kisah sahabat gue. Gue pun terharu sebenarnya. Cuma, ya mau gimana, kalau keadaan sudah memaksa, nggak akan ada lagi yang bisa menolong. Kalau gue liat dari sisi Mili, dia pasti dilema untuk memilih di antara dengan Rama, atau dengan pacarnya yang sekarang. Karna kalau seandainya Mili memilih dengan Rama, kemungkinan dia akan menanggung beban moral. Di satu sisi dia bisa mengikuti kemauan hatinya (untuk memilih Rama), di sisi lain akan timbul rasa bersalah dari dalam dirinya. Tapi, dari kisah ini gue dapat pelajaran kalau, "Perjuangkanlah seseorang yang memang patut diperjuangkan, meski dipenuhi dengan berbagai resiko. Dan perlu diingat, dalam hal percintaan, hendaknya membahagiakan orang lain, bukan mencuri kebahagiaan orang lain."

Senin, 03 Maret 2014

Mendadak Axel

Standard

Mungkin kemarin ada yang sempet bertanya-tanya, kenapa gue bisa muncul di teaser seri buku #HEARTBREAKERS. Awalnya, gue juga kaget kenapa bisa ditunjuk sama salah satu editor GagasMedia, @Carimichan, sebagai talent dalam teaser novel tersebut. Jadi ceritanya gini, waktu hari apa gitu gue lupa, gue main ke kantor GagasMedia yang ada di daerah Jagakarsa, Jakarta Selatan. Ketika gue lagi ngobrol, santai, tiba-tiba kak Michan (panggilannya @carimichan), langsung nyamperin gue dan nunjuk gue begitu aja buat jadi talent-nya. Talent-nya ya, bukan talent-an. Gue bener-bener kaget kenapa kak Michan langsung nunjuk gue begitu aja. Awalnya, gue kira kak Michan main asal nunjuk gara-gara dia lagi terpengaruh obat-obatan terlarang, jadinya mabok. Tapi ternyata enggak. Setelah gue tanya kenapa gue yang ditunjuk, dia bilang kalau muka gue mirip sama salah satu tokoh yang ada dalam novel tersebut, Axel. Karna gue penasaran, gue tanya aja, "Mirip gue? Mana coba liat gambarnya,". Pas gue liat.... ternyata emang beneran mirip. Tapi tetep, gantengan gue. Abis itu dia nanya lagi, "Gimana? Mau, nggak?" yaudah, karena dia bilang durasi videonya cuma 30 detik, dan katanya gue juga nggak akan acting yang aneh-aneh, akhirnya gue terima tawarannya. Bukannya apa, kalau disuruh acting yang aneh-aneh kayak ngeloncatin lingkaran api, ngebanting sapi jadi abon, nyubit-nyubitin landak, gue juga bakalan mikir buat nerima tawarannya. Setelah gue terima tawarannya, akhirnya gue dikasih jadwal syutingnya. Baru deh abis itu gue pulang.

Sesampainya di hari 'H', gue dikenalin sama yang nge-direct teaser-nya, kak @heykila. Begitu dia nyampe ke kantor GagasMedia, kita langsung take di studio Gagas, di lantai 2. Awalnya, gue bingung kira-kira mau ngapain selama 30 detik di depan kamera nanti. Gue mikir apa jangan-jangan di video nanti bakalan ada adegan gue jadi gembel, ngemis, trus tiba-tiba pas lagi asik ngemis dikasih novel #HeartAttack? Apa jangan-jangan gue syuting cuma diem, didandanin jadi buku, trus gue guling-gulingan dari atas sampe bawah di tangga redaksi Gagas? Gue bener-bener nggak ada bayangan sama sekali tentang acting gue nanti. Tapi setelah dikasih tau kak Michan, akhirnya gue lega karena ternyata gue acting sebagai calon personel boyband (yang punya sifat grogian), yang lagi audisi buat masuk ke dalam boyband #HEARTBREAKERS.

