Selasa, 19 November 2013

Kalau Zaman Dulu Ada Social Media

Standard
Dari seluruh anggota tubuh manusia, yang nggak pernah berhenti buat beraktivitas itu cuma bagian otak. Setiap jam, setiap menit, setiap detik, otak kita selalu bekerja tanpa istirahat. Mungkin ada saatnya dia istirahat, cuma ya pasti singkat banget waktunya. Kadang gue suka kasian sama otak gue, gue takut banget dia kenapa-napa. Takut dia lelah, takut dia sakit, dan takut dia gak bisa ngapa-ngapain lagi. Suatu ketika ketakutan gue itu berubah menjadi sebuah kekesalan, dan kekesalan ini berujung menjadi sebuah keamarahan. "Kamu itu pemimpin negara! Kalau kamu tidak bisa pimpin tubuhmu sendiri, bagaimana kamu memimpin tubuh dua-ratus-juta orang! Istirahat laaah. Kesehatanmu itu loh, Mas!"

((((Ibu Ainun))))

Semua otak manusia pasti akan terus-menerus berfikir, bedanya, ada yang mikirin suatu hal yang penting, ada juga yang mikirin hal yang gak penting.... ini gue banget. Banyak hal gak penting yang sering gue pikirin, mulai dari gimana caranya Sun Gokong ke barat tanpa nyasar dan tanpa nanya-nanya sama penjaga warung, sampai ke gimana caranya akun @masterlimbad punya followers. Tapi kemarin pikiran gak penting gue itu sempet muncul lagi, dan kali ini mempertanyakan, "Gimana jadinya kalau di zaman-zaman tertentu dulu udah ada social media?"

Agak lama gue memikirkan jawaban pertanyaan gue tadi, saking lamanya, sampe-sampe temen gue bentar lagi udah pada mau jadian dan gue masih.. Masih.. WAH ADA UFO!

Sampai akhirnya gue menemukan jawaban-jawaban kayak gini.

Zaman Wali Songo 
Dari dulu sampe sekarang semua anak sekolahan pasti tau betapa susahnya wali songo nyebarin agama melalui dakwah-dakwahnya. Selain banyak yang gak suka dengan mereka, mereka pun harus berpindah dari satu wilayah ke wilayah terlebih dahulu untuk melakukan dakwahnya. Makanya proses penyebaran agama Islam di Indonesia pun dinilai cukup lama, soalnya banyak halangannya.

Tapi semua itu bakalan sirna kalau zaman dulu udah ada social media, wali songo gak akan lagi kesusahan buat nyebar-nyebarin agama. Pasti dia akan lebih memilih memasang pamflet dan mengumumkan secara serentak lewat akun-akun pribadi Twitter mereka, seperti, "Datang dan saksikan dakwah kami di kota-kota anda! Gratis! Free snacks+sertifikat! More info: +6285656721094"


Zaman Kerajaan
Buat WNA yang lagi baca blog gue, gue cuma mau ngasih tau kalau dulu di Indonesia pas lagi zaman-zamannya banyak kerajaan mereka suka banget perang antar kerajaan. Biasalah masalahnya, gak jauh-jauh dari kekuasaan dan gara-gara diadu domba doang. Banyak banget hal-hal yang dikorbankan sama tiap kerajaan, antara lain biaya perang, perlengkapan perang, dan tentunya.. nyawa.

Coba kalau zaman dulu udah ada social media, gak akan ada itu yang namanya kerajaan kehabisan uang lah, prajurit banyak yang tewas lah, tempat-tempat di kerajaan banyak yang rusak lah. Palingan juga abis quota internet gara-gara twitwar doang.

Kerajaan 1: "Halah, paling males sama kerajaan yang bisanya cuma ngambil hak kerajaan lain doang! #nomention" 
Kerajaan 2: "Beraninya no mention, culun! Mention kaleee kalo berani. Emangnya gue gak tau kalo tweet lo buat kerajaan gue!"
Kerajaan 1: "Ahelaaah, unfollow juga nih!"
Kerajaan 2: "Lah, kita aja belum follow-followan!"

Zaman Perang Gerilya
Menurut gue social media emang membawa pengaruh yang cukup besar untuk perilaku orang yang menggunakannya. Coba bayangin kalau dulu pahlawan-pahlawan bergerilya tapi udah ada social media, apa jadinya coba.
*Lagi sembunyi di hutan*
"Lapor Jendral! Prajurit sudah siap untuk menyerang tentara sekutu!"
"Oke siap laksanakan! Tunggu aba-aba saya selanjutnya!"
"Siap Jendral!"
"Letnan! Ayo kita serang dia!"
"Siap jendral!"
"Eh tapi sebentar dulu Letnan!"
"Siap Jendral! Ada Apa Jendral?"
"Sebentar Letnan! Saya belum check-in location!"
.... Pada akhirnya mereka pun ketangkep.

Mungkin sejak saat itu perang gerilya gak akan pernah tercantum di buku-buku Sejarah anak sekolahan.

Zaman R.A. Kartini
Mungkin banyak yang belum tau asal usul buku Habis Gelap Terbitlah Terang dari R.A Kartini itu kayak gimana. Singkatnya, buku itu berisi curhatan Kartini untuk menyemangati kaum perempuan di Indonesia untuk meraih kebebasan. Dan curhat yang awalnya berbentuk surat-suratan itu ditujukan ke J.H Abendanon yang kemudian dibukukan juga oleh beliau.

Bisa dibayangin, kalau dulu udah ada blog, ibu Kartini sudah dipastikan akan menuliskan curhatan-curhatannya tersebut ke dalam situs blogger. Dari situ dia akan terkenal, followers dia banyak, buku dia akan best seller di berbagai toko buku pedesaan, dan tentunya tawaran-tawaran talkshow dari berbagai kerajaan pun akan banyak yang berdatangan.

Dia meninggal dalam keadaan tersenyum..

Zaman Soekarno
Siapa yang gak tau coba sama presiden pertama Indonesia, Ir.Soekarno. Beliau sangat tenar, bahkan ketenarannya dia pun dikenal sampai ke berbagai belahan dunia. Beliau sangat dikenal dengan seruannya yang berbunyi, "BERIKAN AKU 10 PEMUDA! NISCAYA AKAN KUGUNCANGKAN DUNIA!" tapi sayangnya nyari pemuda zaman dulu itu susah, dan juga beliau pasti sibuk banget sama urusan-urusan negaranya. Coba kalau zaman Soekarno udah ada social media, pasti dia akan ngetwit, "Dicari 10 pemuda cinta tanah air, setia, dan berpenampilan menarik! Tolong bantu RT!"

Sekian dan terpecahkan sudah misteri-misteri tersebut.