Beberapa jam kemudian, sempet beberapa kali ngulang take, akhirnya syuting teaser-nya kelar. Gue sebenarnya rada ngeri dengan hasil akhirnya. Yang gue takutin, bukunya malah nggak laku gara-gara di teasernya ada muka gue. Kan ngeri aja kalau seandainya bukunya udah tersedia di toko buku, trus pas ada pembaca yang mau beli, tiba-tiba ada mas-mas toko buku yang bilang, "Eh, jangan beli buku yang itu! Modelnya si Satria. Udah, beli buku yang lain aja!" bisa kacau dunia perbukuan. Sebelum bener-bener pulang, gue baru sadar kalau gue nggak tau apa-apa tentang isi bukunya. Yang gue tau, gue harus dateng dengan dandan ala-ala boyband, yang lengkap dengan sisa-sisa ketampanan yang kekal ini. Yaudah, karena penasaran, gue nggak langsung pulang. Gua nanya-nanya dulu ke kak Michan tentang isi novelnya.

Gue yang awalnya nggak suka novel ber-genre selain komedi, mendadak tertarik jadi pengin ikutan baca novel serial #HEARTBREAKERS ini. Gimana enggak, katanya, buku seri #HEARTBREAKERS ini bakalan ada 4 seri. Seri yang pertama, bukunya berjudul Heart Attack, dan tokoh utamanya ya si Axel ini. Secara garis besar, buku Heart Attack ini akan menceritakan tentang bagaimana caranya si tokoh utama, Axel, bisa masuk ke dalam boyband yang bernama #HEARTBREAKERS. Jadi, sebelumnya boyband #HEARTBREAKERS ini emang udah terkenal banget. Terkenalnya udah nggak ada obat pokoknya. Tapi, gara-gara terlalu tenar ini Leader-nya, Dima, malah jadi kena syndrome nervous breakdown. Tau maksudnya nervous breakdown? Jadi, semacam stress yang ditimbulkan gara-gara ketenarannya gitu deh. Dan gara-gara udah bener-bener stress, makanya dia ninggalin #HEARTBREAKERS. Nah, dari sini baru pihak manajemen #HEARTBREAKERS, Popster Entertainment, nyari personel boyband baru lewat audisi-audisi. Nggak tau persis audisinya antar kelurahan atau gimana, yang jelas, dari audisi inilah yang akhirnya mempertemukan #HEARTBREAKERS dengan orang yang bernama Axel ini. Gitu. Tapi, pas gue tanya-tanya lagi isinya apaan aja ke kak Michan, dia bilang, "Isinya? Ra-ha-sia. Beli aja nanti bukunya!" sial, jadi penasaran kan. Yaudalah, karena mau ada acara, abis itu akhirnya gue pulang beneran.

Naaaah, setelah seminggu lebih nunggu, akhirnya minggu kemarin video-nya udah jadi. Awalnya, gue kira hasilnya malah kacau gara-gara gue yang jadi talent-nya. Tapi pas diliat, ternyata hasilnya keren. Gue jadi keliatan lebih ganteng di video-nya. Sebelas-dua belas lah pokoknya sama Herjunot Ali. Gue kira di hasil akhir videonya, muka gue bakalan di-blurin, kepala gue dilingkarin warna merah, trus ada tanda panah dengan embel-embel "Perhatikan gambar berikut ini", tapi ternyata enggak. Alhamdulillah.

Oiya, ngomong-ngomong udah pada tonton teaser yang ada guenya? Nih, kalau belum tonton dulu. Klik di sini. Nanti gue bakalan bagi-bagi 2 novel gratis lho. Lumayan banget. Apalagi buat pelajar yang uang jajannya masih 3000 per hari.

Sabtu, 01 Maret 2014

Thank You, All!

Standard
Thank u, @silabidadari.

28 Februari kemarin, akhirnya gue ulang tahun. Kalau dipikir-pikir udah lama juga ya nggak ulang tahun. Apa ini cuma perasaan gue aja, ya? Serasa udah berbulan-bulan gitu gue nggak ulang tahun. Kalian ngerasa gitu juga, nggak? Apa emang cuma gue sendiri?

Tahun ini emang tahun perdana gue ngerayain ulang tahun sendirian. IYA SENDIRIAN. Biasanya, pada tahun-tahun sebelumnya di tanggal ini selalu ada aja orang special yang menemani gue. Selalu ada aja orang yang ngumpet di kamar gue, bawa kue, kado, trus nyanyi-nyanyi. Kadang, gue suka lupa kalau bumi ini kehidupannya selalu berputar. Di saat seseorang itu punya harta, mungkin suatu saat nanti akan kehilangan hartanya. Di saat seseorang itu punya kemampuan, mungkin suatu saat nanti akan kehilangan kemampuannya. Begitu juga gue, di saat taun-taun sebelumnya ada orang yang menemani, mungkin sekarang emang lagi saatnya gue harus ngerayain ini semua sendirian. IYA SENDIRIAN.

Tapi, kesendirian gue di tahun ini akhirnya cukup terobati setelah melihat ulah temen-temen deket gue dan juga ulah temen-temen Twitter gue. Walaupun gue ngerasa ulang tahun kali ini agak 'sepi', tapi dengan kekonyolan mereka, rasa-rasanya ulang tahun gue di tahun 2014 ini jadi lebih rame. Jadi lebih berbeda. Dari yang biasanya ngerayain ulang tahun perasaannya seneng, terharu, sekarang semua perasaan itu benar-benar berubah. Berubah jadi pengen nampol-nampolin anak orang. Jadi pengen masukin anak orang ke lobang-lobang galian. Jadi pengen ngejitak-jitakin anak orang pake bom molotov. Tapi, ya mau gimana lagi. Sekalipun mau masukin mereka ke alam barzah juga rasanya nggak mungkin. Gue kan nggak tau rumah-rumah mereka. Mau nyewa boneka Voodoo, tapi gue nggak punya kenalan dukun santet. Yaudalah, akhirnya gue cuma bisa sabar aja.

Mungkin kalian bingung maksud dari omongan gue di atas itu apa. Nah, di tulisan ini, gue mau ngasih tau nih ke pembaca-pembaca blog gue, tentang apa aja hal yang kemarin temen gue (maupun temen Twitter), kasih ke gue. Mulai dari mention yang bikin naik darah, sampai ke berbagai kreasi unik, yang menurut gue kado terindah di hari ulang tahun gue pada tahun ini. Nih, langsung liat aja apa yang mereka lakuin.

Dimulai dari mention >>
Kalau diliat-liat, sepertinya dek Tiara ini ngetwitnya pake HP Esia.
Duh dek @Dikkeidwikei, saya jadi bingung mau bilang apa.
Makin nggak ngerti sama @tranitiautami ini.
Dek @NovrianiSijabat, kurang-kurangin ya nonton iklan Dapur Umami-nya.
Dear dek Omika. Sepertinya kamu lagi butuh piknik. Saya saranin pikniknya di kandang komodo aja ya.
Dek Aulia.. kamu bisa panah lambung saya aja, nggak?
Dek Nadya.... INI MAKSUDNYA APA YA?!
Dear Iqbal.... YANG ULANG TAHUN SEBENARNYA SIAPA YA??!
Anita... INI APA SIH??! SEJAK KAPAN SAYA NIKAHIN IBU KAMU!
Dek Pici, Pakde capek, Nak.... MANA ADA YA SURPRISE BILANG-BILANG!
Desi, kamu tau nggak akun yang kamu minta saya ucapin itu akun siapa? ITU AKUN SAYA!
Kalau ketemu orang ini di jalan, tolong masukin ke galian PLN ya! Trus twitpic! IYA TWITPIC!
 BODO AMAT YA SAUDARA YUSUF!
SORRY YA NIKEN! SAYA GAK BISA DIBEGOIN! INI BUKAN GOOGLE YANG NGUCAPIN! INI YAHOO!
TERIMA KASIH YA SAUDARI VALERI! SAYA TERAMAT KAGUM!
Tuh, kesel kan ngeliatnya? Nggak cukup sampai situ aja penderitaan gue. Masih ada lagi orang yang bikin darah gue jadi makin naik. Pada umumnya, orang kalau lagi ulang tahun kan diucapin selamat, trus didoain yang baik-baik kan ya. Eh, kalau yang ini malah nyari koreng.
Tya......... KALAU IYA TRUS KENAPA YA?! ADA MASALAH??!
Tapi di sisi lain, gue seneng. Di hari ulang tahun gue ini, ternyata ada beberapa orang asing yang ikut ngucapin happy birthday juga ke gue, dan mereka ngucapinnya pake bahasa yang beragam. Astagaa, bapake-ibuke di kampoeng harus tau ini tentang berita yang menggembirakan ini.
Bahasa Cina.
Bahasa Jepang.
Bahasa Korea.
Bahasa Mandarin.

Bahasa Jerman.
Bahasa Sunda.
Bahasa Jawa.
Bahasa Binatang.
Bahasa Planet.


Bahasa Alay.








*note: kalau ada nama bahasa yang salah, kasih tau ya.
Mereka semua bener-bener bikin gue speechless. Kecuali, bahasa yang paling akhir. Walaupun gue nggak tau pasti artinya ngedoain atau ngemaki-maki, tapi, gue anggap semua ucapan tersebut memiliki arti yang baik-baik semua. Kecuali, bahasa yang paling akhir. Anyway, makasih ya ucapan dalam bentuk bahasa asingnya, lumayan kan, kalau ada temen gue yang ulang tahun jadi tinggal gue copy-paste lagi aja. Kecuali, bahasa yang paling akhir.

Ummm, nggak cuma dalam bentuk tulisan aja sih. Ternyata, ada juga yang sampe bela-belain ngedit foto, bikin gambar, hanya demi ngucapin selamat ulang tahun buat gue. Astagaaaa, bapake-ibuke di kampoeng wajib tau ini gambare-gambarenya.
Thank u, @intandessyy.
Thank u, @ususwatun_.
Thank u, @CHAREP28.
Thank u, @rindusarah.
Thank u, @idaagstnn.
Thank u, @rzkynndy.
Thank u, @rosyita1106.
Thank u, @uziifauzia.
Thank u, @nurull_96
Thank u, @chrrfntsy.
Tuh dia 10 orang yang repot-repot bikinin gue sesuatu. Padahal, dengan mereka ngabisin waktu dengan bikin-bikin begituan kan berarti nunjukin banget ya. Nunjukin banget kalau mereka jomblo-jomblo kesepian tanpa arah, bak butiran upil yang biasanya nempel-nempel di kolong meja.

Naah, kalau dari tadi ucapannya dalam bentuk hinaan, cacian, dan gambar, buat yang terakhir ini adalah orang-orang yang ngucapin selamat ulang tahun dalam bentuk video. Ada 2 sih sebenarnya, ada yang dari Instagram, ada juga yang dari Youtube. Buat yang dari instagram, yang ngucapin si @miraaamor, dan waktunya tengah malem. Astagaaaa, betapa jomblonya anak ini. Di saat orang lain bangun tengah malem buat telpon-telponan sama pacar, dia malah bikin video. Nih, klik di sini kalau pada mau liat video-nya.

Buat video yang kedua, ini video datangnya dari @CHAREP28. Dia sampe bela-belain bikin video ucapan, yang durasinya sampai 10 menit. Uuuh, keliatan jomblo banget kan, ya? Dan di video ini, ada juga sahabat-sahabat gue yang ikut berpartisipasi dalam pembuatan video-nya. Ada @daraprayoga_, ada @cahgro, ada @AdhieFahmi, dan ada juga @falenpratama. Thank you all! *tinju lengan*


Tuh, itu dia beberapa bentuk ucapan ulang tahun ke gue, yang bikin ulang tahun gue jadi nggak kerasa sepi. Terima kasih semuanya. Terima kasih juga buat yang udah ngucapin via Twitter, Path, Line, Instagram, dan e-mail. Buat yang udah ngucapin via mention Twitter, sorry nggak bisa bales satu-persatu. Bukannya gue sombong atau apa, tapi karena emang mention yang masuk jumlahnya ratusan. Jadi bingung bales-balesinnya gimana. Gitu. Tapi, buat semua ucapan yang masuk udah gue baca semua kok. Nggak ada yang enggak gue baca. Sekali lagi, makasih doanya. Semoga doa yang baik-baiknya terkabul, dan doa yang buruk-buruknya ke kalian aja. Amiiiin.

Akhir kata, thank u all!